KEHAMILAN EKTOPIK

Posted in KEBIDANAN on Februari 23, 2010 by cyntaa

  1. Definisi

Kehamilan ektopik adalah kehamilan ektopik terjadi kalau ovum yang sudah dibuahi tertanam bukan pada daerah kavum uteri.

Kehamilan ini jarang dapat berlanjut lebih lama dari 6- 10 minggu karena salah satu hal berikut ini : lokasi tidak sesuai bagi pertumbuhan plasenta yang memuaskan atau tidak adanya tempat yang cukup untuk menampung kehamilan yang berkembang

  1. Lokasi implantasi ektopik

Kehamilan ektopik dapat terjadi pada :

-          Tuba fallopii

-          Serviks

-          Kavum abdomen

-          Ligamentum latum

Sejauh ini kehamilan tuba adalah jenis kehamilan ektopik yang paling sering ditemukan dan merupakan salah satunya kehamilan ektopik yang akan dibahas secara rinci disini. Kehamilan abdominal sangat jarang berlangsung sampai aterm sehingga harus dilahirkan dengan laparatomi. Plasenta akan menempelkan diri pada organ apapun yang dapat memasok kebutuhanya dan pengangkatan plasenta pada kehamilan abdominal akan menimbulkan permasalahan serius, khususnya bahaya perdarahan.

  1. Patofisiologi

Kehamilan tuba akan menghasilkan salah satu dari tiga hasil akhir ini

-          Kematian ovum dalam stsdium dini . Ovum inin kemudian bisa diabsorpsi seluruhnya atau tetep tinggal sebagai mola tuba.

-          Abortus tuba yaitu hasil akhir yang paling sering ditemukan bersama- sama ovum ( dan kemungkinan darah )  akan dikeluarkan dari tuba untuk masuk kedalam uterus atau keluar kedalam kavum peritoneum. Kejadian ini biasanya mengakibatkan kematian ovum . Kadang – kadang ovum tersebut tertanam kembali dan berkembang menjadi kehamilan abdominal sekunder.

-          Ruptura tuba , erosi dan akhirnya ruptura tuba terjadi kalau ovum terus tumbuh hingga melampaui kemampuan peregangan otot tuba . Ruptura tuba biasanya disertai dengan rupture salah satu atau lebih pembuluh aneriele yang besar sehingga terjadi perdarahan hebat yang akan mengalir ke dalam kavum deuglasi untuk membentuk hematokel pelvic.

  1. Etiologi

Penyebab kehamilan ektopik ada yang diketahui dan ada pula yang tidak atau belum diketahui . Ada beberapa factor penyebab kehamilan ektopik :

*    Faktor uterus

-     Tumor rahim yang menekan tuba

-     Uterus hipoplasia

*    Faktor tuba

-     Penyempitan lumen tuba oleh karena infeksi endosalfing

-     Tuba sempit , panjang dan berlekuk – lekuk

-     Gangguan fungsi rambut getar ( silia ) tuba

-     Operasi dan sterilisasi tuba yang tidak sempurna

-     Endometriosis tuba

-     Striktur tuba

-     Divertikel tuba dan kelainan kongenital lainya

-     Perlekatan peritubal dan lekukan tuba

-     Tuba lain menekan tuba

-     Lumen kembar dan sempit

*    Faktor ovum

-     Migrasi eksterna dari ovum

-     Perlekatan membrane granulose

-`    Rapid sel devision

-     Migrasi internal ovum

E.  Klasifikasi kehamilan ektopik

1.   Kehamilan tuba

- Intersisial ( 2%)

-  Istmus ( 25% )

-  Ampula

-  Fimbrial

2.   Kehamilan ovarial

3.   Kehamilan abdominal primer dan sekunder

4    Kehamilan tuba ovarial

5    Kehamilan intraligamentar

6.   Kehamilan servikal

7.   Kehamilan tanduk rahim radimenter

  1. Diagnosa dan gejala – gejala klinik

1.   Anamnesis : Amenore, yaitu haid terlambat mulai beberapa hari sampai beberapa bulan atau hanya haid yang tidak teratur. Kadang – kadang dijumpai keluhan hamil muda dan gejala hamil lainya.

2.   Bila KET :

-     Pada abortus tuba keluhan dan gejala kemungkinan tidak begitu berat hanya rasa sakit diperut dan perdarahan pervaginam. Hal ini dapat dikacaukan dengan abortus biasa.

