<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cyntaa&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://cyntaa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cyntaa.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 26 Feb 2010 08:13:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='cyntaa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Cyntaa&#039;s Blog</title>
		<link>http://cyntaa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://cyntaa.wordpress.com/osd.xml" title="Cyntaa&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://cyntaa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>TUMBANG</title>
		<link>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/tumbang/</link>
		<comments>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/tumbang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 08:13:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cyntaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cyntaa.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orangtua tentu berkeinginan agar anaknya dapat tumbuh kembang optimal, yaitu agar anaknya dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang terbaik sesuai dengan potensi genetik yang ada pada anak tersebut. Hal ini dapat tercapai apabila kebutuhan dasar anak ( asah, asih, dan asuh ) terpenuhi. Kebutuhan dasar anak harus dipenuhi yang mencakup imtaq, perhatian, kasih sayang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=52&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>                         Setiap orangtua tentu berkeinginan agar anaknya dapat tumbuh kembang optimal, yaitu agar anaknya dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang terbaik sesuai dengan potensi genetik yang ada pada anak tersebut. Hal ini dapat tercapai apabila kebutuhan dasar anak ( asah, asih, dan asuh ) terpenuhi. Kebutuhan dasar anak harus dipenuhi yang mencakup imtaq, perhatian, kasih sayang, gizi, kesehatan, penghargaan, pengasuhan, rasa aman / perlindungan, partisipasi, stimulasi dan pendidikan ( asah, asih dan asuh ). Kebutuhan dasar tersebut harus dipenuhi sejak dini, bahkan sejak bayi berada dalam kandungan.(5) Untuk itulah dalam perkuliahan ini akan dibahas mengenai pemantauan tumbuh kembang neonatus terutama pada pertumbuhan fisik pada neonatus baik BB dan TB dengan menggunakan Denver Development Stress Test (DDST)</p>
<p> Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan</p>
<p>Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan.(2,4)</p>
<p>Menurut Soetjiningsih, pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm,meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh); sedangkan perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.(4)</p>
<p>Menurut Depkes RI, pertumbuhan adalah bertambah banyak dan besarnya sel seluruh bagian tubuh yang bersifat kuantitatif dan dapat diukur; sedangkan perkembangan adalah bertambah sempurnanya fungsi dari alat tubuh.(1)</p>
<p>Menurut Markum dkk, pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu; perkembangan lebih menitikberatkan aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ atau individu, termasuk perubahan aspek sosial atau emosional akibat pengaruh lingkungan.(2)<br />
B. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang (1,2,3,4,5,6)</p>
<p>     Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, yaitu :</p>
<p>1.    Faktor Genetik</p>
<p>Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir  proses tumbuh kembang anak. Faktor ini juga merupakan faktor bawaan anak, yaitu potensi anak yang menjadi ciri khasnya. Melalui genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang.</p>
<p>2.    Faktor Lingkungan</p>
<p>Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Faktor ini disebut juga milieu merupakan tempat anak tersebut hidup, dan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Lingkungan merupakan lingkungan ”bio-fisiko-psiko-sosial” yang memepengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.</p>
<p>Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi :</p>
<p>a.    Faktor yang memepengaruhi anak pada waktu masih di dalam kandungan (faktor pranatal)</p>
<p>b.   Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir (faktor postnatal)<br />
Ad.a. Faktor Lingkungan Pranatal</p>
<p>Faktor lingkungan pranatal yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin mulai dari konsepsi sampai lahir, antara lain :</p>
<p>1.    Gizi ibu pada waktu hamil</p>
<p>Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi BBLR/lahir mati, menyebabkan cacat bawaan, hambatan pertumbuhan otak, anemia pada bayi baru lahir,bayi baru lahir mudah terkena infeksi, abortus dan sebagainya.</p>
<p>2.   Mekanis</p>
<p>Trauma dan cairan ketuban yang kurang, posisi janin dalam uterus dapat kelainan bawaan, talipes, dislokasi panggul, tortikolis kongenital, palsi fasialis, atau kranio tabes.</p>
<p>3.   Toksin/zat kimia</p>
<p>Zat-zat kimia yang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi antara lain obat anti kanker, rokok, alkohol beserta logam berat lainnya.</p>
<p>4.   Endokrin</p>
<p>Hormon-hormon yang mungkin berperan pada pertumbuhan janin, adalah somatotropin, tiroid, insulin, hormon plasenta, peptida-peptida lainnya dengan aktivitas mirip insulin. Apabila salah satu dari hormon tersebut mengalami defisiensi maka dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada pertumbuhan  susunan saraf pusat sehingga terjadi retardasi mental, cacat bawaan dan lain-lain.</p>
<p>5.   Radiasi</p>
<p>Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali, atau cacat bawaan lainnya, sedangkan efek radiasi pada orang laki-laki dapat menyebabkan cacat bawaan pada anaknya.</p>
<p>6.   Infeksi</p>
<p>Setiap hiperpirexia pada ibu hamil dapat merusak janin. Infeksi intrauterin yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah TORCH, sedangkan infeksi lainnya yang juga dapat menyebabkan penyakit pada janin adalah varisela, malaria, polio, influenza dan lain-lain.</p>
<p>7.   Stres</p>
<p>Stres yang dialami oleh ibu pada waktu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat bawaan, kelainan kejiwaan dan lain-lain.</p>
<p>8.   Imunitas</p>
<p>Rhesus atau ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus, hidrops fetalis, kern ikterus, atau lahir mati.</p>
<p>9.   Anoksia embrio</p>
<p>Menurunnya oksigenisasi janin melalui gangguan pada plasenta atau tali pusat, menyebabkan BBLR.<br />
Ad.b. Faktor Lingkungan Postnatal</p>
<p>Bayi baru lahir harus berhasil melewati masa transisi, dari suatu sistem yang teratur yang sebagian besar tergantung pada organ-organ ibunya,ke suatu sistem yang tergantung pada kemempuan genetik dan mekanisme homeostatik bayi itu sendiri.</p>
<p>Lingkungan postnatal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak secara umum dapat digolongkan menjadi :</p>
<p>a.      Lingkungan biologis</p>
<p>Lingkungan biologis yang dimaksud adalah ras/suku bangsa, jenis kelamin, umur, gizi,, perawatan kesehatan, kepekaan terhadap penyakit, penyakit kronis, fungsi metabolisme, dan hormon.</p>
<p>b.     Faktor fisik</p>
<p>Yang termasuk dalam faktor fisik itu antara lain yaitu cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah, sanitasi, keadaan rumah baik dari struktur bangunan, ventilasi, cahaya dan kepadatan hunian, serta radiasi.</p>
<p>c.    Faktor psikososial</p>
<p>Stimulasi merupakan hal penting dalam tumbuh kembang anak, selain itu motivasi belajar dapat ditimbulkan sejak dini, dengan memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar, ganjaran atau hukuman yang wajar merupakan hal yang dapat menimbulkan motivasi yang kuat dalam perkembangan kepribadian anak kelak di kemudian hari, Dalam proses sosialisasi dengan lingkungannya anak memerlukan teman sebaya, stres juga sangat berpengaruh terhadap anak, selain sekolah, cinta dan kasih sayang, kualitas interaksi anak orangtua dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak.</p>
<p>d.   Faktor keluarga dan adat istiadat</p>
<p>Faktor keluarga yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak yaitu pekerjaan/pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun sekunder, pendidikan ayah/ibu yang baik dapat menerima informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, menjaga kesehatan, dan pendidikan yang baik pula, jumlah saudara yang banyak pada keluarga yang keadaan sosial ekonominya cukup akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima anak, jenis kelamin dalam keluarga seperti apad masyarakat tradisonal masih banyak wanita yang mengalami malnutrisi sehingga dapat menyebabkan angka kematian bayi meningkat, stabilitas rumah tangga, kepribadian ayah/ibu, adat-istiadat, norma-norma, tabu-tabu, agama, urbanisasi yang banyak menyebabkan kemiskinan dengan segala permasalahannya, serta kehidupan politik dalam masyarakat yang mempengaruhi prioritas kepentingan anak, anggaran dan lain-lain.</p>
<p>C. Ciri-ciri Tumbuh Kembang Anak</p>
<p>Tumbuh kembang anak yang sudah dimulai sejak konsepsi sampai dewasa itu mempunyai ciri-ciri tersendiri, yaitu :</p>
<p>1.    Tumbuh kembang adalah proses yang kontinu sejak dari konsepsi sampai maturitas/dewasa, yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan.</p>
<p>2.   Terdapat masa percepatan dan masa perlambatan, serta laju tumbuh kembang yang berlainan organ-organ.</p>
<p>3.   Pola perkembangan anak adalah sama pada semua anak,tetapi kecepatannya berbeda antara anak satu dengan lainnya.</p>
<p>4.   Perkembangan erat hubungannya dengan maturasi sistem susunan saraf.</p>
<p>5.   Aktifitas seluruh tubuh diganti respon individu yang khas.</p>
<p>6.   Arah perkembangan anak adalah sefalokaudal.</p>
<p>7.   Refleks primitif seperti refleks memegang dan berjalan akan menghilang sebelum gerakan volunter tercapai.<br />
Setiap anak adalah individu yang unik, karena faktor bawaan dan lingkungan yang berbeda, maka pertumbuhan dan pencapaian kemampuan perkembangnnya juga berbeda, tetapi tetap akan menuruti patokan umum.</p>
<p>D. Tahap-tahap Tumbuh Kembang Anak dan Remaja</p>
<p>Tumbuh kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan dan berkesinambungan dimulai sejak konsepsi sampai dewasa. Walaupun terdapat variasi akan tetapi setiap anak akan melewati suatu pola tertentu yang merupakan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan sebagai berikut :</p>
<p>1.    Masa prenatal atau masa intrauterin ( masa janin dalam kandungan )</p>
<p>a.      masa mudigah/embrio ialah sejak konsepsi sampai umur kehamilan 8 minggu. Ovum yang telah dibuahi dengan cepat menjadi suatu organisme, terjadi diferensiasi yang berlangsung cepat, terbentuk suatu sistem oragan dalam tubuh.</p>
<p>b.     masa janin/fetus ialah sejak umur 9 minggu sampai kelahiran. Masa ini terdiri dari 2 periode yaitu :</p>
<p>a.      masa fetus dini, sejak usia 9 minggu sampai dengan TM II kehidupan intrauterin, terjadi percepatan pertumbuhan, pembentukan jasad manusia sempurna dan alat tubuh telah terbentuk dan mulai berfungsi.</p>
<p>b.     Masa fetus lanjut, pada akhir TM pertumbuhan berlangsung pesat dan adanya perkembangan fungsi. Pada masa ini terjadi transferimunoglobin G(IgG) dari ibu melalui plasenta. Akumulasi asam lemak esesnsial seri omega 3(Docosa Hexanicc Acid) omega 6(Arachidonic Acid) pada otak dari retina.</p>
<p>2.   Masa bayi                             : usia 0 – 1 tahun</p>
<p>a.      masa neonatal (0-28 hari), terjadi adaptasi lingkungan dan terjadi perubahan sirkulasi darah, serta mulainya berfungsi orgaan-oragan tubuh lainnya.</p>
<p>1.    masa neonatal dini         : 0-7 hari</p>
<p>2.   masa neonatal lanjut      : 8-28 hari</p>
<p>b.     masa pasca neonatal , proses yang pesat dan proses pematangan berlangsung secara kontinu terutama meningkatnya fungsi sistem saraf (29 hari – 1 tahun).</p>
<p>3.   masa prasekolah</p>
<p>Pada saat ini pertumbuhan berlangsung dengan stabil, terjadi perkembangaan dengan aktifitas jasmani yang bertambah dan meningkaatnya keterampilan dan proses berpikir.</p>
<p>4.   masa sekolah, pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan masa prasekolah, keterampilan, dan intelektual makin berkembang, senang bermain berkelompok dengan jenis kelamin yang sama ( usia 6 – 18/20 tahun).</p>
<p>a.         masa pra remaja               : usia 6-10 tahun</p>
<p>b.        masa remaja :</p>
<p>1.    masa remaja dini</p>
<p>a.    wanita        : usia 8-13 tahun</p>
<p>b.   pria           : usia 10-15 tahun</p>
<p>2.   masa remaja lanjut</p>
<p>a.    wanita        : usia 13 –18 tahun</p>
<p>b.   pria           : usia 15-20 tahun</p>
<p>Masa-masa tersebut diatas ternyata memiliki ciri-ciri khas yang masing-masing masa mempunyai perbedaan dalam annatomi, fisiologi, biokimia dan karakternya.</p>
<p>E. Tumbuh Kembang Neonatus</p>
<p>1.  Penampilan Fisis</p>
<p>Perbandingan berbagai bagian tubuh bayi baru lahir sangat berlainan dengan proporsi janin, balita, anak besar atau dewasa; ukuran kepalanya relatif besar, muka berbentuk bundar, mandibula kecil, dada lebih bundar, dan batas antrieor posterior kurang mendatar, abdomen lebih membuncit, ekstrimitas relatif lebih pendek.</p>
<p>Berat badan bayi baru lahir adalah kira-kira 3000 g, biasanya anak laki-laki lebih berat dari anak perempuan. Lebih kurang 95% bayi cukup bulan mempunyai berat badan antara 2500 – 4500 g.  </p>
<p>Panjang badan rata-rata waaktu lahir adalah 50 cm, lebih kurang 95% diantaranya menunjukkan panjang badan sekitar 45 –55 cm.</p>
<p>Pertumbuhan fisik adalah hasil dari perubahan bentuk dan fungsi dari organisme.</p>
<p>1.    Pertumbuhan janin intrauterin</p>
<p>Pertumbuhan pada masa janin merupakan pertumbuhan yang paling pesat yang dialami seseorang dalam hidupnya. Dinamika pertumbuhan  antenatal  ini sangat menakjubkan yaitu sejak konsepsi sampai lahir. Pada masa embrio yaitu 8 minggu pertama kehamilan, sel telur yang telah dibuahi berdiferensiasi secara tepat menjadi organisme yang mempunyai bentuk anatomis seperti manusia. Pada sistem-sistem tertentu organogenesis diteruskan sampai lebih dari 8 minggu.</p>
<p>2.   Pertumbuhan setelah lahir</p>
<p>a.    Berat badan</p>
<p>Pada bayi yang lahir cukup bulan, berat badan waktu lahir akan kembali pada hari ke 10. Berat badan menjadi 2 kali berat badan waktu lahir pada bayi umur 5 bulan, mejadi 3 kali berat badan lahir pada umur 1 tahun, dan menjadi 4 kali berat badan lahir pada umur 2 tahun. Pada masa prasekolah kenaikan berat badan rata-rata 2 kg/tahun. Kemudian pertumbuhan konstan mulai berakhir dan dimulai</p>
<p>“ pre adolescent growth spurt” ( pacu tumbuh pra adolesen ) dengan rata-rata kenaikan berat nadan adalah 3-3,5 kg/tahun, yang kemudian dilanjutkan dengan “ adolescent growth spurt” ( pacu tumbuh adolesen ). Dibandingkan dengan anak laki-laki , “growth spurt” ( pacu tumbuh ) anak perempuan dimulai lebih cepat yaitu sekitar umur 8 tahun, sedangkan anak laki-laki baru pada umur sekitar 10 tahun. Tetapi pertumbuhan anak perempuan lebih cepat berhenti adripada anak laki-laki. Anak perempuan umur 18 tahun sudah tidak tumbuh lagi, sedsangkan anak laki-laki baru berhenti tumbuh pada umur 20 tahun. Kenaikan berat badan anak pada tahun pertama kehidupan, kalau anak mendapat gizi yang baik, adalah berkisar anatara :</p>
<p>700 – 1000 gram/bulan pada triwulan I</p>
<p>500 – 600 gram/bulan pada triwulan II</p>
<p>350 – 450 gram/bulan pada triwulan III</p>
<p>250 – 350 gram/bulan pada triwulan IV</p>
<p>Dapat pula digunakan rumus yang dikutip dari Behrman,1992 untuk memperkirakan berat badan adalah sebagai berikut :</p>
<p>Perkiraan Berat badan dalam kilogram :</p>
<p>1. Lahir                                     : 3,25 kg</p>
<p>2. 3-12 bulan                                      : umur(bulan) + 9</p>
<p>                                                           2</p>
<p>3.1-6 tahun                                : umur(bulan) x 2 + 8</p>
<p>4. 6-12 tahun                             : umur(bulan) x 7 – 5</p>
<p>                                                        2</p>
<p>Contohnya : Ny. Nia melahirkan bayi pada tanggal 30 November 2004 dengan berat badan waktu lahir 3,5 kg. Maka hitunglah berapa umur dan berat badan By. Nia saat ini !</p>
<p>2004 – 11 – 30 ( Lahir )</p>
<p>2005 – 03 – 31 ( Saat penimbangan )</p>
<p>Jadi umur BY Nia adalah 4 bulan 1 hari, maka BB By. Nia adalah :</p>
<p>Umur ( bulan ) + 9  / 2 = 13 / 2 = 6,5 Kg.</p>
<p>b.   Tinggi badan</p>
<p>Tinggi badan rata-rata pada waktu lahir adalah 50 cm. Secara garis besar, tinggi badan anak dapat diperkirakan, sebagai berikut :</p>
<p>1 tahun 1,5 x TB lahir</p>
<p>4 tahun 2 x TB lahir</p>
<p>6 tahun 1,5 x TB setahun</p>
<p>13 tahun 3 x TB lahir</p>
<p>Dewasa 3,5 x TB lahir ( 2 x TB 2 tahun )</p>
<p>Menurut Berhman,1992 adalah sebagai berikut :</p>
<p>a. Lahir                                     :  50 cm</p>
<p>b. Umur 1 tahun                         : 75 cm</p>
<p>c. 2-12 tahun                             : umur (tahun) x 6 + 77</p>
<p>Rumus prediksi tinggi akhir anak sesuai dengan potensi genetik berdasarkan data tinggi badan orangtua dengan asumsi bahwa semuanya tumbuh optimal sesuai dengan potensinya, adalah sebagai berikut (dikutip dari Titi,1993) :</p>
<p>TB anak perempuan = ( TB ayah – 13 cm) + TB ibu   ±  8,5 cm</p>
<p>                                                  2</p>
<p>TB anak laki-laki     = ( TB ibu + 13 cm ) + TB ayah   ±  8,5 cm</p>
<p>                                                  2</p>
<p>Contohnya adalah sebagai berikut : Sepasang suami istri  datang ke poliklinik Tumbang untuk dipantau tumbuh kembang anaknya. Setelah dianamnesis didapatkan data senagai berikut TB suami 165 cm, sedangakan TB istri 160 cm, maka hitunglah TB optimal anak perempuannya ?</p>
<p>TB anak perempuan : ( TB ayah – 13 cm) + TB ibu   ±  8,5 cm</p>
<p>                                                  2</p>
<p>                                ( 165 cm – 13 cm ) + 160 cm  ±  8,5 cm</p>
<p>312 cm / 2 ±  8,5 cm</p>
<p>                             156 cm  ±  8,5 cm</p>
<p>Dilihat dari proporsi antara kepala, badan, serta anggota gerak maka akan tampak perbedaan yang jelas  antara janin, anak-anak dan dewasa, yaitu sebagai berikut :</p>
<p>-         pada waktu janin umur 2 bulan, kepala tampak besar dan memanjang, dimana ukuran panjang kepala hampir sama panjang badan ditambah tungkai bawah. Anggota gerak sangat pendek.</p>
<p>-           Pada waktu lahir, kepala relatif masih besar, muka bulat, ukuran antero-posterior dada masih lebih besar, perut membuncit dan anggota gerak relatif lebih pendek. Sebagai titik tengah tinggi badannya adalah setinggiumbilikus.</p>
<p>-           Pada dewasa anggota gerak lebih panjang dan kepala secara proporsional kecil, sehingga sebagai titik tengah adalah setinggi simfisis  pubis.</p>
<p>F. Perkembangan Anak Balita</p>
<p> Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Dalam perkembangan anak terdapat masa kritis, dimana diperlukan rangsangan/stimulasi yang berguna agar potensi berkembang, sehingga perlu mendapat perhatian.Frankenburg dkk.(1981) melalui Denver Development Stress Test (DDST) mengemukakan 4 parameter perkembangan yang dipakai dalam menilai perkembangan anak balita yaitu :</p>
<p>1.    Personal Social ( kepribadian/tingkah laku sosial ).</p>
<p>2.   Fine Motor Adaptive ( gerakan motorik halus )</p>
<p>3.   Langauge ( bahasa )</p>
<p>4.   Gross Motor ( perkembangan motorik kasar )</p>
<p>Ada juga yang membagi perkembangan balita ini menjadi 7 aspek perkembangan, seperti pada buku petunjuk program BKB ( Bina Keluarga dan Balita ) yaitu perkembangan :</p>
<p>1.   Tingkah laku sosial</p>
<p>2.    Menolong diri sendiri</p>
<p>3.    Intelektual</p>
<p>4.  Gerakan motorik halus</p>
<p>5.  Komunikasi pasif</p>
<p>6.   Komunikasi aktif</p>
<p>7.                 Gerakan motorik kasar</p>
<p>Menurut Milestone perkembangan adalah tingkat perkembangan yang harus dicapai  anak pada umur tertentu, misalnya  :</p>
<p>4-6 minggu          : tersenyum spontan, dapat mengeluarkan suara    1-2 minggu kemudian</p>
<p>12-16 minggu        :  &#8211;  menegakkan kepala, tengkurap sendiri</p>
<p>-       menoleh kearah suara</p>
<p>-       memegang beneda yang ditaruh ditangannya</p>
<p>20 minggu            :  meraih benda yang didekatkan padanya</p>
<p>26 minggu       : – dapat memeindahkan benda dari astu tangan ke     tangan lainnya</p>
<p>-       duduk, dengan bantuan kedua tangan ke depan</p>
<p>-       makan biskuit sendiri</p>
<p>9-10 bulan           :   &#8211; menunjuk dengan jari telunjuk</p>
<p>-       memegang benda dengan ibu jari dan telunjuk</p>
<p>-       merangkak</p>
<p>-       bersuara da.. da…</p>
<p>13 bulan              :  &#8211; berjalan tanpa bantuan</p>
<p>-       mengucapkan kata-kata tunggal</p>
<p> Dengan milestone ini kita dapat mengetahui apakah anak mengalami perkembangan anak dalam batas normal atau mengalami keterlambatan. Sehingga kita dapat melakukan deteksi dini dan intervensi dini, agar tumbuh kembang anak dapat lebih optimal.</p>
<p>G. Denver Development Stress Test (DDST)</p>
<p>DDST adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak, tes ini bukanlah tes diagnostik atau tes IQ. DDST memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode skrining yang baik. Tes ini mudah dan cepat (15-20 menit), dapat diandalkan dan menunjukkkan validitas yang tinggi. Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan ternyata DDST secara efektif dapat mengidentifikasikan antara 85-100% bayi dan anak-anak prasekolah yang mengalami keterlambatan perkembangan, dan pada “follow up” selanjutnya ternyta  89% dari kelompok DDST abnormal mengalami kegagalan di sekolah 5-6 tahun kemudian.</p>
<p>Tetapi dari penelitian Borowitz (1986) menunjukkan bahwa DDST tidak dapat mengidentifikasikan lebih separoh anak dengan kelainan bicara. Frankerburg melakukan revisi dan restandarisasi kembali DDST dan juga tugas perkembangan pada sektor bahassa ditambah, yang kemudian hasil revisi dari DDST tersebut dinamakan Denver II.</p>
<p>a.    Aspek perkembangan yang dinilai</p>
<p>Semua tugas perkembangan itu disusun berdasarkan urutan perkembangan dan diatur dalam 4 kelompok besar yang disebut sektor perkembangan, yag meliputi :</p>
<p>-       Personal Social ( perilaku sosial )</p>
<p>Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.</p>
<p>-       Fine Motor Adaptive ( gerakan motorik halus )</p>
<p>Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.</p>
<p>-       Language ( bahasa )</p>
<p>Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah ddan berbicara spontan.</p>
<p>-       Gross Motor ( gerakan motorik kasar )</p>
<p>Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.</p>
<p>Setiap tugas ( kemampuan ) digambarkan dalam bentuk kotak persegi panjang horisontal yang berurutan menurut umur, dalam lembar DDST. Pada umumnya pada waktu tes, tugas yang perlu diperiksa pada setiap kali skrining hanya berkisar antara 25-30 tugas saja, sehingga tidak memakan waktu lama hanya sekitar 15-20 menit saja.</p>
<p>b.   Alat yang digunakan</p>
<p>-  Alat peraga : benang wol merah, kismis/manik-manik, kubus warna merah-kuning, hijau-biru, permainan anak, botol kecil, bola tenis, bel kecil,kertas dan pensil.</p>
