- Definisi
Kehamilan ektopik adalah kehamilan ektopik terjadi kalau ovum yang sudah dibuahi tertanam bukan pada daerah kavum uteri.
Kehamilan ini jarang dapat berlanjut lebih lama dari 6- 10 minggu karena salah satu hal berikut ini : lokasi tidak sesuai bagi pertumbuhan plasenta yang memuaskan atau tidak adanya tempat yang cukup untuk menampung kehamilan yang berkembang
- Lokasi implantasi ektopik
Kehamilan ektopik dapat terjadi pada :
- Tuba fallopii
- Serviks
- Kavum abdomen
- Ligamentum latum
Sejauh ini kehamilan tuba adalah jenis kehamilan ektopik yang paling sering ditemukan dan merupakan salah satunya kehamilan ektopik yang akan dibahas secara rinci disini. Kehamilan abdominal sangat jarang berlangsung sampai aterm sehingga harus dilahirkan dengan laparatomi. Plasenta akan menempelkan diri pada organ apapun yang dapat memasok kebutuhanya dan pengangkatan plasenta pada kehamilan abdominal akan menimbulkan permasalahan serius, khususnya bahaya perdarahan.
- Patofisiologi
Kehamilan tuba akan menghasilkan salah satu dari tiga hasil akhir ini
- Kematian ovum dalam stsdium dini . Ovum inin kemudian bisa diabsorpsi seluruhnya atau tetep tinggal sebagai mola tuba.
- Abortus tuba yaitu hasil akhir yang paling sering ditemukan bersama- sama ovum ( dan kemungkinan darah ) akan dikeluarkan dari tuba untuk masuk kedalam uterus atau keluar kedalam kavum peritoneum. Kejadian ini biasanya mengakibatkan kematian ovum . Kadang – kadang ovum tersebut tertanam kembali dan berkembang menjadi kehamilan abdominal sekunder.
- Ruptura tuba , erosi dan akhirnya ruptura tuba terjadi kalau ovum terus tumbuh hingga melampaui kemampuan peregangan otot tuba . Ruptura tuba biasanya disertai dengan rupture salah satu atau lebih pembuluh aneriele yang besar sehingga terjadi perdarahan hebat yang akan mengalir ke dalam kavum deuglasi untuk membentuk hematokel pelvic.
- Etiologi
Penyebab kehamilan ektopik ada yang diketahui dan ada pula yang tidak atau belum diketahui . Ada beberapa factor penyebab kehamilan ektopik :
* Faktor uterus
- Tumor rahim yang menekan tuba
- Uterus hipoplasia
* Faktor tuba
- Penyempitan lumen tuba oleh karena infeksi endosalfing
- Tuba sempit , panjang dan berlekuk – lekuk
- Gangguan fungsi rambut getar ( silia ) tuba
- Operasi dan sterilisasi tuba yang tidak sempurna
- Endometriosis tuba
- Striktur tuba
- Divertikel tuba dan kelainan kongenital lainya
- Perlekatan peritubal dan lekukan tuba
- Tuba lain menekan tuba
- Lumen kembar dan sempit
* Faktor ovum
- Migrasi eksterna dari ovum
- Perlekatan membrane granulose
-` Rapid sel devision
- Migrasi internal ovum
E. Klasifikasi kehamilan ektopik
1. Kehamilan tuba
- Intersisial ( 2%)
- Istmus ( 25% )
- Ampula
- Fimbrial
2. Kehamilan ovarial
3. Kehamilan abdominal primer dan sekunder
4 Kehamilan tuba ovarial
5 Kehamilan intraligamentar
6. Kehamilan servikal
7. Kehamilan tanduk rahim radimenter
- Diagnosa dan gejala – gejala klinik
1. Anamnesis : Amenore, yaitu haid terlambat mulai beberapa hari sampai beberapa bulan atau hanya haid yang tidak teratur. Kadang – kadang dijumpai keluhan hamil muda dan gejala hamil lainya.
2. Bila KET :
- Pada abortus tuba keluhan dan gejala kemungkinan tidak begitu berat hanya rasa sakit diperut dan perdarahan pervaginam. Hal ini dapat dikacaukan dengan abortus biasa.
- Bila terjadi rupture tua, maka gejala akan lebih hebat dan dapat membahayakan jiwa si ibu.
3. Perawatan nyeri dan sakit yang tiba – tiba diperut, seperti diiris dengan pisau disertai muntah dan bisa jatuh pingsan
4. Tanda – tanda akut abdomen : nyeri tekan yang hebat muntah, gelisah, pucat, anemis, nadi kecil dan halus, TD rendah / tidak terukur ( syok )
5. Nyeri bahu : karena pernafasan diafragma
6. Pada pemeriksaan dalam, adanya nyeri ayun pada persio dan perviks ibu
7. Pervagmam keluar desidual cast
8. Pemeriksaan laboratorium, HB menurun, adanya lekositosis
9. Kuldosentesis
Untuk mengetahui adakah darah daram kavumdouglasi bila keluar darah tuba berwarna coklat sampai hitam yang tidak membeku
10. Diagnistik laparoskopik
11. Dengan USG
Diagnosa banding
- Abortus biasa
- Salpingitis akut
- Apendiksitis akut
- Ruptur korpus luteum
- Torsi kista ovarium
- Mioma submokosa yang terpelintir
- Retrofleksi uteri grafida inkarserata
- Ruptur pembuluh darah mesenterium
G. Penanganan
1. Penderita KET harus dirawat inap dirumah sakit untuk penanggulanganya
2. Bila wanita dalam keadaan syok, perbaiki keadaan umumnya dengan pemberian cairan yang cukup ( dextrose 5 %, glukosa 5%, garam fisiologis ) dan transfuse darah
3. Setelah diagnosa jelas atau sangat disangka KET dan keadaan umum baik segera lakukan laparatomi untuk menghilangkan sumber perdarahan dicari diklam dan dieksisi sebersih mungkin kemudian diikat
4. Sisa – sisa darah dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin supaya penyembuhan lebih cepat
5. Berikan anti bodi yang cukup dan obat anti inflamasi
H. Komplikasi
1. Ruptur tuba, perdarahan
2. Infeksi
3. Sub ileus karena masa pelvil
4. Sterilitas
I. Proknosis
Kematian karena KET cenderung menurun dengan diagnosis dini dan fasilitas daerah yang cukup. Di Rs Primadi Medan selama 1979 – 1981 dari 78 kasus KET angka kematian ibu adalah nihil. Hanya 60 % dari wanita yang pernah dapat KET menjadi hamil lagi selebihnya mandul. Angka kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0 – 14,6 %. Kemungkinan melahirkan bayi cukup bulan adalah lebih kurang 50 %
DAFTAR PUSTAKA
1. Muhtar Rustam, Sinopsis Opstetriu ED II, Jakarta : EGC 1998
2. Varney Halen, Buku saku Bidan, Jakarta : EGC 2001
3. Varer Helen. Perawatan maternitas. ED II, Jakarta : EGC










Sirkumsisi”>
Anatomi sistem reproduksi pria”>
Jalur sperma”>