-     Bila terjadi rupture tua, maka gejala akan lebih hebat dan dapat membahayakan jiwa si ibu.

3.   Perawatan nyeri dan sakit yang tiba – tiba diperut, seperti diiris dengan pisau disertai muntah dan bisa jatuh pingsan

4.   Tanda – tanda akut abdomen : nyeri tekan yang hebat muntah, gelisah, pucat, anemis, nadi kecil dan halus, TD rendah / tidak terukur ( syok )

5.   Nyeri bahu : karena pernafasan diafragma

6.   Pada pemeriksaan dalam, adanya nyeri ayun pada persio dan perviks ibu

7.   Pervagmam keluar desidual cast

8.   Pemeriksaan laboratorium, HB menurun, adanya lekositosis

9.   Kuldosentesis

Untuk mengetahui adakah darah daram kavumdouglasi bila keluar darah tuba berwarna coklat sampai hitam yang tidak membeku

10.  Diagnistik laparoskopik

11.  Dengan USG

Diagnosa banding

-          Abortus biasa

-          Salpingitis akut

-          Apendiksitis akut

-          Ruptur korpus luteum

-          Torsi kista ovarium

-          Mioma submokosa yang terpelintir

-          Retrofleksi uteri grafida inkarserata

-          Ruptur pembuluh darah mesenterium

G.  Penanganan

1.   Penderita KET harus dirawat inap dirumah sakit untuk penanggulanganya

2.   Bila wanita dalam keadaan syok, perbaiki keadaan umumnya dengan pemberian cairan yang cukup ( dextrose 5 %, glukosa 5%, garam fisiologis ) dan transfuse darah

3.   Setelah diagnosa jelas atau sangat disangka KET dan keadaan umum baik segera lakukan laparatomi untuk menghilangkan sumber perdarahan dicari diklam dan dieksisi sebersih mungkin kemudian diikat

4.   Sisa – sisa darah dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin supaya penyembuhan lebih cepat

5.   Berikan anti bodi yang cukup dan obat anti inflamasi

H.  Komplikasi

1.   Ruptur tuba, perdarahan

2.   Infeksi

3.   Sub ileus karena masa pelvil

4.   Sterilitas

I.    Proknosis

Kematian karena KET cenderung menurun dengan diagnosis dini dan fasilitas daerah yang cukup. Di Rs Primadi Medan selama 1979 – 1981 dari 78 kasus KET angka kematian ibu adalah nihil. Hanya 60 % dari wanita yang pernah dapat KET menjadi hamil lagi selebihnya mandul. Angka kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0 – 14,6 %. Kemungkinan melahirkan bayi cukup bulan adalah lebih kurang 50 %

DAFTAR  PUSTAKA

1.   Muhtar Rustam, Sinopsis Opstetriu ED II, Jakarta : EGC 1998

2.   Varney Halen, Buku saku Bidan, Jakarta : EGC 2001

3.   Varer Helen. Perawatan maternitas. ED II, Jakarta : EGC

ABSES PAYUD?ARA

Posted in Uncategorized on Februari 23, 2010 by cyntaa

rABSES PAYUDARA

Benjolan Pada Payudara

Benjolan pada payudara dapat bersifat jinak atau ganas.
Benjolan payudara jinak relatif tidak berbahaya, sedangkan yang ganas dapat menimbulkan kerusakan jaringan, menyebar ke bagian tubuh lainnya, bahkan menyebabkan kematian.
Oleh karena itu, jika menemukan benjolan pada payudara, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan benjolan yang Anda derita termasuk tumor jinak (benign) atau tumor ganas.

Berikut beberapa jenis benjolan yang dapat ditemukan pada payudara.