<p>-       Lembar formulir DDST.</p>
<p>-       Buku petunjuk sebagai refensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya.</p>
<p>c.    Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap, yaitu :</p>
<p>Tahap I  : secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia :</p>
<p>-       3-6 bulan</p>
<p>-       9-12 bulan</p>
<p>-       18-24 bulan</p>
<p>-       3 tahun</p>
<p>-       4 tahun</p>
<p>-       5 tahun</p>
<p>Tahap II  : dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap I. Kemudian dilanjutkan pad eveluasi diagnostik yang lengkap.</p>
<p>d.   Penilaian</p>
<p>Dari buku petunjuk terdapat penjelasan tentang bagaimana melakukan penilaian apakah lulus (Passed = P), gagal (Fail = F), ataukah anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No.Opportunity = N.O). Kemudian digaris berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST. Setelah dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P dan berapa yang F, elanjutnya berdassarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam : Normal, Abnormal, Meragukan (Questionable) dan tidak dapat dites ( Untestable ).</p>
<p>-         Abnormal</p>
<p>-  Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih.</p>
<p>-  Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan PLUS 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan apad 1 sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.</p>
<p>-         Meragukan</p>
<p>-  Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih.</p>
<p>-  Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis verikal usia.</p>
<p>-         Tidak dapat dites</p>
<p>Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan.</p>
<p>-         Normal</p>
<p>Semua yang tidak tercantum dalam kriteria tersebut diatas.</p>
<p>Dalam pelaksanaan skrining degan DDST ini, umur anak perlu ditetapkan terlebih dahulu, dengan menggunakan patokan 30 hari untuk 1 bulan dan 12 bulan untuk 1 tahun. Bila dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan kebawah dan sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan keatas.</p>
<p>Perhitungan umur adalah sebagai berikut ;</p>
<p>Misalnya Budi lahir pada tanggal 23 Mei 1992 dari kehamilan yang cukup bulan dan tes dilakukan pada tanggal 5 Oktober 1994, maka perhitungannya sebagai berikut ;</p>
<p>1994 – 10 – 5 ( saat tes dilakukan )</p>
<p>1992 – 5 – 23 ( tangga lahir Budi )</p>
<p>Umur Budi 2 – 4 – 12 = 2 tahun 4 bukan 12 hari, karena 12 hari lebih kecil dari 15 hari, maka dibulatkan kebawah, sehingga umur Budi adalah 2 tahun 4 bulan.</p>
<p>Kemudian garis umur ditarik vertikal pada formulir DDST yang memotong kotak-kotak tugas perkembangan pada ke-4 sektor. Tugas-tugasyang terletak di sebelah kiri garis itu, pada umumnya telah dapat dikerjakan oleh anak-anak seusia Budi(2 tahun 4 bulan). Apabila Budi gagal mengerjakan beberapa tugas-tugas tersebut.(F), maka berarti suatu keterlambatan poda tugas tersebut. Bila tugas-tugas yang gagal dikerjakan berada pada kotak yang terpotong oleh garis vertikal umur, maka ini bukanlah suatu keterlambatan, karena pada kontrol lebih lanjut masih mungkin terdapat perkembangan lagi. Begitu pula pada kotak-kotak sebelah kanan garis umur.</p>
<p>Pada ujung kotak sebelah kiri terdapat kode-kode R dan nomor. Kalau terdapat kode R maka tugas perkembangan cukup ditanyakan pada orang tuanya, sedangkan bila terdapat kode nomor maka tugas perkembangan doites sesuai petunujuk dibaliknya formulir.</p>
<p>Agar lebih cepat dalamelaksanakan skrining, maka dapat digunakan thp praskrining dengan menggunakan :</p>
<p>-       DDST Short Form, yang masing-masing sektor hanya diambil 3 tugas 8 hingga seluruhnya ada 12 tugas ) yang ditanyakan pada ibunya. Bila didapatkan salah satu gagal atau ditolak, maka dianggap “suspect” dan perlu dilanjutkan dengan DDST lengkap. Dari penelitian Frankenburg didapatkan 25% anak pada pemeriksaan DDST Short Form ternyata memerlukan pemeriksaan DDST lengkap.</p>
<p>-       PDQ ( Pra-Screening Development Questionnaire )</p>
<p>Bentuk kuesioner ini digunakan orang tua yang berpendidikan SLTA keatas. Dapat diisi orang tua di rumah atau pada saat menunggu di klinik. Dipilih 10 pertanyaan pada kuesioner yang sesuai dengan umur anak. Kemungkinan dinilai berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan, dan pada kasus yang dicurigai dilakukan tes DDST lengkap.</p>
<p>DASPUS&lt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p>Depkes RI. Asuhan Kesehatan Anak Dalam Konteks Keluarga . Depkes RI. Jakarta. 192 : 6 – 18.</p>
<p> Markum.  A.H. dkk. Ilmu Kesehatan Anak. FKUI. Jakarta. 1991 : 9 -</p>
<p> Mirriamstoppard. Complete Baby and Child Care. 1997.</p>
<p>Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta. 1998 : 1 – 63.</p>
<p>Behrman. Kliegman. Arvin. Ilmu Kesehatan Anak ( Nelson Textbook of Pediatrics ). EGC. Jakarta. 2000 : 37 – 45.</p>
<p>Dhamayanti. Meita. Stimulasi Tumbuh Kembang Anak Untuk Meningkatkan Emotional Spiritual Quotient (ESQ). FK Unpad Subbagian Tumbuh Kembang – Pediatri Sosial Bagian Ilmu Kesehatan Anak Perjan RSHS Bandung. Bandung. 2005.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cyntaa.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cyntaa.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cyntaa.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cyntaa.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cyntaa.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cyntaa.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cyntaa.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cyntaa.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cyntaa.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cyntaa.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cyntaa.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cyntaa.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cyntaa.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cyntaa.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=52&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/tumbang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/08999b7e3f25d95ad4491be39111db92?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cyntaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/51/</link>
		<comments>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/51/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 08:06:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cyntaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/51/</guid>
		<description><![CDATA[Untuk melakukan asuhan persalinan normal dirumuskan 58 langkah asuhan persalinan normal sebagai berikut (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, 2003): 1 Mendengar &#38; Melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua. 2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul oksitosin &#38; memasukan alat suntik sekali pakai 2½ ml ke dalam wadah partus set. 3. Memakai celemek plastik. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=51&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk melakukan asuhan persalinan normal dirumuskan 58 langkah asuhan persalinan normal sebagai berikut (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, 2003):<br />
1 Mendengar &amp; Melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua.<br />
2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul oksitosin &amp; memasukan alat suntik sekali pakai 2½ ml ke dalam wadah partus set.<br />
3. Memakai celemek plastik.<br />
4. Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dgn sabun &amp; air mengalir.<br />
5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yg akan digunakan untuk pemeriksaan dalam.<br />
6. Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan letakan kembali kedalam wadah partus set.<br />
7. Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah dengan gerakan vulva ke perineum.<br />
8. Melakukan pemeriksaan dalam – pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah pecah.<br />
9. Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%.<br />
10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai – pastikan DJJ dalam batas normal (120 – 160 x/menit).<br />
11. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa ingin meneran.<br />
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman.<br />
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran.<br />
14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.<br />
15. Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm.<br />
16. Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu<br />
17. Membuka<span id="more-51"></span> tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan<br />
18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.<br />
19. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 – 6 cm, memasang handuk bersih untuk menderingkan janin pada perut ibu.<br />
20. Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin<br />
21. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar secara spontan.<br />
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparental. Menganjurkan kepada ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.<br />
23. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang tangan dan siku sebelah atas.<br />
24. Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah (selipkan ari telinjuk tangan kiri diantara kedua lutut janin)<br />
25. Melakukan penilaian selintas :<br />
a. Apakah bayi menangis kuat dan atau bernapas tanpa kesulitan?<br />
b. Apakah bayi bergerak aktif ?<br />
26. Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi atas perut ibu.<br />
27. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus.<br />
28. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitasin agar uterus berkontraksi baik.<br />
29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit IM (intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).<br />
30. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.<br />
31. Dengan satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut.<br />
32. Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.<br />
33. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi.<br />
34. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 -10 cm dari vulva<br />
35. Meletakan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.<br />
36. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah doroskrainal. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur.<br />
37. melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial).<br />
38. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban.<br />
39. Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras)<br />
40. Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan kedalam kantong plastik yang tersedia.<br />
41. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.<br />
42. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam.<br />
43. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam.<br />
44. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramaskuler di paha kiri anterolateral.<br />
45. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral.<br />
46. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.<br />
47. Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.<br />
48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.<br />
49. Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan.<br />
50. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas dengan baik.<br />
51. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dekontaminasi.<br />
52. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai.<br />
53. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT. Membersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian bersih dan kering.<br />
54. Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk membantu apabila ibu ingin minum.<br />
55. Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.<br />
56. Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5% melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%<br />
57. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.<br />
58. Melengkapi partograf.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cyntaa.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cyntaa.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cyntaa.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cyntaa.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cyntaa.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cyntaa.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cyntaa.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cyntaa.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cyntaa.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cyntaa.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cyntaa.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cyntaa.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cyntaa.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cyntaa.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=51&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/51/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/08999b7e3f25d95ad4491be39111db92?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cyntaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASKEB TETANUS NEONATORUM</title>
		<link>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/askeb-tetanus-neonatorum/</link>
		<comments>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/askeb-tetanus-neonatorum/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 07:42:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cyntaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/askeb-tetanus-neonatorum/</guid>
		<description><![CDATA[TETANUS NEONATORUM PENGERTIAN TETANUS NEONATORUM adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh Clastridium Tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun yang menyerang sistem saraf pusat). PENYEBAB Tetanus Neonatorum merupakan penyebab radang yang sering dijumpai pada BBLR bukan karena trauma kelahiran atau afiksia tetapi disebabkan oleh infeksi mana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=49&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>                                  TETANUS NEONATORUM</p>
<p>PENGERTIAN<br />
TETANUS NEONATORUM	adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh Clastridium Tetani, yaitu kuma<strong>n yang mengeluarkan toksin (racun yang menyerang sistem saraf pusat).</p>
<p>PENYEBAB</strong><br />
Tetanus Neonatorum merupakan penyebab radang yang sering dijumpai pada BBLR bukan karena trauma kelahiran atau afiksia tetapi disebabkan oleh infeksi mana neonatal antara lain:<br />
1.	Infeksi melalui tali pusat<br />
2.	Akibat pemotongan tali pusat yang kurang steril<br />
3.	Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada ibu hamil tidak dilakukan, atau tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan ketentuan program<br />
4.	Pertolongan persalinan tidak memenuhi persyaratan kesehatan<br />
Clostridium tetani terdapat di tanah, dan traktus digestivus manusia dan hewan. Kuman ini dapat membuat spora yang tahan lama dan dapat berkembang biak dalam luka yang kotor atau jaringan nekrotik yang mempunyai suasana anaerob.</p>
<p>INSIDEN<br />
Angka kematian kasus (Case Fatality Rate atau CFR) sangat tinggi pada kasus Tetanus Neonatorum yang tidak dirawat, angka mendekati 100%. Angka kematian kasus Tetanus Neonatorum yang dirawat di rumah sakit di Indonesia bervariasi dengan kisaran 10,8 – 55%.</p>
<p>MASA INKUBASI<br />
Tetanus Neonatorum ini terjadi selama 5-14 hari. Pada umumnya Tetanus Neonatorum ini lebih cepat dan penyakit berlangsung lebih berat daripada Tetanus pada anak.<br />
PATOFISIOLOGI<br />
Kelainan patologik biasanya terdapat pada otak, sumsum tulang belakang, dan terutama pada nukleus motorik kematian disebabkan oleh Asfiksia akibat spasmus laring pada kejang yang lama. Selain itu, dapat disebabkan oleh pengaruh langsung pada pusat pernapasan dan peredaran darah. Sebab kematian  yang lain ialah Pnemunia Aspirasi dan Sepsis. Kedua sebab yang terakhir ini mungkin sekali merupakan sebab utama kematian Tetanus Neonatorum di Indonesia.<br />
Pada bayi, penyakit ini ditularkan biasanya melalui tali pusat, yaitu karena pemotongan tali pusat dengan alat tidak steril. Selain itu infeksi dapat juga melalui pemakaian obat (dermatol), bubuk daun-daunan yang digunakan dalam perawatan tali pusat.</p>
<p>PENANGANAN<br />
Penanganan secara umum pada Tetanus Neonatorum:<br />
1.	Mengatasi kejang<br />
a)	Kejang dapat diatasi dengan mengurangi rangsangan, penderita/bayi ditempatkan di kamar yang tenang dengan sedikit sinar mengingat penderita sangat peka akan suara dan cahaya.<br />
b)	Memberikan suntikan anti kejang, obat yang dipakai ialah kombinasi fenobarbital dan largaktil. Fenobarbital dapat diberikan mula-mula 30-60 mg parenteral, kemudian dilanjutkan per os dengan dosis maksimum 10 mg per hari. Largaktil dapat diberikan bersama luminal, mula-mula 7,5 mg parenteral, kemudian diteruskan dengan dosis 6 x 2,5 mg setiap hari. Kombinasi yang lain ialah Kloralhidrat yang diberikan lewat anus.<br />
2.	Menjaga jalan nafas tetap bebas dengan membersihkan jalan nafas. Pemasangan spatel bila lidah tergigit<br />
3.	Mencari tempat masuknya spora tetanus, umumnya di tali pusat atau di telinga<br />
4.	Pemberian antitoksin<br />
Untuk mengikat toksin yang masih bebas dapat diberi ATS dengan dosis 10.000 satuan setiap hari selama 2 hari berturut-turut dengan IM, kalau per infuse diberikan ATS 20.000 UI sekaligus.<br />
5.	Pemberian antibiotic<br />
Untuk mengatasi infeksi dapat digunakan penisilin 200.000 UI setiap hari dan diteruskan sampai 3 hari sesudah panas turun atau ampisilin 100 mg/kgBB per hari dibagi dalam 4 dosis secara intravena selama 10 hari.<br />
6.	Perawatan yang adekuat, meliputi:<br />
a)	Kebutuhan oksigen<br />
b)	Makanan (harus hati-hati dengan memakai pipa yang dibuat dari polietilen atau karet)<br />
c)	Keseimbangan cairan dan elektrolit, kalau pemberian makanan peros tidak mungkin maka diberikan makanan dan cairan intravena. Cairan intravena berupa larutan glukosa 5% : NaCI fisiologik 4:1 selama 48-70 jam sesuai dengan kebutuhan, sedangkan untuk selanjutnya untuk memasukkan obat.<br />
Bila sakit penderita lebih dari 24 jam atau sering terjadi kejang atau apnue, berikan larutan glukosa 10% : natrium bikarbonat 4:1 (sebaiknya jenis cairan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan analisa gas darah) bila setelah 72 jam belum mungkin diberikan minuman per oral, maka melalui cairan infus perlu ditambahkan protein dan kalium.<br />
d)	Tali pusat dirawat dengan kasa bersih dan kering</p>
<p>DIAGNOSA/MASALAH DAN PENANGANAN<br />
Diagnosa atau masalah terjadinya Tetanus Neonatorum:<br />
1.	Terjadinya Gangguan Fungsi Pernapasan<br />
Pada masalah ini dapat disebabkan kuman yang menyerang otot-otot pernapasan sehingga otot pernapasan tidak berfungsi. Adanya spasme mulut dan tenggorokan sehingga mengganggu jalan nafas.<br />
	Intervensinya yang dapat dilakukan:<br />
a)	Atur posisi bayi dengan kepala ekstensi<br />
b)	Berikan oksigan 1-2 liter/menit. Jika sedang terjadi kejang karena sianosis bertambah berat O2 diberikan lebih tinggi dapat sampai 4 liter/menit (jika kejang berhenti turunkan lagi)<br />
c)	Bila terjadi kejang, pasang sudip lidah untuk mencegah lidah jatuh ke belakang dan juga memudahkan penghisapan lendir bila ada, lebih baik dipasang guedel (selama masih banyak kejang guedel atau sudip lidah dipasang terus)<br />
d)	Sering isap lendir yakni pada saat kejang, jika akan melakukan nafas buatan pada saat apnea dan sewaktu-waktu terlihat lendir pada mulut bayi<br />
e)	Observasi tanda vital secara kontinu setiap ½ jam dan catat secara cermat, pasien Tetanus Neonatorum karena mendapatkan anti Konvulsan terus kemungkinan sewaktu-waktu dapat terjadi apnea<br />
f)	Usahakan agar tempat tidur bayi dalam keadaan hangat (pasang selubung tempat tidur/kain di sekeliling tempat tidur karena selama payah bayi sering dalam keadaan telanjang, maksudnya agar memudahkan pengawasan pernapasannya). Bila bayi kedinginan juga dapat menyebabkan apnea<br />
2.	Pemenuhan Nutrisi atau Cairan<br />
Akibat bayi tidak mau menetek dan untuk memenuhi kebutuhan makanannya perlu diberi infus dengan cairan glukosa 10%. Tetapi karena bayi juga sering sianosis maka cairan ditambahkan natrikus 11/2% dengan perbandingan 4:1.<br />
3.	Kurangnya Pengetahuan Orang Tua<br />
Pada orang tua pasien yang bayinya menderita Tetanus perlu diberikan penjelasan bahwa bayinya menderita sakit berat atau bahaya maka memerlukan tindakan dan pengobatan khusus. Selain itu, yang perlu dijelaskan ialah bila ibunya hamil lagi agar minta suntikan pencegahan tetanus. </p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Wiknyosastro, Gulardi Hanifa. 2002. PELAYANAN KESEHATAN MATERIAL DAN NEONATAL. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.</p>
<p>Ngastiyah. 1997. PERAWATAN ANAK SAKIT. Buku Kedokteran EGC : Jakarta.</p>
<p>Hidayat, Azis Alimul. 2005. PENGANTAR ILMU KEPERAWATAN ANAK I. Salemba Medika : Jakarta.</p>
<p>Wiknyosastro, Gulandi Hanifa. 2005. ILMU KEBIDANAN. Yayasan Bina Pustaka Sarwino Prawirohardjo : Jakarta.</p>
<p>ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY. SANTI<br />
DENGAN TETANUS NEONATORUM<br />
DI BKIA KASIH BUNDA KARANGTALUN TULUNGAGUNG</p>
<p>I.	PENGUMPULAN DATA BESAR<br />
Pengkajian dilakukan pada hari Selasa, 16 September 2008 pukul 10.00 WIB di BKIA Kasih Bunda Karangtalun Tulungagung.<br />
1.1.	Biodata<br />
1.1.1.	Klien<br />
Tempat	:	By. Ny. Santi<br />
Tempat tanggal lahir	:	Tulungagung, 11 September 2008<br />
Jenis kelamin 	:	Laki-laki<br />
Anak ke	:	I<br />
1.1.2.	Orang Tua<br />
Nama	:	Tn. Rudi / Ny. Santi<br />
Umur	:	27 tahun / 24 tahun<br />
Agama	:	Islam / Islam<br />
Ibu Pendidikan	:	SMA / SMP<br />
Pekerjaan	:	Wiraswasta / Ibu rumah tangga<br />
Alamat	:	Ds. Sambijajar</p>
<p>1.2.	Keluhan Utama<br />
Ibu mengatakan bahwa sejak 2 hari yang lalu bayinya rewel sulit untuk minum ASI dan mulutnya digerak-gerakkan sampai mulutnya mecucu dan sering kejang-kejang.</p>
<p>1.3.	Riwayat Kesehatan yang Lalu<br />
1.3.1.	Riwayat Antenatal<br />
	Ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya/ANC kebidan 2x dan ke polindes 2x jadi sleama kehamilan ibu melakukan ANC sebanyak 4x.<br />
	Mendapatkan imunisasi TT lengkap<br />
	Obat-obatan yang pernah diminum Fe, Kalk, Vit C, Vit B6, Vit B1<br />
	Keluhan selama kehamilan<br />
-	TM I	 Mual muntah pada pagi hari<br />
-	TM II	 Tidak ada keluhan<br />
-	TM III	 Sering kencing<br />
	Ibu tidak ada riwayat alergi terhadap makanan, minuman maupun obat-obatan<br />
	Ibu mengatakan tidak ada penyakit menular<br />
Example : Hepatitis, AIDS, PMS<br />
	Ibu mengatakan tidak mempunyai penyakit menurun<br />
Example : DM, Hipertensi<br />
	Ibu mengatakan tidak  mempunyai penyakit menahun<br />
Example : TBC, Asma<br />
	UK : 40 Minggu<br />
	Selama hamil ibu tidak ada pantangan terhadap makanan, minuman maupun obat-obatan serta tidak pernah minum jamu-jamuan<br />
1.3.2.	Riwayat Intranatal<br />
	Ibu merasa kenceng-kenceng mulai tanggal 11 September 2008 pukul 01.00 WIB. Sifat adekuat, kontraksi 5x dalam 10 menit, sudah mengeluarkan lendir yang bercampur darah, ketuban sudah pecah, bayi lahir tanggal 11 September 2008 pada pukul 08.00 ditolong oleh bidan. Persalinan berlangsung secara spontan pervaginan. Jenis kelamin laki-laki, berat badan 3500 gram, panjang badan 50 cm, lingkar dada 34 cm. Selama persalinan tidak ada kesulitan, tidak ada kelainan, tidak ada cacat bawaan pada bayi, placenta lahir pada pukul 08.20 WIB dengan cara spontan pada saat lahir bayi menangis kuat, urine keluar secara spontan pada saat persalinan.<br />
	Lama persalinan<br />
-	Kala I	= 8 jam<br />
-	Kala II	= 1 jam<br />
-	Kala III	= 20 menit<br />
-	Kala IV	= 2 jam<br />
Obat yang diberikan adalah aksitosin 10 unit.<br />
Untuk bayi: hepatitis B 1 mg.<br />
1.3.3.	Riwayat Neonatal<br />
-	Bayi lahir secara	:	Spontan pervaginan<br />
-	Apgar score	:	7-8<br />
-	Berat badan	:	3500 gram<br />
-	Panjang badan	:	50 cm<br />
-	Lingkar dada	:	34 cm<br />
-	Lingkar kepala	:	34 cm<br />
-	Makanan	:	ASI saja<br />
-	Perawatan selama bayi	:	Ibu dan keluarga<br />
1.3.4.	Riwayat Nifas<br />
Ibu tidak pernah minum jamu-jamuan, tidak ada pantangan makanan/minuman tertentu.<br />
1.3.5.	Riwayat Tumbuh Kembang<br />
Bayi lahir dengan berat badan 3500 gram, panjang badan 50 cm, lingkar dada 34 cm, lingkar kepala 34 cm, reflek suching bertambah, reflek rooting bertambah, reflek muro bertambah, reflek grip bertambah, reflek planter bertambah.<br />
1.3.6.	Riwayat Imunisasi/Status Kesehatan Terakhir<br />
Imunisasi bayi  baru lahir	:		Hepatitis B<br />
			Polio I</p>
<p>1.4.	Pola Kegiatan Sehari-hari<br />
1.4.1.	Pola Nutrisi<br />
-	Sebelum sakit	:	Sesering mungkin minimal 2 jam sekali<br />
-	Selama sakit	:	Minum ASI tiap 5 jam sekali dikarenakan bayi rewel dan sering menangis<br />
1.4.2.	Pola Eliminasi<br />
-	Sebelum sakit<br />
BAB 	3-4x sehari berwarna kuning kecoklatan, konsistensi lunak, bau khas, tidak ada pus/darah<br />
BAK 	6-8x sehari warna jernih, tidak ada darah atau pus<br />
-	Selama sakit<br />
BAB 	2-3x sehari berwarna kuning kecoklatan, konsistensi lunak, bau khas, tidak ada pus/darah<br />
BAK 	4-6x sehari warna kuning keruh, tidak ada pus atau darah<br />
1.4.3.	Pola Istirahat<br />
-	Sebelum sakit		siang dan malam ± 10 jam<br />
-	Selama sakit		siang dan malam ± 12 jam<br />
1.4.4.	Personal Hygiene<br />
-	Sebelum sakit		Mandi	= 	2x sehari<br />
Ganti baju	=	2x sehari<br />
Ganti popok	=	12-15x sehari<br />
Perawatan tali pusat dilakukan oleh nenek bayi<br />
Sebelum sakit = belum pernah diganti<br />
-	Selama sakit		Mandi	=	2x sehari<br />
Ganti baju	=	2x sehari<br />
Ganti popok	=	12-15x sehari<br />
Perawatan tali pusat selama sakit diganti 1x sehari<br />
1.4.5.	Data Psikososial<br />
Hubungan ibu dengan suami, keluarga dan petugas kesehatan terjalin dengan baik.</p>
<p>1.5.	Tanda-tanda Vital<br />
Nadi	=	154x/menit<br />
Respirasi	=	40x/menit<br />
Suhu	=	37,5oC</p>
<p>1.6.	Pemeriksaan Fisik<br />
1.6.1.	Kepala<br />
Simetris, kulit kepala bersih, tidak ada lesi/luka, tidak ada benjolan.<br />
1.6.2.	Mata<br />
Simetris, konjungtiva merah muda, palpebra tidak oedema, sklera putih.<br />
1.6.3.	Hidung<br />
Simetris, bersih, tidak ada sebret, terdapat pernafasan cuping hidung.<br />
1.6.4.	Mulut<br />
Bibir		Simetris, tidak ada sumbing, tidak sariawan, warna pucat, tidak ada luka, tidak cellosis, sering mecucu<br />
Lidah		Bersih, warna merah jambu, tidak glositis<br />
Gusi		Warna merah jambu, sehat, tidak gingiuitis<br />
1.6.5.	Telinga<br />
Simetris, tidak orap, bersih, tidak ada serumen.<br />
1.6.6.	Leher<br />
Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, vena jugularis dan kelenjar limfe, leher kaku.</p>
<p>1.6.7.	Dada<br />
	Simetris, bunyi jantung normal, teratur dan terdengar jelas, tidak ada Ronchi/Weezhing dan juga tidak ada bunyi mur-mur.<br />
1.6.8.	Abdomen<br />
	Simetris, tali pusat basah dan berbau, ada tanda-tanda infeksi (merah), dinding abdomen terasa keras.<br />
1.6.9.	Anogenetalia<br />
Testis sudah turun diskrotum, bersih, tidak ada kelainan pada genetika dan teraba lubang anus.<br />
1.6.10.	Ekstrimitas Atas dan Bawah<br />
	Kanan dan kiri simetris, tidak adema, tidak ada lesi/luka, tidak ada gangguan pergerakan, kadang kejang-kejang.<br />
1.6.11.	Punggung<br />
Simetris, tidak ada lesi/luka, bersih.</p>
<p>1.7.	Pemeriksaan Reflek<br />
a.	Suching	:	+<br />
b.	Routing	:	+<br />
c.	Moro	:	+<br />
d.	Plantar	:	+<br />
e.	Graps	:	+</p>
<p>1.8.	Status Gizi<br />
a.	Sebelum sakit<br />
PB	=	3500 gr<br />
PB	=	50 cm<br />
LD	=	34 cm<br />
LK	=	34 cm<br />
b.	Selama sakit<br />
PB	=	3500 gr<br />
PB	=	50 cm<br />
LD	=	34 cm<br />
LK	=	34 cm</p>
<p>Kesimpulan:<br />
-	Bayi anak Ny. Anjar dengan tetanus neonatorum dengan ciri-ciri : rewel, sulit untuk minum ASI, mulutnya digerak-gerakkan sampai mulutnya mecucu dan kejang-kejang.</p>
<p>II.	IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH<br />
DATA DASAR	DIAGNOSA/MASALAH<br />
S	:	Ibu mengatakan bahwa sejak 2 hari yang lalu bayinya rewel, sulit untuk minum ASI dan mulutnya digerak-gerakkan sampai mulutnya mecucu dan sering kejang-kejang	Diagnosa:<br />
Tetanus Neonatorum<br />
O	:	TTV<br />
N	:	154x/menit<br />
S	:	40x/menit<br />
R	:	37oC<br />
Pemeriksaan Fisik:<br />
-	Bibir sering mecucu<br />
-	Abdomen terasa keras<br />
-	Bayi rewel dan tidak mau menetek<br />
-	Ektermitas atas dan ektermitas bawah kadang kejang-kejang<br />
-	Abdomen pada tali pusat basah dan baru, merah	</p>
<p>S	:	Ibu mengatakan bayinya sejak 2 hari yang lalu rewel dan tidak mau menetek. Ibu mengatakan selama sakit anaknya minum ASI tiap 5 jam sekali	Masalah:<br />
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi<br />
O	:	Status gizi<br />
Selama sakit : 	Berat badan turun 3500 gram menjadi 3300 gram	</p>
<p>S	:	Ibu mengatakan tidak mengganti balutan tali pusat bayinya setiap hari meskipun balutannya basah dan diganti satu kali ketika tali pusat mengeluarkan bau	Gangguan pemenuhan kebutuhan personal hygiene<br />
O	:	Tali pusat basah dan berbau, terdapat tanda-tanda infeksi yaitu merah pada tali pusat dan daerah di sekitarnya	</p>
<p>III.	IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH POTENSIAL<br />
Tetanus Neonatorum</p>
<p>IV.	IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YANG MEMBUTUHKAN TINDAKAN SEGERA<br />
-	Kolaborasi dengan dokter spesialis anak<br />
-	Merujuk</p>
<p>Diagnosa/Masalah	Tujuan/Kriteria Keberhasilan	Intervensi<br />
Diagnosa:<br />
Tetanus Neonatorum	Tujuan:<br />
Tetanus yang dialami oleh klien sembuh</p>
<p>Kriteria Hasil:<br />
	Tand-tanda infeksi (merah) hilang<br />
	Tali pusat bersih dan kering<br />
	Kejang yang dialami oleh klien berkurang<br />
	Terpenuhinya kebutuhan nutrisi oleh klien	1.	Bina hubungan saling percaya antara keluarga dan petugas kesehatan.<br />
Rasional:<br />
Dengan hal ini dapat menumbuhkan rasa saling percaya sehingga memudahkan untuk melakukan tindakan medis.<br />
2.	Anjurkan kepada ibu untuk merawat bayinya di tempat yang tenang dengan pencahayaan yang kurang.<br />
Rasional:<br />
Dengan merawat bayi di tempat yang tenang dengan pencahayaan yang kurang dapat mengurangi kejang pada bayi karena rangsangan suara dan cahaya dan menimbulkan kejang.<br />
		3.	Anjurkan kepada ibu untuk merawat tali pusatnya setiap hari sehabis mandi.<br />
Rasional:<br />
Tali pusat yang basah menjadi tempat masuknya mikroorganisme sehingga menimbulkan infeksi.<br />
		4.	Anjurkan kepada ibu untuk tetap memberikan ASI setiap hari secara rutin.<br />
Rasional:<br />
Bayi memerlukan nutrisi untuk memenuhi kebutuhannya dan dengan terpenuhinya nutrisi dapat membantu daya tahan tubuh bayi menghadapi penyakitnya.</p>
<p>Implementasi	Evaluasi<br />
Dilakukan pada tanggal	Dilakukan pada tanggal<br />
1.	Membina hubungan saling percaya antara klien dan anggota keluarga<br />
2.	Menganjurkan kepada ibu untuk merawat bayinya di tempat/ruangan yang terang dengan pencahayaan yang kurang untuk mengurangi kejang pada bayi<br />
3.	Menganjurkan kepada ibu untuk merawat tali pusatnya setiap hari sehabis mandi untuk mempercepat proses penyembuhan<br />
4.	Menganjurkan kepada ibu untuk tetap memberikan ASI agar tercukupinya kebutuhan nutrisi bayi	1.	S	:	Ibu mengatakan ia mengerti tentang kondisi bayinya sekarang dan ibu mau melaksanakan semua nasihat-nasihat yang diberikan oleh bidan<br />
	O	:		Bayi kelihatan lebih tenang<br />
				Kejang yang terjadi sudah berkurang 1x dalam sehari<br />
				Tanda infeksi sudah mulai menghilang<br />
	A	:	Masalah teratasi sebagian<br />
	P	:	1.	Anjurkan kepada ibu untuk selalu menjaga personal hygiene bayinya terutama perawatan tali pusat<br />
			2.	Anjurkan kepada ibu untuk datang 2 hari lagi atau sewaktu-waktu bila bayinya bertambah parah</p>
<p>Diagnosa/Masalah	Tujuan/Kriteria Keberhasilan	Intervensi<br />
Masalah:<br />
Gangguan personal hygiene	Tujuan:<br />
Personal hygiene pada bayi terpenuhi</p>
<p>Kriteria Keberhasilan:<br />
	Tali pusat tidak bau, dan merah<br />
	Tali pusat tidak mengalami infeksi<br />
	Tali pusat kering dan bersih	1.	Anjurkan pada ibu untuk melakukan perawatan tali pusat dengan baik dan benar.<br />
Rasional:<br />
Hal ini dapat mencegah terjadinya infeksi tali pusat.<br />
2.	Anjurkan pada ibu untuk tidak memberikan/membubuhi tali pusat dengan apapun.<br />
Rasional:TETANUS NEONATORUM</p>
<p>PENGERTIAN<br />
TETANUS NEONATORUM	adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh Clastridium Tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun yang menyerang sistem saraf pusat).</p>
<p>PENYEBAB<br />
Tetanus Neonatorum merupakan penyebab radang yang sering dijumpai pada BBLR bukan karena trauma kelahiran atau afiksia tetapi disebabkan oleh infeksi mana neonatal antara lain:<br />
1.	Infeksi melalui tali pusat<br />
2.	Akibat pemotongan tali pusat yang kurang steril<br />
3.	Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada ibu hamil tidak dilakukan, atau tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan ketentuan program<br />
4.	Pertolongan persalinan tidak memenuhi persyaratan kesehatan<br />
Clostridium tetani terdapat di tanah, dan traktus digestivus manusia dan hewan. Kuman ini dapat membuat spora yang tahan lama dan dapat berkembang biak dalam luka yang kotor atau jaringan nekrotik yang mempunyai suasana anaerob.</p>
<p>INSIDEN<br />
Angka kematian kasus (Case Fatality Rate atau CFR) sangat tinggi pada kasus Tetanus Neonatorum yang tidak dirawat, angka mendekati 100%. Angka kematian kasus Tetanus Neonatorum yang dirawat di rumah sakit di Indonesia bervariasi dengan kisaran 10,8 – 55%.</p>
<p>MASA INKUBASI<br />
Tetanus Neonatorum ini terjadi selama 5-14 hari. Pada umumnya Tetanus Neonatorum ini lebih cepat dan penyakit berlangsung lebih berat daripada Tetanus pada anak.<br />
PATOFISIOLOGI<br />
Kelainan patologik biasanya terdapat pada otak, sumsum tulang belakang, dan terutama pada nukleus motorik kematian disebabkan oleh Asfiksia akibat spasmus laring pada kejang yang lama. Selain itu, dapat disebabkan oleh pengaruh langsung pada pusat pernapasan dan peredaran darah. Sebab kematian  yang lain ialah Pnemunia Aspirasi dan Sepsis. Kedua sebab yang terakhir ini mungkin sekali merupakan sebab utama kematian Tetanus Neonatorum di Indonesia.<br />
Pada bayi, penyakit ini ditularkan biasanya melalui tali pusat, yaitu karena pemotongan tali pusat dengan alat tidak steril. Selain itu infeksi dapat juga melalui pemakaian obat (dermatol), bubuk daun-daunan yang digunakan dalam perawatan tali pusat.</p>
<p>PENANGANAN<br />
Penanganan secara umum pada Tetanus Neonatorum:<br />
1.	Mengatasi kejang<br />
a)	Kejang dapat diatasi dengan mengurangi rangsangan, penderita/bayi ditempatkan di kamar yang tenang dengan sedikit sinar mengingat penderita sangat peka akan suara dan cahaya.<br />
b)	Memberikan suntikan anti kejang, obat yang dipakai ialah kombinasi fenobarbital dan largaktil. Fenobarbital dapat diberikan mula-mula 30-60 mg parenteral, kemudian dilanjutkan per os dengan dosis maksimum 10 mg per hari. Largaktil dapat diberikan bersama luminal, mula-mula 7,5 mg parenteral, kemudian diteruskan dengan dosis 6 x 2,5 mg setiap hari. Kombinasi yang lain ialah Kloralhidrat yang diberikan lewat anus.<br />
2.	Menjaga jalan nafas tetap bebas dengan membersihkan jalan nafas. Pemasangan spatel bila lidah tergigit<br />
3.	Mencari tempat masuknya spora tetanus, umumnya di tali pusat atau di telinga<br />
4.	Pemberian antitoksin<br />
Untuk mengikat toksin yang masih bebas dapat diberi ATS dengan dosis 10.000 satuan setiap hari selama 2 hari berturut-turut dengan IM, kalau per infuse diberikan ATS 20.000 UI sekaligus.<br />
5.	Pemberian antibiotic<br />
Untuk mengatasi infeksi dapat digunakan penisilin 200.000 UI setiap hari dan diteruskan sampai 3 hari sesudah panas turun atau ampisilin 100 mg/kgBB per hari dibagi dalam 4 dosis secara intravena selama 10 hari.<br />
6.	Perawatan yang adekuat, meliputi:<br />
a)	Kebutuhan oksigen<br />
b)	Makanan (harus hati-hati dengan memakai pipa yang dibuat dari polietilen atau karet)<br />
c)	Keseimbangan cairan dan elektrolit, kalau pemberian makanan peros tidak mungkin maka diberikan makanan dan cairan intravena. Cairan intravena berupa larutan glukosa 5% : NaCI fisiologik 4:1 selama 48-70 jam sesuai dengan kebutuhan, sedangkan untuk selanjutnya untuk memasukkan obat.<br />
Bila sakit penderita lebih dari 24 jam atau sering terjadi kejang atau apnue, berikan larutan glukosa 10% : natrium bikarbonat 4:1 (sebaiknya jenis cairan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan analisa gas darah) bila setelah 72 jam belum mungkin diberikan minuman per oral, maka melalui cairan infus perlu ditambahkan protein dan kalium.<br />
d)	Tali pusat dirawat dengan kasa bersih dan kering</p>
<p>DIAGNOSA/MASALAH DAN PENANGANAN<br />
Diagnosa atau masalah terjadinya Tetanus Neonatorum:<br />
1.	Terjadinya Gangguan Fungsi Pernapasan<br />
Pada masalah ini dapat disebabkan kuman yang menyerang otot-otot pernapasan sehingga otot pernapasan tidak berfungsi. Adanya spasme mulut dan tenggorokan sehingga mengganggu jalan nafas.<br />
	Intervensinya yang dapat dilakukan:<br />
a)	Atur posisi bayi dengan kepala ekstensi<br />
b)	Berikan oksigan 1-2 liter/menit. Jika sedang terjadi kejang karena sianosis bertambah berat O2 diberikan lebih tinggi dapat sampai 4 liter/menit (jika kejang berhenti turunkan lagi)<br />
c)	Bila terjadi kejang, pasang sudip lidah untuk mencegah lidah jatuh ke belakang dan juga memudahkan penghisapan lendir bila ada, lebih baik dipasang guedel (selama masih banyak kejang guedel atau sudip lidah dipasang terus)<br />
d)	Sering isap lendir yakni pada saat kejang, jika akan melakukan nafas buatan pada saat apnea dan sewaktu-waktu terlihat lendir pada mulut bayi<br />
e)	Observasi tanda vital secara kontinu setiap ½ jam dan catat secara cermat, pasien Tetanus Neonatorum karena mendapatkan anti Konvulsan terus kemungkinan sewaktu-waktu dapat terjadi apnea<br />
f)	Usahakan agar tempat tidur bayi dalam keadaan hangat (pasang selubung tempat tidur/kain di sekeliling tempat tidur karena selama payah bayi sering dalam keadaan telanjang, maksudnya agar memudahkan pengawasan pernapasannya). Bila bayi kedinginan juga dapat menyebabkan apnea<br />
2.	Pemenuhan Nutrisi atau Cairan<br />
Akibat bayi tidak mau menetek dan untuk memenuhi kebutuhan makanannya perlu diberi infus dengan cairan glukosa 10%. Tetapi karena bayi juga sering sianosis maka cairan ditambahkan natrikus 11/2% dengan perbandingan 4:1.<br />
3.	Kurangnya Pengetahuan Orang Tua<br />
Pada orang tua pasien yang bayinya menderita Tetanus perlu diberikan penjelasan bahwa bayinya menderita sakit berat atau bahaya maka memerlukan tindakan dan pengobatan khusus. Selain itu, yang perlu dijelaskan ialah bila ibunya hamil lagi agar minta suntikan pencegahan tetanus. </p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Wiknyosastro, Gulardi Hanifa. 2002. PELAYANAN KESEHATAN MATERIAL DAN NEONATAL. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.</p>
<p>Ngastiyah. 1997. PERAWATAN ANAK SAKIT. Buku Kedokteran EGC : Jakarta.</p>
<p>Hidayat, Azis Alimul. 2005. PENGANTAR ILMU KEPERAWATAN ANAK I. Salemba Medika : Jakarta.</p>
<p>Wiknyosastro, Gulandi Hanifa. 2005. ILMU KEBIDANAN. Yayasan Bina Pustaka Sarwino Prawirohardjo : Jakarta.</p>
<p>ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY. SANTI<br />
DENGAN TETANUS NEONATORUM<br />
DI BKIA KASIH BUNDA KARANGTALUN TULUNGAGUNG</p>
<p>I.	PENGUMPULAN DATA BESAR<br />
Pengkajian dilakukan pada hari Selasa, 16 September 2008 pukul 10.00 WIB di BKIA Kasih Bunda Karangtalun Tulungagung.<br />
1.1.	Biodata<br />
1.1.1.	Klien<br />
Tempat	:	By. Ny. Santi<br />
Tempat tanggal lahir	:	Tulungagung, 11 September 2008<br />
Jenis kelamin 	:	Laki-laki<br />
Anak ke	:	I<br />
1.1.2.	Orang Tua<br />
Nama	:	Tn. Rudi / Ny. Santi<br />
Umur	:	27 tahun / 24 tahun<br />
Agama	:	Islam / Islam<br />
Ibu Pendidikan	:	SMA / SMP<br />
Pekerjaan	:	Wiraswasta / Ibu rumah tangga<br />
Alamat	:	Ds. Sambijajar</p>
<p>1.2.	Keluhan Utama<br />
Ibu mengatakan bahwa sejak 2 hari yang lalu bayinya rewel sulit untuk minum ASI dan mulutnya digerak-gerakkan sampai mulutnya mecucu dan sering kejang-kejang.</p>
<p>1.3.	Riwayat Kesehatan yang Lalu<br />
1.3.1.	Riwayat Antenatal<br />
	Ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya/ANC kebidan 2x dan ke polindes 2x jadi sleama kehamilan ibu melakukan ANC sebanyak 4x.<br />
	Mendapatkan imunisasi TT lengkap<br />
	Obat-obatan yang pernah diminum Fe, Kalk, Vit C, Vit B6, Vit B1<br />
	Keluhan selama kehamilan<br />
-	TM I	 Mual muntah pada pagi hari<br />
-	TM II	 Tidak ada keluhan<br />
-	TM III	 Sering kencing<br />
	Ibu tidak ada riwayat alergi terhadap makanan, minuman maupun obat-obatan<br />
	Ibu mengatakan tidak ada penyakit menular<br />
Example : Hepatitis, AIDS, PMS<br />
	Ibu mengatakan tidak mempunyai penyakit menurun<br />
Example : DM, Hipertensi<br />
	Ibu mengatakan tidak  mempunyai penyakit menahun<br />
Example : TBC, Asma<br />
	UK : 40 Minggu<br />
	Selama hamil ibu tidak ada pantangan terhadap makanan, minuman maupun obat-obatan serta tidak pernah minum jamu-jamuan<br />
1.3.2.	Riwayat Intranatal<br />
	Ibu merasa kenceng-kenceng mulai tanggal 11 September 2008 pukul 01.00 WIB. Sifat adekuat, kontraksi 5x dalam 10 menit, sudah mengeluarkan lendir yang bercampur darah, ketuban sudah pecah, bayi lahir tanggal 11 September 2008 pada pukul 08.00 ditolong oleh bidan. Persalinan berlangsung secara spontan pervaginan. Jenis kelamin laki-laki, berat badan 3500 gram, panjang badan 50 cm, lingkar dada 34 cm. Selama persalinan tidak ada kesulitan, tidak ada kelainan, tidak ada cacat bawaan pada bayi, placenta lahir pada pukul 08.20 WIB dengan cara spontan pada saat lahir bayi menangis kuat, urine keluar secara spontan pada saat persalinan.<br />
	Lama persalinan<br />
-	Kala I	= 8 jam<br />
-	Kala II	= 1 jam<br />
-	Kala III	= 20 menit<br />
-	Kala IV	= 2 jam<br />
Obat yang diberikan adalah aksitosin 10 unit.<br />
Untuk bayi: hepatitis B 1 mg.<br />
1.3.3.	Riwayat Neonatal<br />
-	Bayi lahir secara	:	Spontan pervaginan<br />
-	Apgar score	:	7-8<br />
-	Berat badan	:	3500 gram<br />
-	Panjang badan	:	50 cm<br />
-	Lingkar dada	:	34 cm<br />
-	Lingkar kepala	:	34 cm<br />
-	Makanan	:	ASI saja<br />
-	Perawatan selama bayi	:	Ibu dan keluarga<br />
1.3.4.	Riwayat Nifas<br />
Ibu tidak pernah minum jamu-jamuan, tidak ada pantangan makanan/minuman tertentu.<br />
1.3.5.	Riwayat Tumbuh Kembang<br />
Bayi lahir dengan berat badan 3500 gram, panjang badan 50 cm, lingkar dada 34 cm, lingkar kepala 34 cm, reflek suching bertambah, reflek rooting bertambah, reflek muro bertambah, reflek grip bertambah, reflek planter bertambah.<br />
1.3.6.	Riwayat Imunisasi/Status Kesehatan Terakhir<br />
Imunisasi bayi  baru lahir	:		Hepatitis B<br />
			Polio I</p>
<p>1.4.	Pola Kegiatan Sehari-hari<br />
1.4.1.	Pola Nutrisi<br />
-	Sebelum sakit	:	Sesering mungkin minimal 2 jam sekali<br />
-	Selama sakit	:	Minum ASI tiap 5 jam sekali dikarenakan bayi rewel dan sering menangis<br />
1.4.2.	Pola Eliminasi<br />
-	Sebelum sakit<br />
BAB 	3-4x sehari berwarna kuning kecoklatan, konsistensi lunak, bau khas, tidak ada pus/darah<br />
BAK 	6-8x sehari warna jernih, tidak ada darah atau pus<br />
-	Selama sakit<br />
BAB 	2-3x sehari berwarna kuning kecoklatan, konsistensi lunak, bau khas, tidak ada pus/darah<br />
BAK 	4-6x sehari warna kuning keruh, tidak ada pus atau darah<br />
1.4.3.	Pola Istirahat<br />
-	Sebelum sakit		siang dan malam ± 10 jam<br />
-	Selama sakit		siang dan malam ± 12 jam<br />
1.4.4.	Personal Hygiene<br />
-	Sebelum sakit		Mandi	= 	2x sehari<br />
Ganti baju	=	2x sehari<br />
Ganti popok	=	12-15x sehari<br />
Perawatan tali pusat dilakukan oleh nenek bayi<br />
Sebelum sakit = belum pernah diganti<br />
-	Selama sakit		Mandi	=	2x sehari<br />
Ganti baju	=	2x sehari<br />
Ganti popok	=	12-15x sehari<br />
Perawatan tali pusat selama sakit diganti 1x sehari<br />
1.4.5.	Data Psikososial<br />
Hubungan ibu dengan suami, keluarga dan petugas kesehatan terjalin dengan baik.</p>
<p>1.5.	Tanda-tanda Vital<br />
Nadi	=	154x/menit<br />
Respirasi	=	40x/menit<br />
Suhu	=	37,5oC</p>
<p>1.6.	Pemeriksaan Fisik<br />
1.6.1.	Kepala<br />
Simetris, kulit kepala bersih, tidak ada lesi/luka, tidak ada benjolan.<br />
1.6.2.	Mata<br />
Simetris, konjungtiva merah muda, palpebra tidak oedema, sklera putih.<br />
1.6.3.	Hidung<br />
Simetris, bersih, tidak ada sebret, terdapat pernafasan cuping hidung.<br />
1.6.4.	Mulut<br />
Bibir		Simetris, tidak ada sumbing, tidak sariawan, warna pucat, tidak ada luka, tidak cellosis, sering mecucu<br />
Lidah		Bersih, warna merah jambu, tidak glositis<br />
Gusi		Warna merah jambu, sehat, tidak gingiuitis<br />
1.6.5.	Telinga<br />
Simetris, tidak orap, bersih, tidak ada serumen.<br />
1.6.6.	Leher<br />
Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, vena jugularis dan kelenjar limfe, leher kaku.</p>
<p>1.6.7.	Dada<br />
	Simetris, bunyi jantung normal, teratur dan terdengar jelas, tidak ada Ronchi/Weezhing dan juga tidak ada bunyi mur-mur.<br />
1.6.8.	Abdomen<br />
	Simetris, tali pusat basah dan berbau, ada tanda-tanda infeksi (merah), dinding abdomen terasa keras.<br />
1.6.9.	Anogenetalia<br />
Testis sudah turun diskrotum, bersih, tidak ada kelainan pada genetika dan teraba lubang anus.<br />
1.6.10.	Ekstrimitas Atas dan Bawah<br />
	Kanan dan kiri simetris, tidak adema, tidak ada lesi/luka, tidak ada gangguan pergerakan, kadang kejang-kejang.<br />
1.6.11.	Punggung<br />
Simetris, tidak ada lesi/luka, bersih.</p>
<p>1.7.	Pemeriksaan Reflek<br />
a.	Suching	:	+<br />
b.	Routing	:	+<br />
c.	Moro	:	+<br />
d.	Plantar	:	+<br />
e.	Graps	:	+</p>
<p>1.8.	Status Gizi<br />
a.	Sebelum sakit<br />
PB	=	3500 gr<br />
PB	=	50 cm<br />
LD	=	34 cm<br />
LK	=	34 cm<br />
b.	Selama sakit<br />
PB	=	3500 gr<br />
PB	=	50 cm<br />
LD	=	34 cm<br />
LK	=	34 cm</p>
<p>Kesimpulan:<br />