Fibroadenoma

Fibroadenoma adalah massa berbentuk bulat, berbatas tegas, kenyal, yang timbul akibat pertumbuhan berlebihan jaringan kelenjar dan jaringan penyambung.
Benjolan ini bersifat jinak dan biasanya tidak nyeri. Benjolan fibroadenoma dapat digerakkan atau akan bergeser jika daerah payudara ditekan.
Fibroadenoma berespon terhadap perubahan hormonal dan cenderung membesar selama kehamilan dan mengecil setelah menopause.
Setiap wanita dapat menderita fibroadenoma, tetapi biasanya paling sering ditemukan pada usia 20 sampai 30 tahun.
Fibroadenoma tidak dapat didiagnosis pasti hanya dengan pemeriksaan fisik saja.
Mammografi dan USG payudara dapat membantu menegakkan diagnosis, tetapi satu-satunya cara untuk memastikan suatu fibroadenoma adalah dengan pemeriksaan biopsi, yaitu pengambilan sedikit jaringan dengan jarum kemudian diperiksa di bawah mikroskop.
Fibroadenoma dapat menghilang secara spontan.
Tetapi jika menetap, atau semakin membesar, atau penderita sangat khawatir terhadap benjolan tersebut, dapat dilakukan operasi pengangkatan.

fibroadenomas

fibroadenoma

Abses Payudara

Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat suatu infeksi bakteri. Jika bakteri menyusup ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi. Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan bakteri, sel darah putih akan mati. Sel darah putih inilah yang mengisi rongga tersebut.

Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan disekitarnya akan terdorong. Jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan menjadi dinding pembatas abses. Hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Jika suatu abses pecah didalam, maka infeksi bisa menyabar di dalam tubuh maupun dibawah permukaan kulit, tergantung pada lokasi abses.

Suatu Infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui beberapa cara :

Bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka dari tusukan jarum tidak steril.

Bakteri menyebar dari suatu infeksi dibagian tubuh yang lain.

Bakteri yang dalam keadaan normal, hidup di dalam tubuh manusia dan tidak menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.

Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika :

Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi.
Daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang.
Terdapat gangguan system kekebalan.
Abses Payudara merupakan komplikasi yang terjadi akibat adanya infeksi payudara(mastitis).  Infeksi ini paling sering terjadi selama menyusui, akibat masuknya bakteri ke jaringan payudara. Peradangan atau infeksi payudara atau yang disebut mastitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, perembesan sekresi melalui fisura di putting, dan dermatitis yang mengenai putting. Bakteri seringkali berasal dari mulut bayi dan masuk ke dalam saluran air susu melalui sobekan atau retakan dikulit (biasanya pada putting susu). Abses payudara bisa terjadi disekitar putting, bisa juga diseluruh payudara.

Gejala dari abses tergantung pada lokasi dan pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ atau syaraf. Gejala dan tanda yang sering ditimbulkan oleh abses payudara diantaranya :

Tanda-tanda inflamasi pada payudara (merah, panas jika disentuh, membengkak dan adanya nyeri tekan).

Teraba massa, suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak sebagai suatu benjolan. Jika abses akan pecah, maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya menipis.

Gejala sistematik berupa demam tinggi, menggigil, malaise.

Nipple discharge (keluar cairan dari putting susu, bisa mengandung nanah)

Gatal-gatal

Pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada sisi yang sama dengan payudara yang terkena.

Adapun patogenesis dari abses paudara ini adalah luka atau lesi pada putting terjadi à peradangan à masuk (organisme ini biasanya dari mulut bayi) à pengeluaran susu terhambat à produksi susu normal à penyumbatan duktus à terbentuk abses.

Abses dikulit atau dibawah kulit sangat mudah dikenali, sedangkan abses dalam seringkali sulit ditemukan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Jika tidak sedang menyusui, bisa ditemukan mammografi atau biopsy payudara.

Pada penderita abses biasanya pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih. Untuk menentukan ukuran dari lokasi bses dalam, bisa dilakukan pemeriksaan roentgen, USG atau CT scan.

Suatu abses seringkali membaik tanpa pengobatan, abses pecah dengan sendirinya san mengeluarkan isinya. Kadang abses menghilang secara perlahan karena tubuh menghancurkan infeksi yang terjadi dan menyerap sisa-sisa infeksi. Abses tidak pecah dan bisa meninggalkan benjolan yang keras.

Adapun penanganan untuk absees diantaranya adalah :

Untuk meringankan neri dan mempercepat penyembuhan, suatu abses bisa ditusuk dan dikelaurkan isinya dengan insisi. Insisi bisa dilakukan radial dari tengah dekat pinggir areola, ke pinggir supaya tidak memotong saluran ASI.

Suatu abses tidak memliki aliran darah, sehingga pemberian antibiotic biasanya sia-sia. Antibiotic bisa diberikan setelah suatu abses mongering dan hal ini dilakukan untuk mencegah kekambuhan. Antibiotic juga diberikan jika abses menyebarkan infeksi ke bagian tubuh lainnya.