-	Bayi anak Ny. Anjar dengan tetanus neonatorum dengan ciri-ciri : rewel, sulit untuk minum ASI, mulutnya digerak-gerakkan sampai mulutnya mecucu dan kejang-kejang.</p>
<p>II.	IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH<br />
DATA DASAR	DIAGNOSA/MASALAH<br />
S	:	Ibu mengatakan bahwa sejak 2 hari yang lalu bayinya rewel, sulit untuk minum ASI dan mulutnya digerak-gerakkan sampai mulutnya mecucu dan sering kejang-kejang	Diagnosa:<br />
Tetanus Neonatorum<br />
O	:	TTV<br />
N	:	154x/menit<br />
S	:	40x/menit<br />
R	:	37oC<br />
Pemeriksaan Fisik:<br />
-	Bibir sering mecucu<br />
-	Abdomen terasa keras<br />
-	Bayi rewel dan tidak mau menetek<br />
-	Ektermitas atas dan ektermitas bawah kadang kejang-kejang<br />
-	Abdomen pada tali pusat basah dan baru, merah	</p>
<p>S	:	Ibu mengatakan bayinya sejak 2 hari yang lalu rewel dan tidak mau menetek. Ibu mengatakan selama sakit anaknya minum ASI tiap 5 jam sekali	Masalah:<br />
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi<br />
O	:	Status gizi<br />
Selama sakit : 	Berat badan turun 3500 gram menjadi 3300 gram	</p>
<p>S	:	Ibu mengatakan tidak mengganti balutan tali pusat bayinya setiap hari meskipun balutannya basah dan diganti satu kali ketika tali pusat mengeluarkan bau	Gangguan pemenuhan kebutuhan personal hygiene<br />
O	:	Tali pusat basah dan berbau, terdapat tanda-tanda infeksi yaitu merah pada tali pusat dan daerah di sekitarnya	</p>
<p>III.	IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH POTENSIAL<br />
Tetanus Neonatorum</p>
<p>IV.	IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YANG MEMBUTUHKAN TINDAKAN SEGERA<br />
-	Kolaborasi dengan dokter spesialis anak<br />
-	Merujuk</p>
<p>Diagnosa/Masalah	Tujuan/Kriteria Keberhasilan	Intervensi<br />
Diagnosa:<br />
Tetanus Neonatorum	Tujuan:<br />
Tetanus yang dialami oleh klien sembuh</p>
<p>Kriteria Hasil:<br />
	Tand-tanda infeksi (merah) hilang<br />
	Tali pusat bersih dan kering<br />
	Kejang yang dialami oleh klien berkurang<br />
	Terpenuhinya kebutuhan nutrisi oleh klien	1.	Bina hubungan saling percaya antara keluarga dan petugas kesehatan.<br />
Rasional:<br />
Dengan hal ini dapat menumbuhkan rasa saling percaya sehingga memudahkan untuk melakukan tindakan medis.<br />
2.	Anjurkan kepada ibu untuk merawat bayinya di tempat yang tenang dengan pencahayaan yang kurang.<br />
Rasional:<br />
Dengan merawat bayi di tempat yang tenang dengan pencahayaan yang kurang dapat mengurangi kejang pada bayi karena rangsangan suara dan cahaya dan menimbulkan kejang.<br />
		3.	Anjurkan kepada ibu untuk merawat tali pusatnya setiap hari sehabis mandi.<br />
Rasional:<br />
Tali pusat yang basah menjadi tempat masuknya mikroorganisme sehingga menimbulkan infeksi.<br />
		4.	Anjurkan kepada ibu untuk tetap memberikan ASI setiap hari secara rutin.<br />
Rasional:<br />
Bayi memerlukan nutrisi untuk memenuhi kebutuhannya dan dengan terpenuhinya nutrisi dapat membantu daya tahan tubuh bayi menghadapi penyakitnya.</p>
<p>Implementasi	Evaluasi<br />
Dilakukan pada tanggal	Dilakukan pada tanggal<br />
1.	Membina hubungan saling percaya antara klien dan anggota keluarga<br />
2.	Menganjurkan kepada ibu untuk merawat bayinya di tempat/ruangan yang terang dengan pencahayaan yang kurang untuk mengurangi kejang pada bayi<br />
3.	Menganjurkan kepada ibu untuk merawat tali pusatnya setiap hari sehabis mandi untuk mempercepat proses penyembuhan<br />
4.	Menganjurkan kepada ibu untuk tetap memberikan ASI agar tercukupinya kebutuhan nutrisi bayi	1.	S	:	Ibu mengatakan ia mengerti tentang kondisi bayinya sekarang dan ibu mau melaksanakan semua nasihat-nasihat yang diberikan oleh bidan<br />
	O	:		Bayi kelihatan lebih tenang<br />
				Kejang yang terjadi sudah berkurang 1x dalam sehari<br />
				Tanda infeksi sudah mulai menghilang<br />
	A	:	Masalah teratasi sebagian<br />
	P	:	1.	Anjurkan kepada ibu untuk selalu menjaga personal hygiene bayinya terutama perawatan tali pusat<br />
			2.	Anjurkan kepada ibu untuk datang 2 hari lagi atau sewaktu-waktu bila bayinya bertambah parah</p>
<p>Diagnosa/Masalah	Tujuan/Kriteria Keberhasilan	Intervensi<br />
Masalah:<br />
Gangguan personal hygiene	Tujuan:<br />
Personal hygiene pada bayi terpenuhi</p>
<p>Kriteria Keberhasilan:<br />
	Tali pusat tidak bau, dan merah<br />
	Tali pusat tidak mengalami infeksi<br />
	Tali pusat kering dan bersih	1.	Anjurkan pada ibu untuk melakukan perawatan tali pusat dengan baik dan benar.<br />
Rasional:<br />
Hal ini dapat mencegah terjadinya infeksi tali pusat.<br />
2.	Anjurkan pada ibu untuk tidak memberikan/membubuhi tali pusat dengan apapun.<br />
Rasional:<br />
Hal ini dapat membuat tali pusat bayi berbau.<br />
		3.	Anjurkan pada ibu untuk mengganti balutan tali pusat apabila kotor dan basah.<br />
Rasional:<br />
Hal ini dapat membantu mempercepat proses pengeringan tali pusat.</p>
<p>Implementasi	Evaluasi<br />
Dilakukan pada hari	Dilakukan pada hari<br />
1.	Menganjurkan pada ibu untuk melakukan perawatan tali pusat dengan baik dan benar yaitu untuk mencegah terjadinya infeksi<br />
2.	Menganjurkan pada ibu untuk tidak memberikan/membubuhi tali pusat dengan apapun yaitu dapat memebuat tali pusat bau dan basah<br />
3.	Menganjurkan pada ibu untuk mengganti balutan tali pusat jika kotor dan basah yaitu untuk mempercepat proses pengeringan tali pusat	S	:	Ibu mengatakan bahwa ia mengerti tentang penjelasan yang diberikan oleh bidan dan mau untuk melaksanakannya<br />
O	:		Ibu nampak mengerti<br />
			Ibu bisa mengulangi penjelasan yang  diberikan oleh bidan<br />
A	:	Masalah teratasi sebagian<br />
P	:	Anjurkan pada ibu untuk datang 3 hari lagi/bila sewaktu-waktu ada komplikasi/kelainan</p>
<p>Hal ini dapat membuat tali pusat bayi berbau.<br />
		3.	Anjurkan pada ibu untuk mengganti balutan tali pusat apabila kotor dan basah.<br />
Rasional:<br />
Hal ini dapat membantu mempercepat proses pengeringan tali pusat.</p>
<p>Implementasi	Evaluasi<br />
Dilakukan pada hari	Dilakukan pada hari<br />
1.	Menganjurkan pada ibu untuk melakukan perawatan tali pusat dengan baik dan benar yaitu untuk mencegah terjadinya infeksi<br />
2.	Menganjurkan pada ibu untuk tidak memberikan/membubuhi tali pusat dengan apapun yaitu dapat memebuat tali pusat bau dan basah<br />
3.	Menganjurkan pada ibu untuk mengganti balutan tali pusat jika kotor dan basah yaitu untuk mempercepat proses pengeringan tali pusat	S	:	Ibu mengatakan bahwa ia mengerti tentang penjelasan yang diberikan oleh bidan dan mau untuk melaksanakannya<br />
O	:		Ibu nampak mengerti<br />
			Ibu bisa mengulangi penjelasan yang  diberikan oleh bidan<br />
A	:	Masalah teratasi sebagian<br />
P	:	Anjurkan pada ibu untuk datang 3 hari lagi/bila sewaktu-waktu ada komplikasi/kelainan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cyntaa.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cyntaa.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cyntaa.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cyntaa.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cyntaa.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cyntaa.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cyntaa.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cyntaa.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cyntaa.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cyntaa.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cyntaa.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cyntaa.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cyntaa.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cyntaa.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=49&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/askeb-tetanus-neonatorum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/08999b7e3f25d95ad4491be39111db92?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cyntaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN BALITA dengan PeTusis</title>
		<link>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/asuhan-balita-dengan-petusis/</link>
		<comments>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/asuhan-balita-dengan-petusis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 07:22:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cyntaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cyntaa.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[PERTUSIS Pengertian Pertusis disebut juga tussis quinta,whooping caugh.batuk rejan,batuk seratus hari. Penyebab Penyebab pertusis adalah Bordetella pertussis atau Haemophilus pertussis yaitu suatu kuman tidak bergerak gram negatif dan didapatan dengan pengambilan usapan pada daerah nasofaring pasien pertusis kemudian ditanam pada agar media Bordet-Gangou. Penularan Cara penularannya adalah melalui kontak langsung dengan pasien. Penusis dapat mengenai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=46&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color:#00ff00;">PERTUSIS</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Pengertian</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Pertusis disebut juga tussis quinta,whooping caugh.batuk rejan,batuk seratus hari.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Penyebab</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Penyebab pertusis adalah Bordetella pertussis atau Haemophilus pertussis yaitu suatu kuman tidak bergerak gram negatif dan didapatan dengan pengambilan usapan pada daerah nasofaring pasien pertusis kemudian ditanam pada agar media Bordet-Gangou.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Penularan</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Cara penularannya adalah melalui kontak langsung dengan pasien. Penusis dapat mengenai semua golongan urnur dan terbanyak mengnai anak umur 1-5 tahun.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Patolog</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Lesi biasanya terdapat pada bronkus dan bronkiolus tetapi terdapat perubahan-perubahan pada selaput lendir trakea, laring dan nasofaring. Lesi berupa nekrosis bagian basal dan tengah sel epitel thorak, disebut infiltrat neutrofil dan makrofag. Lendir yang terbentuk dapat menyumbat bronkus kecil hingga dapat menimbulkan emfisema dan atelektasis.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Komplikasi</span></strong>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">AIat pernafasan</span></strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Dapat terjadi otitis media, bronikitis, bronkupneumonia, atelektasis yang disebabkan sumbatan mukus, emfisem &amp; bronkiektasis, sedangkan TBC yang sudah ada dapat bertambah berat</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">AIat pencernaan</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Muntah-muntah yang berat dapat menimbulkan emasiasi anak menjadi kurus sekali, prolaps rektum atau hernia yang mungkin timbul karena tingginya tekanan intraabdominal, ulkus pada ujung lidah karena tergosok pada gigi atau tergigit pada waktu serangan batuk juga stomatitis</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Susunansaraf</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">kejang aapt timbul karena gangg’ian keseimbangan elektrolit akibat mt’ntah-muntah.J(adang-kadang terdaa kongesti dan edema pada otak,mungkin pula terjadi perdarahan padaotak.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Lain &#8211; lain</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Dapat juga terjadi perdarahan lain seperti epitaksis hemoptisis dan perdarahan subkoijungtiva.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Pencegahan</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Pencegahan dapat dilakukan secara aktif dan pasif. Secara aktif dengan memberikan vaksin pertusis dalam jumlah 12 unit di bagi dalam dosis dengan interval 8 minggu.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Bila dalam anamnesis terdapat riwayat kejang, iritasi serebral sehma masa neonaius epilepsi daIam keluarga atau penyakit susunan saraf pusat, adanya efek neurologis atau anak sedang menderita sakit khususnya penyakit traktus respiratorius yang disertai demam, reaksi lokal atau umum yang gawat setelah mendapat vaksinasi pertusis.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Pemberian vaksinasi hanya sampai anak berumur 6 tahun dengan pertimbangan morbiditas pertusis yang menurun dengan bertambahnya umur sedangkan kemungkinan koplikasi neurologis pasca vaksinasi bertambah.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Gambaran Klinik</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Masa tunas 7-14 hari, penyakit dapat berlangsung 6 minggu atau lebih dan terbagi dalam 3 stadium yaitu:</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Stadium kataralis</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Lamanya  1-2 minggu. Pada permulaan hanya batuk-batuk ringan terutama malam hari semakin lama semakin berambah berat terjadi siang dan malam.Gejala lain adalah pilek, serak, dan anoreksia Stadium ini menyerupai influenza biasa</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Stadium spasmodik</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Lamanya 2-4 minggu. Pada akhir minggu batuk semakin bertambah berapasien tampak berkeringat pembuluh darah leher dan muka melebar. Batuk sedemikian beratnya hingga pasien tampak gelisah dengan muka sianotik. Serangan batuk panjang tidak ada inspirum diantaranya dan diakhiri dengar whoop tarikan nafas panjang dan dalam berbunnyi melengking. Sering disertai muntah dan banyak sputuri yang kental. Anak dapat terberak-berak dan terkencing-kencing. Pada penyakit yang bertambah dapat terjadi perdarahan subkonjungtiva dan epitaksis karena meningkatnya tekanan pada waktu serangan batuk.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Stadium konvalesensi</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Lamanya kira-kira 2 minggu sampai sembuh. Pada minggu ke empat jumlah dan beratnya serangam batuk berkurang, juga muntah berkurang, nafsu makan timbul Kemoali, roIki difus yang terdapat pada stadium spasmodik mulai menghilang. Bila menjumpai pasien dengan batuk sudah  lama dan telah diberi obat tidak ada perbaikan apalagi keluhan batuk makin panjang disertai muntah pada akhir batuk dan suara melngking dapat diduga pasien mendeerita pertusis</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Pemeriksaan Diagnostik</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Pada stadium 1 dan 2 jumlah leukosit meningkat kadang sampai 15.000- 45.000 per mm3</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Penatalaksanaan Medik</span></strong>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Antibiotik</span></strong>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Eritromisin 50 mg/kg BB/hari dibagi 4 dosis</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Imunoglobulin: belum ada persesuaian paham</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Ekspektoransia dan mukolitik</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Kodein bila batuk berat</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Luminal sebagai sedativa</span></strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Keperawatan</span></strong>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Pemenuhan kebutuhan nutrsi</span></strong>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">kalau anak anoreksia berikan susu</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Usahakan pada setiap keadaan tenangg memberikan makanan apa saja yang bergisi misalnya makanan kecil yang dapat dimasukkan susu.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Pemberian makanan tidak boleh terlalu manis, terlalu asin atau makanan yang digoreng karena dapat merangsang batuk</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Bila pasien masih bayi segera setelah tenang berikan susu lagi.</span></strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol>
<li>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dibagi 4 dosis</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Lain-lain: kloramfenikol, tetrasiklin, kotrimoksazol</span></strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman</span></strong>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Seteiah serangan batuk reda, seka keringatnya, dan ganti pakaiannya yang kotor</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Berikan minum serta usahakan agar anak mau beristirahat</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Hindari penyebab batuk misalnya terlalu banyak menangis, tertawa bercanda yang berlebihan.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Obat harus diberikan dengan benar dan jika dimuntahkan ulangi pemberiannya setelah tenang.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Jangan membuat anak takut dengan menunjukkan kekesalan misalnya bila terjadi anak sampai terberak-berak / terkencing-kencing.</span></strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Mengurangi resiko terjadi komplikasi</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Dengan pemberian imunisasi DPT dan folio. Bila anak sakit batuk segera bawa berobat agar dapat diagnosis dini.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Kurang pengetahuan orang tua mengenai penyakit</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Pemberian penyuluhan tentang imunisasi sesuai program dan manfaat dan imunisasi. Dan menghindarkan anak yang terkena pertusis dengan anak lainnya untuk sernentara waktu</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"><br />
</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Ngastiyah.<span style="text-decoration:underline;">Perawatan Anak Sakit.</span>1997.Jakarta:EGC</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"><br />
</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">BAB II</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">ASUHAN KEBIDANAN PADA NEONATUS, BAYI DAN ANAK BALITA</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">DENGAN PERTUSIS</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> I.PENGAKUAN</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Dilakukan pada hari senin 20 Oktober 2008 pukul 10.00 WIB di BKIA Sejahtera Rejotangan.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">A. Biodata</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Klien</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Nama                           :     A</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Ttl/Umur                     :     20 Oktober 2005 / 3 Tahun</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Jenis Kelamin              :     L</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Anak ke                       :     1</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Orang Tua</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Nama                           :     Ny. C / Tn. F</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Umur                           :     20 Tahun / 27 Tahun</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Agama                         :     Islam</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Pendidikan                  :     SD / SMP</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Pekerjaan                     :     Ibu rumah tangga / Pedagang</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Alamat                        :     Ds. Tenggur, Kec. Rejotangan</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">B. Keluhan utama</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Ibu mengatakan cemas akan keadaan anaknya karena sudah 2 minggu anaknya batuk terus terutama malam hari, kadang sampai muntah dan batuknya itu suaranya melengking.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">C. Riwayat kesehatan yang lalu</span></strong>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">1. Riwayat Anternatal</span></strong>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Ibu rutin dalam memeriksakan kehamilannya (ANC) di BKIA Sejahtera, Rejotangan sebanyak 4 kali</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Ibu sudah mendapat imunisasi TT 2 kali, yaitu pada saat TT CPW 1 kali dan waktu hamil 1 kali</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Ibu sudah pernah mendapat obat-obtan yang pernah diminum adalah Fc dan Vitamin C</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Selama hamil muda, tidak ada keluhan (Normal)</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Ibu tidak mempunyai riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Ibu tidak pernah mnderita penyakit akut/kronis seperti : DM, Asma, jantung, ginjal dan TBC</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Ibu tidak pernah menderita penyakit menular, seperti : Hepatitis, Malaria, PMS, Typus, Abdominalis</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Selama hamil tua tidak ada keluhan</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Ibuu tidak pernah minum jamu dan tidak ada ketergantungan terhadap obat-obatan</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Umur kehamilan 40 minggu</span></strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">2. Riwayat Intranatal</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Ibu merasa kenceag-kenceng mulai tanggal 19 Oktober 2008 jam 18.00 WIB. Sifatnya adekuat dan internitel. Setiap 10 menit terdapat 3 kali kontraksi, setiap kontraksi lamanya 60 detik. Dan vagina di keluarkan lendir bercampur darah. Ketuban pecah tanggal 20 Oktober 2008 jam 05.00 WIB. Warna ketuban jernih dan cukup banyak, ibu tidak mengalami KPD dan bayi lahir ditolong oleh bidan, persalinan berlangsung secara spontan. Jenis kalamin bayi laki-laki dengan S.b. 3.100 Gram, PB = 43 cm, LK =35 cm, LD = 34cm. selama persalinan tidak ada penyulit dan tidak ada kelainan egenial pada bayi. Plasenta lahir jam 06.15 WIB secara spontan, lama persalinan</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Lama Persalianan</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Kelas   I     :  13 Jam</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">II   :  1,5 Jam</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">III  :  20 Menit</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">IV  :  2 Jam</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">3. Riwayat Neonatal</span></strong>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Bayi lahir secara    : Spontan</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">AS    :  7-8-9</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">BB    :  3.100 gram</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">LD    :  34cm</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">LK    :  35cm</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">PB    :  43cm</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">ULA :  12cm</span></strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">4. Riwayat Nifas</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Ibu tidak pernah minum jamu dan tidak ada pantangan terhadap  makanan/minuman</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">5. Riwayat Tumbang</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Bayi lahir normal dengan 88 = 3.100 gr, PB = 43 cm, LK = 35 cm, LD = 34cm</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Reflek Moro       : +</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Surching reflek   : +</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Roatig reflek      : +</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Greepreflek        : +</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Galant reflek      : +</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">6. Riwayat Imunisasi / Setatus Kesehatan Terakhir</span></strong></li>
</ol>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Imunaisasi yang telah di dapat</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Hepatitis</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">BCG = pada usia 3 bulan di posyandu dan imunaisasi Polio pada usia 9 bulan</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">7. Asi Dan Mpasi</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Colostrum didapat langsung setelah lahir</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">8. Perawatan Tali Pisat</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Setelah dipotong, tali pusar ditali dengan rapat dengan menggunakan tali teril, dibersihkan dan dibungkus dengan kasa steril</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">9. Riwayat Keluarga</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Dari keluarga tidak ada yang memiliki penyalit menular dan menurun menahun</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"><br />
</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">D. Pola kegiatan sehari-hari</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="216" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">AKTIVITAS</span></strong></td>
<td width="154" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">SEBELUM   SAKIT</span></strong></td>
<td width="189" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">SELAMA   SAKIT</span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="216" valign="top">
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">a. Pola tidur dan istirahat</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">1. Waktu tidur malam</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">2. Waktu tidur Siang</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">3. Hal hal yang mempermudah tidur</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">4. Hal hal yang mempermudah bangun</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">b. Pola Nutrisi</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">1. Pola Minum</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Frekuensi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Jumlah</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Jenis</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Alergi/masalah</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Upaya mengatasi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">2. Pola Makan</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Frekuensi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Jenis</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Alergi/masalah</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Upaya mengatasi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></td>
<td width="154" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">±   10 Jam</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">±   2-3 Jam</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Suara   berisik</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Sering</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">7   kali sehari</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">7   gelas / hari @200cc</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Susu,   the, air putih</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">3   x sehari (1 porsi =6 SDM)</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Nasi,   lauk pauk, sayur</span></strong></td>
<td width="189" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">±   5 jam</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Tidak   tidur</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Batuk</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Cukup</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">6   x / hari</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">2   gelas susu, 2 gelas</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Susu,   the, air putih</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">2 x sehari (1porsi =4 SDM)</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Nasi, lauk, sayur,</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Nafsu makan turun</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Dubujuk untuk makan</span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="216" valign="top">
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">c. Pola Eliminasi</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">1) BAB</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Frekuensi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Wana</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Konsistensi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Bentuk.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Bau</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Jumlah</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Keluhan</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Upaya mengatasi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">2) BAK</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Frekuensi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Warna</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Kejernihan</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Bau</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Jumlah</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Keluhan</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Upaya Mengatasi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">3) Pola Higiens</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Mandi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Cuciambut</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Ganti baju</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">4) Pola Aktivitas</span></strong></td>
<td width="154" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">1   x sehari</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Kuni</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Lunak</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Khas</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">2-4   x sehari</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Kuning</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Jernih</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Khas</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">2   x Sehari</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">3 x seminggu</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">3 x sehari</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Bermain dengan anak</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Sebayanya   pada pagidan sore hari</span></strong></td>
<td width="189" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">1 x sehari</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Kuning</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Lunak</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Khas</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">3 x Sehari</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Kuning</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Jernih</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Khas</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">3 x sehari</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">1 x seminggu</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">3 x sehari</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Tetap bermain dengan teman sebayanya   namun sebentar</span></strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"><br />
</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">E. Pemeriksaan fisik</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Keadan umum                   : Lemah</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Kesadaran       : Composmetis</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">TTV                 : Tensi        :  -</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Nadi       : 130 x / menit</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Respirasi : 35 x / menit</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Suhu       : 37°C</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Berat badan     :  Sebelum sakit           15 Kg</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Selama Sakit                        12 Kg</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Kepala</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Inspeksi     : Kulit bersih, tidak ada lesi, pertumbuhan rambut merata, tidak ada luka</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Palpasi       : Tidak ada Benjolan</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Mata</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Inspeksi     : Cekung, sklera putih keabuabuan, conjungtiva pucat</span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Telinga</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Inspeksi     : Simetris tidak ada serumen, bersih</span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Hidung</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Inspeksi     : Simetris,  ada pernafasan cuping hidung, tidak ada kelainan congonital</span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Mulut</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Inspeksi     : Simetris, tidak ada cheilosis, terdapat bau mulut</span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Leher</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Inspeksi     : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Palpasi       : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe pembesaran vena jugularis</span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Thorax</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Inspeksi     : Simetris, pernafasan tidak teratur, terdapat retraksi dada</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Askultasi   : Terdapat ronchi</span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Jantung</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Auskultasi : Tidak ada mur-mur denyut jantung terdengar jelas dan teratur</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Terdengar bunyi dup dup</span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Abdomen</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Inspeksi     : Simetris tidak ada luka,tidak ada benjolan ,pembesaran hepar tidak ada</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Palpasi       : Tidak ada pembesaran, hepar yang abnormal</span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Genotalia</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Inspeksi     : Tidak ada luka , bersih tidak ada sekret</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Palpasi       : Tidaka ada nyeri tekan</span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Ekstremitas</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Inspeksi     : Tidak ada luka</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Palpsai       : Tidak nyeri tekan</span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Integuemen</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Inspeksi     : Bersih</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Pemeriksaaan penunjang         Lab Hb = 9 gr%</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Leukosit          : 20000/cmm</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Laboraturium : ditemukan kuman gram (-) yaitu berdotella pertuseis pada apusan tenggorokklien</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"><br />
</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">II.MENGIDENTIFIKASI DIAGNOSA DN MASALAH</span></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="43" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">No</span></strong></td>
<td width="337" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">Data   Dasar</span></strong></td>
<td width="186" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">Diagnosa/Masalah</span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></td>
<td width="337" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">S  : Ibu mengatakan anaknya sudah 2minggu   batuk terus terutama pada malam hari</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">O : TTV : Tensi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Nadi : 130x/menit</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Repirsi : 35x/menit</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Suhu : 37°C</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Tharax : Inspeksi : simetris, pernafasan tidak   teratur, ada retraksi dada</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Hidung</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Inspeksi                 :   Simetris,  ada pernafasan cuping   hidung, tidak ada kelainan congonital</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Aukultasi : Terdapat ronchi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Pemeriksaan laboraturium Bordetella Partusis (+)</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">dengan epusan tenggorok</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">– DL Leukosil   20.000 HB 9 gr%</span></strong></td>
<td width="186" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">Pertusis</span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></td>
<td width="337" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">S : Ibu   mengatakan batuk anaknya kadang sampai muntah, nafsu makan anak berkurang</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">O : Keadaan   Umum lemah</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Mulut :   Simetris, tidak ada cheilosis, terdapat bau mulut</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Mata : Cekung,   palpebra normal, tidak ada odema, sklera putih keabuabuan, konjungtiva pucat</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">BB sebelum sakit :15 Kg</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">BB sesudah sakit : 12 Kg</span></strong></td>
<td width="186" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">Gangguan pola   nutrisi</span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></td>
<td width="337" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">S : Ibu mengatakan anaknay sering ternangun pada   malam hari karena batuk</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">O :    Keadaan Umum : lelah</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Mata : Cekung sklera putih keabuabuan   conjungtiva pucat</span></strong></td>
<td width="186" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">Gangguan pola   istirahat</span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></td>
<td width="337" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">S : Ibu   mengatakan Merasa cemas akan keadaan anaknya</span></strong></td>
<td width="186" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">Cemas</span></strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Terjadi emasiasi terhadap anak</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">III.IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YANG MEMERLUKAN TINGKATAN SEGERA</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Tidak ada</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">V/VI/. INTERVENSI / IMPLEMENTASI / EVALUASI</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="48"><strong><span style="color:#00ff00;">No.</span></strong></td>
<td width="156"><strong><span style="color:#00ff00;">DIAGNOSA   /</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">MASALAH</span></strong></td>
<td width="192"><strong><span style="color:#00ff00;">TUJUAN   / KRITERIA</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">HASIL</span></strong></td>
<td width="324"><strong><span style="color:#00ff00;">INTERVENSI</span></strong></td>
<td width="198"><strong><span style="color:#00ff00;">IMPLEMENTASI</span></strong></td>
<td width="185"><strong><span style="color:#00ff00;">EVALUASI</span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="48" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">1</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">2</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">3</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></td>
<td width="156" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">Pertusis</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Ds : Px tidak mengeluh batuk</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Do :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-          Anak batuk</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-          Respirasi normal</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-          Tidak ada retraksi dada</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Gangguan pola Nutrisi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Gangguan pola istirahat</span></strong></td>
<td width="192" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">Tujuan :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Batuk anak berkurang</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Kriteria hasil</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Tujuan :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Kebutuhan nutrisi tercukupi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Kriteria hasil :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Anak tidak muntah lagi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Nafsu   makan bisa kembali seperti sebelum sakit (3 x sehari 1 porro = 6 sdm)</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Berat badan anak bertambah</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Tujuan   :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Kebutuhan   istirahat anak tercukupi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Kriteria   Hasil :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Anak bisa tidur pada malm hari</span></strong></td>
<td width="324" valign="top">
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Bina Hubungan saling percaya dengan   orang tua klien</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Dengan adanya hubungan yang baik akan   dapat menciptakan hubungan kerjasama yang baik pula</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Jelaskan pada ibu klien tentang sakit   yang di derita anaknya</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Dengan ibu mengetahuipenyakit yang di   derita anaknya maka diharapkan akan mempermudah menjalin kerjasama dalam   proses pengobatan anaknya dan ibu tidak akan terlalu cemas.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Kolaborasi dengan dokter spesialis anak   dalam rangka penentuan terapi obat beserta dosisnya yaitu :</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-     Entromisin 50 mg/kg BB/hari dibagi dalam   4 dosis</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-     Ampisilin 100 mg/kg GG/hari dibagi 4   dosis</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-        Luminal sebagai sedativa</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Rasional:</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Kolaborasi dengan dokter akan   mempermudah dalam penentuan terapi obat</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Jelaskan pada orang tua klien mengenai   car minum obat</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Rasioal :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Agar kerja obat lebih maksimal dengan   cara pemberian yang tepat</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Jelaskan pada ibu agar anak dijauhkan   dari anak-anak yang lain untuk sementara waktu</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Rasioal :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Dengan mengurani kontak dengan orang   lain, maka akan mengurang penularan pertusis ke orang lain</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Jelaskan pada ibu mengenai cara   mengendalikan batuk dengan menghindari makanan gorengan dan berminyak</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">R : Gorengan dan manis   merangsang batuk</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Jelaskan pada orang tua agar diusahakan   makanan yang masuk tidak terlalu kurang</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Rasioial:</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Memenuhi   kebutuhan nutrisi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Jelaskan pada orang tua anak tidak boleh   makan-makanan yang terlalu nanis, terlalu asin, gorengan</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Rasional   :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Dapat   mengurangi batuk</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Jelaskan pada ibu untuk memberikan rasa nyama kepada   anaknya</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Rasional   :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Dengan rasa nyaman anak bisa istirahat   dan mengurangi serangan batuk</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Jelaskan pada ibu cara menghindari anak   dan penyebab serangan batuk</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Rasional :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Serangan batuk bisa diperkecil   intensitasnya</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Jelaskan pada orang tua untuk tidak   menunjukkan kekesalannya apabi1a terjadi anak sampai terberak-berak atau   terkencing-kencing</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Rasional   :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Anak-anak   merasa ketakutan</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Menjelaskan pada orang tua klien untuk   mengganti tidur malam anaknya yang kurang tidur di siang hari</span></strong></li>
</ol>
</td>