Dapat diberikan parasetamol 500mg tiap 4 jam sekali bila diperlukan.

Dilakukan pengompresan hangat pada payudara selama 15 – 20 menit, 4 kali/hari.

Sebaiknya dilakukan pemijatan dan p emompaan air susu pada payudara yang terkena untuk mencegah pembengkakan payudara.

abscess1

abscess2

w7_mastitis

Cedera Payudara

Cedera payudara misalnya akibat pembedahan atau kecelakaan, dapat menimbulkan gangguan yang disebut nekrosis lemak.
Nekrosis lemak selanjutnya dapat menyebabkan terbentuknya benjolan berupa jaringan ikat yang berbatas tegas, bulat, dan dapat digerakkan. Jika cedera telah lama terjadi, benjolan tersebut biasanya tidak nyeri.
Tetapi jika cedera baru saja terjadi, dapat timbul nyeri dan bengkak pada kulit di atas benjolan.
Benjolan payudara akibat nekrosis lemak biasanya menghilang dengan sendirinya. Tetapi jika benjolan tersebut menetap, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.

g99se24g1a

336139-346529-8841
Tumor Fillodes

Tumor fillodes adalah benjolan payudara yang tidak nyeri akibat pertumbuhan berlebihan jaringan penyambung.
Umumnya tumor fillodes bersifat jinak, walaupun beberapa diantaranya dapat bersifat ganas.
Seringkali, praktisi medis sulit membedakan antara tumor fillodes dan fibroadenoma – bahkan setelah pemeriksaan pencitraan (mammografi atau USG payudara) dan biopsi aspirasi jarum halus.
Salah satu pertanda bahwa benjolan tersebut adalah tumor fillodes adalah pertumbuhannya sangat cepat dan ukurannya yang besar.
Pengobatan tumor fillodes antara lain adalah pengangkatan benjolan melalui operasi. Setelah operasi, kemungkinan kambuh masih ada.

giantfamgc

Papilloma Intraductal

Papilloma intraductal adalah pertumbuhan bukan kanker, berukuran kecil, pada saluran air susu.
Benjolan kecil ini biasanya ditemukan di belakang atau di pinggir puting susu (areola).
Papilloma intraductal dapat menyebabkan keluarnya cairan dari puting susu, baik secara spontan maupun jika benjolan ditekan.
Cairan tersebut seringkali bercampur darah.
Pengobatan biasanya berupa pengangkatan saluran yang terganggu dan pemeriksaan jaringan untuk menyingkirkan kemungkinan kanker.

17077

Kanker Payudara

Kanker payudara adalah benjolan yang bersifat ganas yang seringkali tidak nyeri, teraba keras dan berbentuk tidak beraturan.
Pada perabaan, benjolan ini terasa berbeda dengan jaringan payudara di sekitarnya. Jika benjolan tersebut melekat pada otot dada, maka benjolan tidak dapat digerakkan.
Kulit di atas benjolan mungkin akan tertarik dan berwarna kemerahan.
Ciri lain kanker payudara antara lain adalah keluarnya cairan jernih atau bercampur darah secara spontan dari puting susu, puting susu tampak tertarik, perubahan ukuran dan bentuk payudara, dan kulit payudara seperti kulit jeruk.
Pengobatan kanker payudara tergantung pada jenis kanker, stadium kanker, dan gambaran sel kanker yang terlihat di bawah mikroskop.
Pilihan terapi dapat berupa pembedahan, radiasi, kemoterapi, atau terapi hormon.
Perlu diingat bahwa kanker payudara yang ditemukan pada stadium dini, kemungkinannya untuk berhasil diobati lebih besar ketimbang kanker payudara yang ditemukan pada stadium yang lanjut.