<td width="198" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">Tanggal 20-10-2008</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Pukul : 10.00 WIB</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Membina   hubungan yang lebih baik dengan ornga tua klien</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Menjelaskan   pada ibu klien tetang penyakit yang diderita anaknya</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Kolaborasi   dengan dokter spesialis anak dalam rangka penentuan terapi obat beserta   dosisnya yaitu : Obat beserta dosisnya</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Eritromisin   50 mg/kg BB/hari dibagi dalam 4 dosis</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Ampisilin   100 mg/kg BB/hari dibagi 4 dosis</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Ekspektoransia dan mukolitik</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             Luminal sebagai sedativa</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Menjeaskan pada orang tua klien mengenai cara minum   obat yaitu apabila stetelah minum obat anak muntah ulangi pemberian obat</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Menjelaskan pada ibu agar anak dijauhkan atau   dikurangi waktu bermainnya dengan anak-anak lain untuk mencegah penyebaran   penyakit yang di derita kepada orang lain</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Menjelaskan   pada ibu agar anak menghindari diberi makanan berminyak dan terlalu manis</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Menjelaskan pada orang tua klien   agar  diusahakan makanan yang masuk   tidak terlalu kurang yaitu dengan cara setiap hari batuk/muntah berikan anak   makanan/susu dan usahakan setiap keadaan tenang agar memberikan makanan  yang bergisi misalnya biskuit yang   dimasukkan susu</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Menjelaskan pada orang tua klien bahwa anak tidak boleh makan makanan   yang terlau manis, terlalu asin</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Tanggal 20-10-2008</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Pukul 11.10 WIB</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Menjelaskan pada ibu apabila anaknya batuk,   harus ada yang menemani dan membantu apabila anak muntah setelah serangan   batuk reda usahakan agar baju dibuka, seka keringat dan ganti pakaian yang   kotor terkena keringat dan muntah</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-             kemudian setelah tenang</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Menjelaskan pada ibu apabila anaknya batuk, harus ada   yang menemani dan membantu apabila anak muntah setelah serangan batuk reda   usahakan agar baju dibuka, seka keringat dan ganti pakaian yang kotor terkena   keringat dan muntal, kemudian setelah tenang berikan anak minum air putih   biasa</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Menje1askan pada ibu untuk menghindarkan anak dari   penyebab serangan batuk misalnya : menangis, tertawa, bercada yang berlebihan</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">MenjeIakan pada orang tua klien untuk tidak   menunjukkan kekesalanya apabila terjadi serangan batuk pada anak sampai   terberak-berak atau terkencing-kencing karena anak akan sangat keakutan</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ff00;">Menjelaskan pada orang tua klien untuk   mengganti tidur malam anaknya yang kurang tidur di siang hari</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></td>
<td width="185" valign="top"><strong><span style="color:#00ff00;">Tanggal 20-10-2008</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Pukul : 12.00 WIB</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">S : Ibu tampak mengerti   dengan penjelasan bidan dan mampu menanggulanginya dengan baik</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-          Ibu   mengatakan batuk pada anaknya sedikit berkurang</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">O : Batuk anak sedikit berkurang</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">-          Anak tampak lebih tenang</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">A : Masalah teratasi sebagian</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">P : Rencana dilanjutkan (3,4,5)</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Tanggal 20-10- 2008</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Pukul 1.00 WIB</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">S : ibu mengatakan aengerti   dengan penjelasan bidan dan mampu mengulanginya dengan baik</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">L: Masalah teratasi sebagian</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">P : Rencana dilanjutkan</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">Tanggal 20-10-2008 Pukul 11.20 WEB</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">S : Orang tua klien   mengatakan mengerti tentang penjelasan bidan dan mampu mengulangi penjelasan   dengan baik</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">O : orang tua klien tampak   mengerti tentang penjelasan bidan</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">A : masalah teratasi sebagian</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">P : rencana dilanjutkan</span></strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;"> </span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cyntaa.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cyntaa.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cyntaa.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cyntaa.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cyntaa.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cyntaa.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cyntaa.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cyntaa.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cyntaa.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cyntaa.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cyntaa.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cyntaa.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cyntaa.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cyntaa.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=46&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/asuhan-balita-dengan-petusis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/08999b7e3f25d95ad4491be39111db92?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cyntaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASKEB HYPERTERMI</title>
		<link>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/askeb-hypertermi/</link>
		<comments>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/askeb-hypertermi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 07:12:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cyntaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cyntaa.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[BAB I LANDASAN TEORI HIPERTERMY I. Definisi Hipertermy adalah peningkatan suhu inti tubuh yang dapat disebabkan oleh suhu lingkungan yang berlebihan, infeksi, dehidrasi atau perubahan mekanisme pengaturan panas sentral yang berhubungan dengan trauma lahir pada otak atau Malformasi dan obat-obatan. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal). Hipertermy adalah suhu tubuh yang tinggi dan bukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=39&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color:#00ffff;">BAB I</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">LANDASAN TEORI</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">HIPERTERMY</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;"> I. Definisi </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Hipertermy adalah peningkatan suhu inti tubuh yang dapat disebabkan oleh suhu lingkungan yang berlebihan, infeksi, dehidrasi atau perubahan mekanisme pengaturan panas sentral yang berhubungan dengan trauma lahir pada otak atau Malformasi dan obat-obatan. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal).</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Hipertermy adalah suhu tubuh yang tinggi dan bukan disebabkan oleh karena mekanisme pengaturan panas hipotalamus, mungkin disebabkan oleh meningkatnya produksi panas Endogen (misalnya: saat olahraga berat, Hipertermia mallana, Neuleptik mallana, Hiperteroidisme lapis), keracunan Atropin atau terpajan lama pada lingkungan bersuhu tinggi (sangat panas). (ilmu kesehatan anak).</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Infeksi Sistemik selalu dipertanyakan pada bayi dengan kenaikan suhu inti tubuhnya. Seharusnya dipertimbangkan juga pemberian lingkungan yang merubah kontrol panas, tidak jarang ditemukan kenaikan suhu inti mengikuti kenaikan pamasukan panas pada reduksi Bilirubin, juga dapat terjadi pada inkubator yang diletakkan dibawah sinar matahari.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Bayi yang bersuhu tinggi akibat lingkungan akan vasodildtasi untuk menghilangkan panas,ekstrimitas dan badan bayi akan mempunyai suhu yang hampir sama, bayi yang terkena sepsis vasokontriksinya dan ekstrimitasnya lebih dingin dari pada bagian tubuh lainnya. Kadang-kadang  disebut Gradien “Perut Jari Kaki” (Tummy Toe). Saat kaki 2-3° C lebih dingin dari perut, waktunya dilakukan fungsi spinal. Lingkungan yang terlalu panas juga cukup berbahaya bagi neonatus.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">II. Etiologi Hipertermi</span></strong></li>
</ol>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Lingkungan yang panas.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Pajanan sinar matahari yang terlalu lama</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Infeksi sistemik.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Dehidrasi</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Sepsis </span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;"> III. Macam-macam Hipertermi</span></strong></li>
</ol>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Hipertermia Maligna </span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Gangguan autosom dengan sifat dominan. Hal ini biasa  terjadi saat terjadi pajanan pada lingkungan yang sangat panas atau pada penderita Miopati.</span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Sindrom Neuroleptik Maligna</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Terjadi pasca pajanan agen-agen mirip Fenil Azin dan dapat dibedakan dengan Hipertermia Maligna.</span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Demam  Obat </span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Kenaikan suhu pada demam obat antara 38-43° celcius. Agen yang sering menimbulkan demam obat  adalah Antibiotik (Penisilin, sefalosporin ), Antikovulsan (fenitoin), apabila demam obat terjadi maka tindakan pertama adalah segera hentikan pemberian obat. Demam ini biasanya akan sembuh dalam 72 jam setelah penghentian pemberian obat.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">IV. Tanda Gejala  Hipertermi pada BBL</span></strong></li>
</ol>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Suhu tubuh lebih dari 37,5° Celcius</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Frekuensi pernafsan lebih dari 60X / menit.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Tanda-tanda dehidrasi yaitu, Berat badan turun, turgor kulit kurang, banyaknya urine berkurang.</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">V. Intervensi </span></strong></li>
</ol>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Pindahkan bayi pada ruangan yang sejuk / suhu kamar 26° &#8211; 28 ° Celcius </span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Kompres bayi dengan kain basah dengan suhu 4° Celsius lebih rendah dari suhu tubuhnya.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Berikan cairan Dektrose Nacl 1:4 sampai dehidrasi teratasi.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Apabila terjadi infeksi segera berikan antibiotika.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Apabila demam terjadi obat segera hentikan pemberian obat.</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">BAB II</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI  NY. ZZ Dengan Hipertermi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Di  BPS MINAWANGI Ds. SUMBERGEMPOL</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;"> I. Penggumpulan Data Dasar </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Pengkajian dilakukan pada hari Sabtu, 20 September 2008 pukul 09.00 Wib.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Biodata</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">1)      Klien</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Nama                                 :  Fatur</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Tempat /tanggal lahir        : Tulungagung, 18 September 2008</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Umur                                 : 2 hari</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Jenis kelamin                     : Laki-laki</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Anak ke                             : I ( pertama )</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">2)      Orang tua</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Nama                                 : Tn. Ytr / Ny. ZZ</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Umur                                 : 26 thn / 22 thn</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Agama                               : Islam  / Islam</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Pendidikan                                    : SMA/ SMA</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Pekerjaan                           : Wiraswasta / Ibu rumah tangga</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Alamat                              : Kauman, Tulungagung.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Keluhan Klien</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Ibu cemas karena sejak ± 2 jam yang lalu bayinya gelisah terus dan badannya  panas setelah di jemur selama 25 menit pada pagi hari tadi.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Riwayat kesehatan yang lalu</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">1        Riwayat antenatal</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya secara rutin / ANC rutin yaitu kebidan 3X, kepuskesmas 2X, jadi selama kehamilannya ia memeriksakan kehamilannaya sebanyak 5X. </span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Mendapat imunisasi TT lengkap.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Obat-obat yang pernah diminum : Fe,  kalk, Vit.C, Vit B6, Vit B1. </span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Keluhan selama hamil</span></strong></li>
</ol>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">TM I          : Mual muntah di pagi hari</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">TM II        : Tidak ada</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">TM III       : Sering kencing.</span></strong></li>
</ul>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Ibu tidak ada riwayat alergi terhadap makanan, minuman, maupun obat-obatan.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Tidak ada penyakit menular. </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Contohnya: hepatitis, AIDS, Typoid, PMS</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Tidak ada penyakit menurun.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Contohnya: DM, Hipertensi</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Tidak ada penyakit menahun.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Contohnya: TBC, Ashma</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">UK: 40 minggu.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Selama hamil ibu tidak ada pantangan terhadap makanan, minuman, ibu tidak mengkonsumsi  jamu-jamuan maupun obat-obatan.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">2        Riwayat Intranatal</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Ibu merasa kenceng-kenceng mulai tanggal  17 September 2008, pukul 22.00 WIB sudah mengeluarkan lendir bercampur darah. Ketuban pecah pada tanggal 18 September  pukul 11.00 wib dengan warna jernih, bau khas, tidak bercampur mekonium. Bayi lahir pada pukul 11.30 WIB  ditolong oleh bidan, persalinan  secara  spontan, jenis kelamin laki-laki, bayi lahir dengan letak belakang kepala selama persalinan tidak ada penyulit. Plasenta  lahir secara spontan 10 menit setelah bayi lahir.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Lama persalinan :        Kala I  : 12 jam </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Kala II : 30 menit</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Kala III :10 menit</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Kala IV : 2 jam.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Obat yang diberikan : Oksitosin 10µ IM.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">3        Riwayat Neonatal</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Bayi lahir secara          : Spontan </span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">AS                               : 7-10</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">BB                               : 3000 gram</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">LD                               : 34 cm </span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">LK                               : 34 cm</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">PB                               : 50 cm</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Makanan                     : Asi saja.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;"> Riwayat   Nifas </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Ibu tidak pernah minum jamu-jamuan,  tidak ada pantangan dalam makanan dan minuman tertentu.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Riwayat Tumbuh kembang </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Bayi lahir dengan BB 3000 gram, PB: 50 cm, LD: 32 cm, LK: 35 cm,  Reflek : Suching +, Rooting +,  Moro +, Grip +, Plantar +.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;"> Riwayat Imunisasi BBL : </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  Hepatitis B</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  Polio I / pertama</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  BCG</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Perawatan tali pusat : Perawatan tali pusat dilakukan sesaat setelah bayi lahir, ditali rapat dan dibungkus kasa kering.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">II. Pola Kegiatan  Sehari-hari</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Pola Nutrisi </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  Sebelum sakit : Sesering mungkin Min.2 jam sekali.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  Selama sakit    :Minum ASI satu kali.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Pola Eliminasi </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  Sebelum sakit</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">BAB : 3-4 X sekali warna kuning kecoklatan, konsistensi lunak, bau khas, tidak ada pus/ darah.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">BA K : 6-8  X sehari, warna jernih, tidak ada darah / pus.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  Selama sakit</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">BAB :  belum BAB</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">BAK : belum BAK</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Pola Istirahat </span></strong></li>
</ol>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Sebelum sakit : siang + malam ±18 jam</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Selama sakit   : belum tidur.</span></strong></li>
</ul>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Pola hygiene </span></strong></li>
</ol>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Sebelum sakit : </span></strong></li>
</ul>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Mandi                                       :2X sehari </span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Ganti baju                               : 2X sehari </span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Ganti popok                            :10-12X sehari</span></strong></li>
</ol>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Selama sakit : </span></strong></li>
</ul>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Mandi                                      : belum mandi</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Ganti baju                               : 1 X hari </span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Ganti popok                            : 1 Xsehari.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Data Psikososial.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Hubungan ibu  dengan suami, keluarga dan petugas kesehatan terjalin dengan baik.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Pemeriksaan Fisik </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">1.Tanda-tanda  vital</span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Nadi          : 130 X/menit.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Respirasi  :  65  X/menit.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Suhu axila  :37,7º Celsius.</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Kepala </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Kepala simetris, tidak ada luka/lesi, kulit kepala bersih, tidak ada benjolan/tumor, tidak ada caput succedanium, tidak ada chepal hematom.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Mata </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Simetris, konjungtiva merah muda, sclera putih keabu-abuan, palpebra tidak odema</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Hidung </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Simetris, bersih, tidak ada luka, tidak ada secret, ada pernafasan cuping hidung.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Mulut</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Bibir : simetris, tidak ada bibir dan palatum sumbing, warna pucat, tidak ada chelosis, tidak ada luka.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Lidah : bersih, tidak glositis, warna  marah jambu.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Gusi : warna merah jambu, tidak gingivitis.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Leher </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Simetris,  tidak ada pembesaran tyroid / vena jugularis / kelenjar limfe, tidak ada webbed neck.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Dada</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Simetris, bunyi jantung teratur dan jelas, tidak ada ronchi/wheezing/mur-mur.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Abdomen</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Simetris, tidak ada luka pada umbilikal, tidak ada odema, tidak ada tanda-tanda infeksi pada tali pusat  tidak ada hepotomegali.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Anogetalia</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Bersih, 2 buah testis sudah turun diskrotum, tidak ada kelainan pada genetalia, dan teraba lubang anus.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">10.  Ektrimitas atas dan bawah</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Kanan dan kiri simetris, tidak ada odema, tidak ada lesi/ luka, tidak ada gangguan pergerakan, tidak ada polidaktil / sindaktil.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">11.  Punggung</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Simetris, bersih tidak ada luka/lesi, tidak ada spina bifida.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">12.  Pemeriksaan Reflek</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Suching +</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Rooting + </span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Moro +</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Grip +</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Plantar +</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">13.  Status Gizi</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Sebelum sakit</span></strong>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">BB :3000 gram</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">PB: 50 cm</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">LD: 34 cm</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">LK: 34 cm</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Selama sakit</span></strong>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">BB :2980 gram</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">PB: 50 cm</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">LD: 34 cm</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">LK: 34 cm</span></strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Pemeriksaan penunjang</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  Tidak dilakukan</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Kesimpulan </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Bayi Fatur dengan hypertermi dengan ciri-ciri, sbb :</span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Suhu axila         : 37,7º celcius</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Pernafasan bayi : 65 X /menit</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Selama sakit belum berkemih.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Ada pernafasan cuping hidung</span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">II   IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH</span></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="335" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">DATA DASAR</span></strong></td>
<td width="201" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">DIAGNOSA</span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="335" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  DS :  Ibu cemas karena sejak ± 2 jam yang lalu bayinya gelisah terus dan   badannya  panas setelah di jemur selama   25 menit pada pagi hari tadi.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v   DO  :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">TTV :</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Nadi            :   130 X/menit.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Respirasi     : 60 X/menit.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Suhu axsila  :37,7º C</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Pemeriksaan Fisik :</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Suhu axila         : 37,7º C</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Pernafasan bayi : 65 X /menit.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Ada pernafasan cuping hidung.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></td>
<td width="201" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Diagnosa:   Hypertermi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="335" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">DATA DASAR</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  DS: Ibu mengatakan bahwa   sejak kemarin siang bayinya gelisah terus dan badannya panas setelah di jemur   pada pagi hari, klien tampak gelisah dengan keadaan bayinya.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  DO:</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color:#00ffff;"> Klien tampak gelisah dengan  keadaan bayinya.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Ibu sering bertanya-tanya   dengan keadaan bayinya. </span></strong></li>
</ul>
</td>
<td width="201" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">MASALAH</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Masalah   : cemas</span></strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">III.    IDENTIFIKASI DIAGOSA DAN MASALAH POTENSIAL</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  Dehidrasi, hypoksia</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;"> IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YG MEMERLUKAN TINDAKAN SEGERA</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  Tidak ada</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">V. VI. VII. INTERVENSI, IMPLEMENTASI, DAN EVALUASI</span></strong></li>
</ol>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="0"><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></td>
<td width="166" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">DX   / Masalah</span></strong></td>
<td colspan="2" width="175" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">Tujuan   / Kriteria keberhasilan</span></strong></td>
<td width="195" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">Intervensi</span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="0"><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></td>
<td width="166" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">Diagnosa</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Hypertermi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></td>
<td colspan="2" width="175" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">Tujuan:</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Hypertermi    yang diderita klien hilang.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Kriteria   keberhasilan</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Suhu tubuh menjadi normal yaitu 36,5-37,3º   celcius  ( suhu axsila ).</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Pernafasan kembali normal yaitu 40-60 X/menit.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Frekuensi urine kembali normal yaitu   5-6X / sehari warna kuning jernih.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></td>
<td width="195" valign="top">
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">BHSP</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Rasional : Hal ini dapat menumbuhkan rasa saling percaya sehingga   mempermudah tindakan medis.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Pindahkan bayi dalam ruangan dengan suhu ruangan   Yang lebih sejuk.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Rasional : Dengan  berada dalam   ruangan dengan suhu yang lebih sejuk dapat    mempercepat respon hipotalamus dalam menurunkan panas tubuh.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Kompres hangat bayi.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Rasional :  Dengan  memberikan kompres panas akan membantu   mempercepat respon hipotalamus untuk menghentikan produksi panas.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Beri HE tentang cara menjemur bayi yang baik.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Rasional : Dengan mengerti cara menjemur yang baik maka bayi   akan  terhindar pajanan sinar matahari   yang terlalu lama.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Anjurkan untuk memberikan ASI.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Rasional : Agar bayi mendapat asupan gizi yang baik.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Cegah terjadinya dehidrasi.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Rasional : Dengan mencegah terjadinya dehidrasi dapat mengurangi   resiko terjadi komplikasi yang lebih lanjut.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" width="270" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">Implementasi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"><br />
</span></strong><strong><span style="color:#00ffff;">Dilakukan pada Sabtu 20 September 2008 pukul  10.00 Wib</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Membina hubungan saling percaya antara klien /   keluarga dengan petugas kesehatan.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Memindahakan bayi pada ruangan yang lebih sejuk   yaitu pada suhu antara 26º &#8211; 28º Celcius hingga suhu bayi kembali normal.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Mengkompres bayi dengan kain basah  hangat hingga  panas menurun dan suhu menjadi normal.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Memberikan informasi dan  edukasi tentang cara menjemur bati yang   efektif yaitu : </span></strong>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Jemur bayi    pada waktu yang paling efektif yaitu pada pukul 07.00- 08.00 Wib dan   pada pukul 15.00 -16.00 Wib selama ± 15 menit. </span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Ingat jaga agar mata bayi terhindar dari pancaran   langsung sinar matahari karena hal ini dapat merusak  lensa mata bayi. </span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Usahakan agar seluruh tubuh bayi mendapat  pancaran sinar. Dengan cara  membolak – balik tubuh  terutama pada bagian punggungnya. </span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Jaga agar bayi tidak kediginan.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;"> Menganjurkan ibu untuk sesering mungkin   memberikan ASI  kepada bayinya .</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Mencegah terjadinya dehidarsi dengan sesegera   mungkin memberikan ASI pada bayinya.</span></strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></td>
<td colspan="2" width="266" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">Evaluasi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Dilakukan   pada hari Sabtu 20 September 2008 pukul 11.00 Wib.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">S :  Ibu mengatakan bahwa ia telah mengerti   tentang keadaan anaknya. Ibu mau untuk melaksanakan semua nasihat-   nasihat  dan anjuran yang telah   diberikan oleh bidan.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">O   :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  Suhu tubuh bayi sudah menurun menjadi 37,3º   celcius</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  Ibu dapat mengulangi semua penjelasan yang telah   diberikan dengan baik dan lancar</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">A : Masalah teratasi sebagian</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">P:  Rencana   di lanjutkan di rumah</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">1)      Anjurkan pada ibu untuk selalu menjemur bayinya   dengan cara-cara yang efektif.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">2)      Anjurkan pada ibu untuk datang 3 hari atau   sewaktu-waktu bila suhu tubuh bayinya meningkat lagi.</span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="0"><strong><br />
</strong></td>
<td width="170"><strong><br />
</strong></td>
<td width="123"><strong><br />
</strong></td>
<td width="73"><strong><br />
</strong></td>
<td width="238"><strong><br />
</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="537">
<tbody>
<tr>
<td width="179" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">DX/Masalah</span></strong></td>
<td width="179" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">Tujuan/ Kreteria keberhasilan</span></strong></td>
<td width="179" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">Intervensi</span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="179" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">Masalah: Cemas</span></strong></td>
<td width="179" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">Tujuan :</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Cemas teratasi </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Kriteria beberhasilan :</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Klien tampak tenang</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Ibu  paham dan mengerti tentang penjelasan yang   telah diberikan.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">BHSP</span></strong></li>
</ol>
</td>
<td width="179" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">Rasional : Hal ini dapat menumbuhkan rasa   saling percaya sehingga mempermudah tindakan medis.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Segera lakukan pemeriksaan dan tindakan   untuk mengatasi peningkatan suhu tubuh pada bayi </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Rasional : Dengan segera melalukan pemeriksaan dapat segera  diketahui penyebab dari peningkatan suhu   bayi dan terapinya.</span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Jelaskan penyebab dari peningkatan suhu </span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Rasional: dengan mengerti penyebab dari peningkatan suhu tubuh bayinya   ibu akan merasa lebih tenang.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="272" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">Implementasi</span></strong></td>
<td width="272" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;">Evaluasi</span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="272" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Dilakukan   pada hari Sabtu 20 September 2008 pukul 10.25 wib</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;"> Membina hubungan saling percaya antara   klien/keluarga dengan petugas kesehatan</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Melakukan anamesa dan pemeriksaan fisik   pada bayi serta segera melakukan tindakan yaitu dengan cara memindahkan bayi   pada ruangan yang lebih dingin suhunya (26º-28C) serta memberikan kompres   hangat.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="color:#00ffff;">Menjelaskan penyebab dari peningkatan   suhu bayi yaitu karena proses penjemuran yang terlalau lama.</span></strong></li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></td>
<td width="272" valign="top"><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">Dilakukan pada hari Sabtu 20 September 2008 pukul 11.05</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">S : Ibu mengatakan bahwa ia   telah mengerti penyebab peningkatan suhu bayinya. Ia juga telah merasa tenang   dengan keadaan bayinya.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">O :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  Ibu dapat mengulangi semua penjelasan   yang telah diberikan dengan baik dan lancar.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  Ibu tampak lebih tenang dan tidak   bertanya-tanya lagi.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">A : Masalah teratasi</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">P :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;">v  Anjurkan pada ibu untuk datang 3 hari atau   sewaktu-waktu bila suhu tubuh bayinya meningkat lagi.</span></strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#00ffff;"> </span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cyntaa.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cyntaa.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cyntaa.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cyntaa.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cyntaa.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cyntaa.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cyntaa.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cyntaa.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cyntaa.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cyntaa.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cyntaa.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cyntaa.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cyntaa.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cyntaa.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=39&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/26/askeb-hypertermi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/08999b7e3f25d95ad4491be39111db92?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cyntaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GIZI Balita</title>
		<link>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/25/gizi-balita/</link>
		<comments>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/25/gizi-balita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 12:28:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cyntaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cyntaa.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[GIZI  BALITA dan ANAK Usia balita dikatakan sebagai periode laten, karena pertumbuhan fisik sudah tidak sedramatis ketika masih berstatus bayi tetapi aktifitasnya lebih banyak. Karakteristik pertumbuhan dan perkembangan selama masa kanak-kanak adalah laju pertumbuhan yang menurun drastis pada usia satu tahun dan berlanjut secara tidak teratur selama masa kanak-kanak. Berat badan baku pada anak dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=24&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>GIZI  BALITA dan ANAK</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Usia balita dikatakan sebagai periode <em>laten</em>, karena pertumbuhan fisik sudah tidak sedramatis ketika masih berstatus bayi tetapi aktifitasnya lebih banyak. Karakteristik pertumbuhan dan perkembangan selama masa kanak-kanak adalah laju pertumbuhan yang menurun drastis pada usia satu tahun dan berlanjut secara tidak teratur selama masa kanak-kanak.</p>
<p>Berat badan baku pada anak dapat mengacu pada baku BB dan TB dari WHO/NCHS, atau rumus perkiraan BB anak :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>BB anak usia 1-6 tahun = [usia x 2 + 8]</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="96" valign="top"><strong>USIA (th)</strong></td>
<td width="120" valign="top"><strong>BB (kg)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="96" valign="top">1</td>
<td width="120" valign="top">10</td>
</tr>
<tr>
<td width="96" valign="top">2</td>
<td width="120" valign="top">12</td>
</tr>
<tr>
<td width="96" valign="top">3</td>
<td width="120" valign="top">14</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Masa balita merupakan masa pertumbuhan sehingga memerlukan gizi yang baik. Apabila gizinya buruk maka akan mengganggu kesehatan, perkembangan otaknyapun kurang dan itu akan berpengaruh pada kehidupannya di usia prasekolah maupun sekolah. Bahkan ada yang mengatakan bahwa ”<em>the child is the father of the man</em>”. Sehingga setiap kelainan atau penyimpangan sekecil apapun apabila tidak terdeteksi apalagi tidak ditangani dengan baik, akan mengurangi kualitas sumber daya manusia kelak kemudian hari. Namun pada kenyataannya justru balita merupakan kelompok umur yang paling sering menderita akibat kekurangan gizi.</p>
<p><strong>PRINSIP PEMBERIAN MAKANAN PADA BAYI DAN ANAK</strong></p>
<ol>
<li>Tinggi energi, protein, vitamin dan mineral</li>
<li>Dapat diterima oleh bayi dan anak dengan baik</li>
<li>Diproduksi setempat dan menggunakan bahan-bahan      setempat</li>
<li>Mudah didapat dalam bentuk kering dengan demikian      mudah disimpan dan praktis penggunaannya</li>
<li>Ringkas tetapi mempunyai nilai gizi maksimum</li>
</ol>
<p><strong>Kecukupan gizi balita</strong></p>
<p>Sebagaimana kelompok usia lain yang lebih tua, pemberian makanan pada balita harus memenuhi kebutuhan balita itu yang meliputi kebutuhan kalori serta kebutuhan zat-zat gizi utama yang meliputi 5 komponen dasar, yakni hidrat arang, protein, lemak, vitamin dan mineral. Kesemua zat gizi ini memiliki fungsi masing-masing, serta harus terdapat bersamaan pada suatu waktu.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Energi</span></strong></p>
<p>Zat gizi yang mengandung energi terdiri dari protein, lemak dan karbohidrat. Dianjurkan supaya jumlah energi yang diperlukan didapatkan dari 50-60% karbohidrat, 25-35% lemak, selebihnya 10-15% protein.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Protein</span></strong></p>
<p>Disarankan untuk memberi 2,5-3 gr/kg BB. Protein yang diberikan dianggap adekuat jika mengandung semua asam amino esensial dalam jumlah yang cukup, mudah dicerna dan diserap tubuh, serta harus yang berkualitas tinggi seperti protein hewani.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Mineral dan Vitamin</span></strong></p>
<p>Susu sapi merupakan sumber yang baik bagi beberapa vitamin dan mineral seperti kalsium dan fosfor. Tiap 500-600 ml susu mengandung kurang lebih 0,7-0,8 gram kalsium dan cukup fosfor bagi pembentukan tulang dan gigi. Menu yang setiap harinya mengandung susu, daging, ayam, ikan, telur, sayur, buah dan serealia (nasi, roti, kentang, mi) akan mengandung cukup vitamin dan mineral.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Cairan</span></strong></p>
<p>Pada umumnya anak sehat memerlukan 1000 – 1500 ml air setiap harinya. Pada keadaan sakit seperti infeksi dengan suhu tubuh tinggi, diare atau muntah masukan cairan harus ditingkatkan untuk menghindari kekurangan cairan (dehidrasi).</p>
<p><strong>MAKANAN SEHAT BAGI BALITA DAN ANAK</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Bahan makanan</span></strong></p>
<p>Beberapa jenis bahan makanan dapat langsung dimakan, misalnya buah-buahan, susu. Namun banyak bahan makanan yang memerlukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dapat dimakan, seperti beras, tepung, minyak, dll</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Hidangan makanan</span></strong></p>
<p>Hidangan merupakan jenis makanan yang disajikan untuk dimakan. Disini peran orang tua harus memutuskan apa yang anaknya harus makan, khususnya pada usia 1-3 tahun karena pada usia ini anak bersifat konsumen pasif dan rentan terhadap penyakit gizi (KKP dan anemia) . Anak harus memutuskan seberapa banyak. Jadi tidak boleh memberlakukan ”<em>habiskan makanan dipiringmu</em>” tetapi ”<em>cobalah sedikit segala makanan</em>”. Sebaliknya pada usia 4-6 tahun anak bersifat konsumen aktif (dapat memilih sendiri makanannya) sehingga pada usia ini orang tua mulai dapat memberikan pendidikan gizi.</p>
<p>Untuk mencukupi kebutuhan zat gizi pada anak yang kurang dapat makan banyak saat jam makan, dapat diberikan kudapan guna memberi tambahan protein, kalori dan nutrisi esensial. Kudapan sebaiknya diberikan minimal 90 menit sebelum makan untuk menghindari pengaruhnya terhadap nafsu makan.</p>
<p>Sedangkan pada anak sekolah, mereka cenderung lebih aktif memilih makanan yang ia sukai. Kebutuhan energinapun lebih besar karena aktifitas fisik lebih banyak dan pertumbuhan lebih cepat terutama penambahan TB. Karena aktifitasnya diluar rumah banyak à lupa waktu makan, sehingga sarapan penting untuk mencegah <em>hipoglikemi</em>.  Dan mulai usia 10-12 tahun:</p>
<p>-       anak laki-laki lebih banyak aktifitas</p>
<p>-       anak perempuan sudah mulai haid</p>
<p>à Protein dan zat besi banyak</p>