breast_cancer

Kista Payudara

Kista payudara, biasa dalam istilah medis disebut cystic disease of the breast.
Penyakit ini sering timbul di kedua payudara, terasa nyeri, kadang-kadang hebat sekali.
Kista payudara lazim terjadi pada wanita yang masih memperoleh haid.
Nyeri menghebat sebelum atau waktu haid karena tarikan kelenjar payudara yang membesar atau hypertropis.
Kista payudara adalah kantung berisi cairan di dalam payudara, sampai saat ini penyebab utama dari kista belum diketahui secara pasti, tapi untuk sementara penyebab kista diperkirakan karena adanya cedera ringan pada payudara.
Kista paling banyak ditemukan pada wanita yang menjelang menopause, tatapi tidak menutup kemungkinan dapat ditemukan juga pada wanita pasca menopause terutama wanita yang menjalani terapi sulih hormon.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Kista teraba licin, bisa digerakkan, berbatas tegas dan kadang nyeri bila ditekan.
Bila dilihat dari tingkat agresifitas pertumbuhannya, kista ada dua jenis yaitu: Non-neoplastik dan Neoplastik.
Bedanya, non-neoplastik bersifat jinak dan biasanya akan mengempis dengan sendirinya kendati jumlahnya banyak.
Sedangkan neoplastik sifatnya ganas. Untuk mengatasinya jalan terbaik adalah operasi bila dinilai membahayakan kesehatan.
Tapi, bila tidak, masih bisa diatasi dengan jalan terapi biasa.
Pemeriksaan yang biasa dilakukan untuk memastikan adanya kista payudara adalah:
1.Mammografi
2.USG Payudara.
Untuk mengurangi nyeri, cairan dari dalam kista bisa diambil dengan menggunakan jarum.
Jika cairan tersebut mengandung darah, berwarna coklat atau keruh, atau kembali terkumpul dalam waktu 12 minggu setelah cairan diambil, maka seluruh kista harus dibuang melalui pembedahan karena kemungkinan bisa terjadi keganasan pada dinding kista.

by: cyntaa**22/02/2010

Logged in as cyntaa. Logout »

<!–XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

–>

Notify me of follow-up comments via email.

Notify me of new posts via email.

//

//

// <![CDATA[
/* <![CDATA[ */
adminbar=adminbar.replace(/%%BLOGID%%/g, '8243763');
adminbar=adminbar.replace(/%%POSTID%%/g, '175');

adminbar=adminbar.replace(/%%FAVORITELINK%%/, '');

adminbar=adminbar.replace(/%%SEARCHACTION%%/, 'http://id.search.wordpress.com/');
adminbar=adminbar.replace(/%%BLOGHOST%%/g, 'angga6688.wordpress.com');
adminbar=adminbar.replace(/%%BLOGHOME%%/g, 'http://angga6688.wordpress.com');
adminbar=adminbar.replace(/%%BLOGTITLE%%/g, 'Life in my dreams');
adminbar=adminbar.replace(/%%EDITLINK%%/, '

  • ');
    adminbar=adminbar.replace(/%%URL%%/, 'angga6688.wordpress.com/2009/08/04/benjolan-pada-payudara/', 'mg');
    document.write(adminbar);
    if ( document.createElement ) {
    var q = document.getElementById('wpcombar');
    var r = document.createElement('div');
    r.innerHTML = q.innerHTML;
    q.parentNode.removeChild(q);
    r.setAttribute('id', 'wpcombar');
    r.style.zIndex = '1001';
    document.body.insertBefore(r, document.body.childNodes[0]);
    }
    /* */
    // ]]>

    Sistem Anatomi Reproduksi pria

    Posted in Uncategorized on Februari 23, 2010 by cyntaa

    Sistem Reproduksi Pria

    DEFINISI

    Struktur luar dari sistem reproduksi pria terdiri dari penis, skrotum (kantung zakar) dan testis (buah zakar).
    Struktur dalamnya terdiri dari vas deferens, uretra, kelenjar prostat dan vesikula seminalis.
    Anatomi sistem reproduksi pria”>

    Sperma (pembawa gen pria) dibuat di testis dan disimpan di dalam vesikula seminalis.
    Ketika melakukan hubungan seksual, sperma yang terdapat di dalam cairan yang disebut semen dikeluarkan melalui vas deferens dan penis yang mengalami ereksi.

    STRUKTUR

    Penis terdiri dari:

    1. Akar (menempel pada didnding perut)
    2. Badan (merupakan bagian tengah dari penis)
    3. Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut).

    Lubang uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih) terdapat di umung glans penis.
    Dasar glans penis disebut korona.
    Pada pria yang tidak disunat (sirkumsisi), kulit depan (preputium) membentang mulai dari korona menutupi glans penis.

    <spanSirkumsisi”>

    Badan penis terdiri dari 3 rongga silindris (sinus) jaringan erektil:

    1. 2 rongga yang berukuran lebih besar disebut korpus kavernosus, terletak bersebelahan
    2. Rongga yang ketiga disebut korpus spongiosum, mengelilingi uretra.

    Jika rongga tersebut terisi darah, maka penis menjadi lebih besar, kaku dan tegak (mengalami ereksi).

    Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan melindungi testis.
    Skrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu untuk testis, karena agar sperma terbentuk secara normal, testis harus memiliki suhu yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu tubuh.
    Otot kremaster pada dinding skrotum akan mengendur atau mengencang sehinnga testis menggantung lebih jauh dari tubuh (dan suhunya menjadi lebih dingin) atau lebih dekat ke tubuh (dan suhunya menjadi lebih hangat).

    Testis berbentuk lonjong dengan ukuran sebesar buah zaitun dan terletak di dalam skrotum. Biasanya testis kiri agak lebih rendah dari testis kanan.
    Testis memiliki 2 fungsi, yaitu menghasilkan sperma dan membuat testosteron (hormon seks pria yang utama).

    <spanAnatomi sistem reproduksi pria”>

    Epididimis terletak di atas testis dan merupakan saluran sepanjang 6 meter.
    Epididimis mengumpulkan sperma dari testis dan menyediakan ruang serta lingkungan untuk proses pematangan sperma.

    Vas deferens merupakan saluran yang membawa sperma dari epididimis.
    Saluran ini berjalan ke bagian belakang prostat lalu masuk ke dalam uretra dan membentuk duktus ejakulatorius.
    Struktur lainnya (misalnya pembuluh darah dan saraf) berjalan bersama-sama vas deferens dan membentuk korda spermatika.

    <spanJalur sperma”>

    Uretra berfungsi 2 fungsi:

    1. Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air kemih dari kandung kemih
    1. Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen.

    Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih di dalam pinggul dan mengelilingi bagian tengah dari uretra.
    Biasanya ukurannya sebesar walnut dan akan membesar sejalan dengan pertambahan usia.
    Prostat dan vesikula seminalis menghasilkan cairan yang merupakan sumber makanan bagi sperma. Cairan ini merupakan bagian terbesar dari semen. Cairan lainnya yang membentuk semen berasal dari vas deferens dan dari kelenjar lendir di dalam kepala penis.

    FUNGSI

    Selama melakukan hubungan seksual, penis menjadi kaku dan tegak sehingga memungkinkan terjadinya penetrasi (masuknya penis ke dalam vagina)
    Ereksi terjadi akibat interaksi yang rumit dari sitem saraf, pembuluh darah, hormon dan psikis.
    Rangsang yang menyenangkan menyebabkan suatu reaksi di otak, yang kemudian mengirimkan sinyalnya melalui korda spinalis ke penis.
    Arteri yang membawa darah ke korpus kavernosus dan korpus spongiosum memberikan respon, yaitu berdilatasi (melebar). Arteri yang melebar menyebabkan peningkatan aliran darah ke daerah erektil ini, sehingga daerah erektil terisi darah dan melebar.
    Otot-otot di sekitar vena yang dalam keadaan normal mengalirkan darah dari penis, akan memperlambat aliran darahnya.
    Tekanan darah yang meningkat di dalam penis menyebabkan panjang dan diameter penis bertambah.

    Ejakulasi terjadi pada saat mencapai klimaks, yaitu ketika gesekan pada glans penis dan rangsangan lainnya mengirimkan sinyal ke otak dan korda spinalis.
    Saraf merangsang kontraksi otot di sepanjang saluran epididimis dan vas deferens, vesikula seminalis dan prostat. Kontraksi ini mendorong semen ke dalam uretra.
    Selanjutnya kontraksi otot di sekeliling urretra akan mendorong semen keluar dari penis.
    Leher kandung kemih juga berkonstriksi agar semen tidak mengalir kembali ke dalam kandung kemih.

    Setelah terjadi ejakulasi (atau setelah rangsangan berhenti), arteri mengencang dan vena mengendur.
    Akibatnya aliran darah yang masuk ke arteri berkurang dan aliran darah yang keluar dari vena bertambah, sehingga penis menjadi lunak.

  • Hello world!

    Posted in Uncategorized on Februari 23, 2010 by cyntaa

    Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.