<p><strong>PENILAIAN PERTUMBUHAN FISIK PADA BALITA</strong></p>
<p>UKURAN ANTROPOMETRI</p>
<p>Terdiri dari</p>
<ul>
<li>Berat Badan</li>
</ul>
<p>Merupakan hasil peningkatan atau penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh. Pemantauan BB balita dapat dilihat pada KMS. BB merupakan  yang baik untuk mengetahui status pada balita.</p>
<ul>
<li>Tinggi Badan</li>
</ul>
<p>Merupakan ukuran antropometrik kedua yang penting. Kenaikan rata-rata TB anak para sekolah adalah 6-8 cm/tahun.</p>
<ul>
<li>Lingkar kepala</li>
</ul>
<p>Dipakai untuk menafsir volume intracranial, yang dipakai untuk menaksir pertumbuhan otak.</p>
<p>Lingkar kepala bayi baru lahir rata-rata 34 cm. Pada umur 6 bulan rata-rata lingkar kepalanya adalah 44 cm, umur 1 tahun 47 cm, 2 tahun 49 cm, dan dewasa 54 cm.</p>
<ul>
<li>Lingkar Lengan Atas (LILA)</li>
</ul>
<p>LILA mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang terpengaruh banyak oleh keadaan cairan tubuh dibandingkan dengan BB. LILA dipakai untuk menilai keadaan gizi atau tumbuh kembang pada usia prasekolah. Rata-rata LILA BBL 11 cm, dan menjadi 16 cm pada usia 1 tahun. Selanjutnya tidak banyak berubah selama 1-3 tahun.</p>
<ul>
<li>Lipatan Kulit</li>
</ul>
<p>Tebalnya lipatan kulit pada daerah trisep dan subskapular merupakan refleksi tumbuh kembang jaringan lemak di bawah kulit yang mencerminkan kecukupan energi.</p>
<p><strong>Contoh makan sehat untuk balita</strong></p>
<ul>
<li>Pagi:</li>
</ul>
<p>Bubur beras atau roti dioles mentega telur atau ikan susu 1gelas</p>
<ul>
<li>Siang:</li>
</ul>
<p>Nasi daging ayam ikan telur tahu atau tempe sayur seperti tomat wortel bayam,buah seperti pisang jeruk pepaya apel 1 gelas susu</p>
<ul>
<li>Sore atau malam</li>
</ul>
<p>Nasi atau roti di oles mentega daging ayam ikan tahu atau tempe sayur mayur buah atau puding 1 gelas susu</p>
<p><a href="http://cyntaa.files.wordpress.com/2010/02/images.jpeg"><img class="alignnone size-full wp-image-29" title="images" src="http://cyntaa.files.wordpress.com/2010/02/images.jpeg?w=450" alt=""   /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cyntaa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cyntaa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cyntaa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cyntaa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cyntaa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cyntaa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cyntaa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cyntaa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cyntaa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cyntaa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cyntaa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cyntaa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cyntaa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cyntaa.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=24&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/25/gizi-balita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/08999b7e3f25d95ad4491be39111db92?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cyntaa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cyntaa.files.wordpress.com/2010/02/images.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HIPEREMESIS GRAVIDARUM</title>
		<link>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/23/hiperemesis-gravidarum/</link>
		<comments>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/23/hiperemesis-gravidarum/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 16:16:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cyntaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBIDANAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cyntaa.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala – gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=11&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BAB I<br />
PENDAHULUAN<br />
A. Latar belakang<br />
Mual (nausea) dan muntah  (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada  kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi  dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala – gejala ini kurang  lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan  berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi pada  60 – 80% primi gravida dan 40 – 60% multi gravida. Satu diantara seribu  kehamilan, gejala – gejala ini menjadi lebih berat</p>
<p>Perasaan mual ini desebabkan oleh karena  meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG (Human Chorionic  Gonadrotropin) dalam serum. Pengaruh Fisiologik kenaikan hormon ini  belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung  lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan  keadaan ini, meskipun demikian gejala mual dan muntah yang berat dapat  berlangsung sampai 4 bulan. Pekerjaan sehari – hari menjadi terganggu  dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan inilah yang disebut hiperemesis  gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologis menentukan berat  ringannya penyakit. (Prawirohardjo, 2002)</p>
<p>Mual dan muntah  merupakan gangguan yang paling sering kita jumpai pada kehamilan muda  dan dikemukakan oleh 50 – 70% wanita hamil dalam 16 minggu pertama.  Kurang lebih 66% wanita hamil trimester pertama mengalami mual- mual dan  44% mengalami muntah – muntah. Wanita hamil memuntahkan segala apa yang  dimakan dan diminum hingga berat badannya sangat turun, turgor kulit  berkurang, diuresis berkurang dan timbul asetonuri, keadaan ini disebut  hiperemesis gravidarum dan memerlukan perawatan di rumah sakit.  Perbandingan insidensi hiperemesis gravidarum<br />
4 : 1000 kehamilan.  (Sastrawinata, 2004)</p>
<p>Diduga 50% sampai 80% ibu hamil mengalami  mual dan muntah dan kira – kira 5% dari ibu hamil membutuhkan penanganan  untuk penggantian cairan dan koreksi ketidakseimbangan elektrolit. Mual  dan muntah khas kehamilan terjadi selama trimester pertama dan paling  mudah disebabkan oleh peningkatan jumlah HCG. Mual juga dihubungkan  dengan perubahan dalam indra penciuman dan perasaan pada awal kehamilan.  (Walsh, 2007)<br />
Hiperemesis gravidarum didefinisikan sebagai vomitus  yang berlebihan atau tidak terkendali selama masa hamil, yang  menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atu defisiensi  nutrisi, dan kehilangan berat badan. Insiden kondisi ini sekitar 3,5 per  1000 kelahiran. Walaupun kebanyakan kasus hilang dan hilang seiring  perjalanan waktu, satu dari setiap 1000 wanita hamil akanmenjalani rawat  inap. Hiperemesis gravidarum umumnya hilang dengan sendirinya  (self-limiting), tetapi penyembuhan berjalan lambat dan relaps  sering  umum terjadi. Kondisi sering terjadi diantara wanita primigravida dan  cenderung terjadi lagi pada kehamilan berikutnya. (Lowdermilk, 2004)</p>
<p>B.  Tujuan Penulisan<br />
1. Untuk mengetahui definisi hiperemesis gravidarum<br />
2.  Untuk mengetahui etiologi hiperemesis gravidarum<br />
3. Untuk mengetahui  patofisiologi hiperemesis gravidarum<br />
4. Untuk mengetahui gejala dan  tanda hiperemesis gravidarum<br />
5. Untuk mengetahui diagnosis  hiperemesis gravidarum<br />
6. Untuk mengetahui pencegahan hiperemesis  gravidarum<br />
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan hiperemesis gravidarum</p>
<p>C. Manfaat Penulisan<br />
Diharapkan kepada pembaca terutama  mahasisiwi  kebidanan untuk mengerti dan memahami tentang hiperemesis  gravidarum sehingga dapat melakukan pencegahan dan penatalaksanaan pada  ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum.</p>
<p>D. RUMUSAN  MASALAH<br />
Wanita hamil yang mengalami mual</p>
<p>E. METODE  PENULISAN<br />
Dalam penulisan makalah ini menggunakan metode pustaka.</p>
<p>BAB  II<br />
PEMBAHASAN<br />
A. Definisi<br />
Hiperemesis gravidarum adalah mual  dan muntah berlebihan sehingga pekerjaan sehari – hari terganggu dan  keadaan umum menjadi buruk. (Arif, 1999)</p>
<p>Hiperemesis gravidarum  adalah mual – muntah berlebihan sehingga menimbulkan gangguan aktivitas  sehari – hari dan bahkan membahayakan hidupnya. (Manuaba, 2001)</p>
<p>Wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum hingga  berat badannya sangat turun, turgor kulit berkurang, diuresis berkurang  dan timbul asetonuri, keadaan ini disebut hiperemesis gravidarum.  (Sastrawinata, 2004)</p>
<p>Hiperemesis gravidarum adalah vomitus yang  berlebihan atau tidak terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan  dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atau defisiensi nutrisi, dan  kehilangan berat badan. (Lowdermilk, 2004)</p>
<p>Hiperemesis  gravidarum adalah suatu keadaan (biasanya pada hamil muda) dimana  penderita mengalami mual- muntah yang berlebihan, sedemikian rupa  sehingga mengganggu aktivitas dan kesehatan penderita secara  keseluruhan. (Achadiat, 2004)</p>
<p>B. Etiologi<br />
Penyebab  hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti  bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik, juga tidak ditemukan  kelainan biokimia. Perubahan – perubahan anatomik pada otak, jantung,  hati dan susunan saraf, disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat –  zat lain akibat inanisi. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain  yang telah ditemukan oleh beberapa penulis sebagai berikut :<br />
1.  faktor predisposisi :<br />
a. Primigravida<br />
b. Overdistensi  rahim : hidramnion,  kehamilan ganda,  estrogen dan HCG tinggi, mola  hidatidosa<br />
2. Faktor organik :<br />
a. Masuknya vili khorialis  dalam sirkulasi maternal<br />
b. Perubahan metabolik akibat hamil<br />
c.  resistensi yang menurun dari pihak ibu.<br />
d. Alergi<br />
3.  faktor psikologis :<br />
a. Rumah tangga yang retak<br />
b. Hamil  yang tidak diinginkan<br />
c. takut terhadap kehamilan dan persalinan<br />
d. takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu<br />
e. Kehilangan  pekerjaan</p>
<p>C. Patofisiologi<br />
Hiperemesis gravidarum yang  merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda bila terjadi terus  menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit  dengan alkalosis hipokloremik.<br />
1. Hiperemesis gravidarum dapat  mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk  keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna terjadilah  ketosis dengan tertimbunnya asam aseton – asetik, asam hidroksi butirik  dan aseton dalam darah.<br />
2. Kekurangan cairan yang diminum dan  kehilangan karena muntah menyebabkan dehidrasi sehingga cairan  ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan khlorida darah dan  khlorida air kemih turun. Selain itu juga dapat menyebabkan  hemokonsentrasi sehingga aliran darah ke jaringan berkurang<br />
3.  Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi  lewat ginjal menambah frekuensi muntah – muntah lebih banyak, dapat  merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan<br />
4.  Selain dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit dapat terjadi  robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (Sindroma  Mallory-Weiss) dengan akibat perdarahan gastro intestinal.</p>
<p>D.  Gejala dan Tanda<br />
Batas jelas antara mual yang masih fisiologik dalam  kehamilan dengan hiperemesis gravidarum tidak ada, tetapi bila keadaan  umum penderita terpengaruh, sebaiknya ini dianggap sebagai hiperemesis  gravidarum. Hiperemesis gravidarum menurut berat ringannya gejala dapat  dibagi :<br />
1. Tingkatan I<br />
a. Muntah terus menerus sehingga  menimbulkan :<br />
1) Dehidrasi : turgor kulit turun<br />
2)  Nafsu makan berkurang<br />
3) Berat badan turun<br />
4)  Mata cekung dan lidah kering<br />
b. Epigastrium nyeri<br />
karena asam lambung meningkat dan terjadi regurgitasi ke esofagus<br />
c. Nadi meningkat dan tekanan darah turun<br />
d. Frekuensi nadi  sekitar 100 kali/menit<br />
e. Tampak lemah dan lemas<br />
2.  Tingkatan II<br />
a. Dehidrasi semakin meningkat akibatnya :<br />
1) Turgor kulit makin turun<br />
2) Lidah kering dan kotor<br />
3) Mata tampak cekung dan sedikit ikteris<br />
b.  Kardiovaskuler<br />
1) Frekuensi nadi semakin cepat &gt; 100  kali/menit<br />
2) Nadi kecil karena volume darah turun<br />
3) Suhu badan meningkat<br />
4) Tekanan darah turun</p>
<p>c. Liver<br />
1) Fungsi hati terganggu sehingga menimbulkan  ikterus<br />
d. Ginjal<br />
Dehidrasi menimbulkan gangguan  fungsi ginjal yang yang menyebabkan  :<br />
1) Oliguria<br />
2) Anuria<br />
3) Terdapat timbunan benda keton aseton<br />
Aseton dapat tercium dalam hawa pernafasan<br />
e. Kadang – kadang  muntah bercampur darah akibat ruptur esofagus dan pecahnya   mukosa  lambung pada sindrom mallory weiss.<br />
3. Tingkatan III<br />
a.  Keadaan umum lebih parah<br />
b. Muntah berhenti<br />
c. Sindrom  mallory weiss<br />
d. Keadaan kesadran makin menurun hingga mencapai  somnollen atau koma<br />
e. Terdapat ensefalopati werniche :<br />
1) Nistagmus<br />
2) Diplopia<br />
3) Gangguan mental<br />
f.  Kardiovaskuler<br />
1) Nadi kecil, tekanan darh menurun, dan  temperatur meningkat<br />
g. Gastrointestinal<br />
1) Ikterus  semakin berat<br />
2) Terdapat timbunan aseton yang makin tinggi  dengan bau yang makin tajam<br />
h. Ginjal<br />
1) Oliguria semakin  parah dan menjadi anuria</p>
<p>E. Diagnosis<br />
Diagnosis hiperemesis  gravidarum biasanya tidak sukar. Harus ditentukan adanya kehamilan muda  dan muntah terus menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum. Namun  demikian harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit pielonefritis,  hepatitis, ulkus ventrikuli dan tumor serebri yang dapat pula memberikan  gejala muntah.<br />
Hiperemesis gravidarum yang terus menerus dapat  menyebabkan kekurangan makanan yang dapat mempengaruhi perkembangan  janin, sehingga pengobatan perlu segera diberikan.</p>
<p>E. Pencegahan<br />
Prinsip pencegahan adalah mengobati emesis  agar tidak terjadi  hiperemesis gravidarum dengan cara :<br />
1.  Memberikan penerangan  tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik<br />
2.  Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang – kadang muntah merupakan  gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah  kehamilan 4 bulan.<br />
3. Menganjurkan mengubah makan sehari – hari  dengan makanan dalam jumlah kecil tapi sering<br />
4. Menganjurkan  pada  waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, erlebih dahulu  makan roti kering atau biskuit dengan dengan teh hangat.<br />
5. makanan  yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan<br />
6. Makanan  seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin<br />
7.  Defekasi teratur<br />
8. Menghindari kekurangan karbohidrat merupakan  faktor penting, dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.</p>
<p>F.  Penatalaksanaan<br />
Apabila dengan cara diatas keluhan dan gejala tidak  mengurang maka diperlukan :<br />
1. Obat – obatan<br />
a. Sedativa :  phenobarbital<br />
b. Vitamin : Vitamin B1 dan B6 atau B – kompleks<br />
c.  Anti histamin : Dramamin, avomin<br />
d. Anti emetik (pada keadan lebih  berat) : Disiklomin hidrokhloride atau khlorpromasin<br />
Penanganan  hiperemesis gravidarum yang lebih berat perlu dikelola di rumah sakit.<br />
2.  Isolasi<br />
a. Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi  cerah dan peredaran udara yang baik.<br />
b. Catat cairan yang keluar  masuk.<br />
c. Hanya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam kamar  penderita, sampai muntah berhenti dan penderita mau makan.<br />
d. Tidak  diberikan makanan/minuman  dan selama 24 jam.<br />
Kadang – kadang dengan  isolasi saja gejala – gejala akan berkurang atau hilang tanpa  pengobatan.<br />
3. Terapi psikologik<br />
a. Perlu diyakinkan kepada  penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan<br />
b. Hilangkan rasa takut  oleh karena kehamilan<br />
c. Kurangi pekerjaan sera menghilangkan masalah  dan konflik<br />
4. Cairan parenteral<br />
a. Cairan yang cukup  elektrolit, karbohidrat dan protein dengan glukose 5% dalam cairan  fisiologis (2 – 3 liter/hari)<br />
b. Dapat ditambah kalium, dan  vitamin(vitamin B kompleks, Vitamin C)<br />
c. Bila kekurangan protein  dapat diberikan asam amino secara intravena<br />
d. Bila dalam 24 jam  penderita tidak muntah dan keadaan umum membaik dapat diberikan minuman  dan lambat laun makanan yang tidak cair<br />
Dengan penanganan diatas,  pada umumnya gejala – gejala akan berkurang dan keadaan akan bertambah  baik<br />
5. Menghentikan kehamilan<br />
Bila pegobatan tidak berhasil,  bahkan gejala semakin berat hingga timbul ikterus, delirium, koma,  takikardia, anuria, dan perdarahan retina, pertimbangan abortus  terapeutik.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cyntaa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cyntaa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cyntaa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cyntaa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cyntaa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cyntaa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cyntaa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cyntaa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cyntaa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cyntaa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cyntaa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cyntaa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cyntaa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cyntaa.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=11&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/23/hiperemesis-gravidarum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/08999b7e3f25d95ad4491be39111db92?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cyntaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEHAMILAN EKTOPIK</title>
		<link>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/23/kehamilan-ektopik/</link>
		<comments>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/23/kehamilan-ektopik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 16:11:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cyntaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBIDANAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cyntaa.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Definisi Kehamilan ektopik adalah kehamilan ektopik terjadi kalau ovum yang sudah dibuahi tertanam bukan pada daerah kavum uteri. Kehamilan ini jarang dapat berlanjut lebih lama dari 6- 10 minggu karena salah satu hal berikut ini : lokasi tidak sesuai bagi pertumbuhan plasenta yang memuaskan atau tidak adanya tempat yang cukup untuk menampung kehamilan yang berkembang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=12&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Definisi</li>
</ol>
<p>Kehamilan ektopik adalah kehamilan ektopik terjadi kalau ovum yang sudah dibuahi tertanam bukan pada daerah kavum uteri.</p>
<p>Kehamilan ini jarang dapat berlanjut lebih lama dari 6- 10 minggu karena salah satu hal berikut ini : lokasi tidak sesuai bagi pertumbuhan plasenta yang memuaskan atau tidak adanya tempat yang cukup untuk menampung kehamilan yang berkembang</p>
<ol>
<li>Lokasi implantasi ektopik</li>
</ol>
<p>Kehamilan ektopik dapat terjadi pada :</p>
<p>-          Tuba fallopii</p>
<p>-          Serviks</p>
<p>-          Kavum abdomen</p>
<p>-          Ligamentum latum</p>
<p>Sejauh ini kehamilan tuba adalah jenis kehamilan ektopik yang paling sering ditemukan dan merupakan salah satunya kehamilan ektopik yang akan dibahas secara rinci disini. Kehamilan abdominal sangat jarang berlangsung sampai aterm sehingga harus dilahirkan dengan laparatomi. Plasenta akan menempelkan diri pada organ apapun yang dapat memasok kebutuhanya dan pengangkatan plasenta pada kehamilan abdominal akan menimbulkan permasalahan serius, khususnya bahaya perdarahan.</p>
<ol>
<li>Patofisiologi</li>
</ol>
<p>Kehamilan tuba akan menghasilkan salah satu dari tiga hasil akhir ini</p>
<p>-          Kematian ovum dalam stsdium dini . Ovum inin kemudian bisa diabsorpsi seluruhnya atau tetep tinggal sebagai mola tuba.</p>
<p>-          Abortus tuba yaitu hasil akhir yang paling sering ditemukan bersama- sama ovum ( dan kemungkinan darah )  akan dikeluarkan dari tuba untuk masuk kedalam uterus atau keluar kedalam kavum peritoneum. Kejadian ini biasanya mengakibatkan kematian ovum . Kadang – kadang ovum tersebut tertanam kembali dan berkembang menjadi kehamilan abdominal sekunder.</p>
<p>-          Ruptura tuba , erosi dan akhirnya ruptura tuba terjadi kalau ovum terus tumbuh hingga melampaui kemampuan peregangan otot tuba . Ruptura tuba biasanya disertai dengan rupture salah satu atau lebih pembuluh aneriele yang besar sehingga terjadi perdarahan hebat yang akan mengalir ke dalam kavum deuglasi untuk membentuk hematokel pelvic.</p>
<ol>
<li>Etiologi</li>
</ol>
<p>Penyebab kehamilan ektopik ada yang diketahui dan ada pula yang tidak atau belum diketahui . Ada beberapa factor penyebab kehamilan ektopik :</p>
<p>*    Faktor uterus</p>
<p>-     Tumor rahim yang menekan tuba</p>
<p>-     Uterus hipoplasia</p>
<p>*    Faktor tuba</p>
<p>-     Penyempitan lumen tuba oleh karena infeksi endosalfing</p>
<p>-     Tuba sempit , panjang dan berlekuk – lekuk</p>
<p>-     Gangguan fungsi rambut getar ( silia ) tuba</p>
<p>-     Operasi dan sterilisasi tuba yang tidak sempurna</p>
<p>-     Endometriosis tuba</p>
<p>-     Striktur tuba</p>
<p>-     Divertikel tuba dan kelainan kongenital lainya</p>
<p>-     Perlekatan peritubal dan lekukan tuba</p>
<p>-     Tuba lain menekan tuba</p>
<p>-     Lumen kembar dan sempit</p>
<p>*    Faktor ovum</p>
<p>-     Migrasi eksterna dari ovum</p>
<p>-     Perlekatan membrane granulose</p>
<p>-`    Rapid sel devision</p>
<p>-     Migrasi internal ovum</p>
<p>E.  Klasifikasi kehamilan ektopik</p>
<p>1.   Kehamilan tuba</p>
<p>- Intersisial ( 2%)</p>
<p>-  Istmus ( 25% )</p>
<p>-  Ampula</p>
<p>-  Fimbrial</p>
<p>2.   Kehamilan ovarial</p>
<p>3.   Kehamilan abdominal primer dan sekunder</p>
<p>4    Kehamilan tuba ovarial</p>
<p>5    Kehamilan intraligamentar</p>
<p>6.   Kehamilan servikal</p>
<p>7.   Kehamilan tanduk rahim radimenter</p>
<ol>
<li>Diagnosa dan gejala – gejala klinik</li>
</ol>
<p>1.   Anamnesis : Amenore, yaitu haid terlambat mulai beberapa hari sampai beberapa bulan atau hanya haid yang tidak teratur. Kadang – kadang dijumpai keluhan hamil muda dan gejala hamil lainya.</p>
<p>2.   Bila KET :</p>
<p>-     Pada abortus tuba keluhan dan gejala kemungkinan tidak begitu berat hanya rasa sakit diperut dan perdarahan pervaginam. Hal ini dapat dikacaukan dengan abortus biasa.</p>
<p>-     Bila terjadi rupture tua, maka gejala akan lebih hebat dan dapat membahayakan jiwa si ibu.</p>
<p>3.   Perawatan nyeri dan sakit yang tiba – tiba diperut, seperti diiris dengan pisau disertai muntah dan bisa jatuh pingsan</p>
<p>4.   Tanda – tanda akut abdomen : nyeri tekan yang hebat muntah, gelisah, pucat, anemis, nadi kecil dan halus, TD rendah / tidak terukur ( syok )</p>
<p>5.   Nyeri bahu : karena pernafasan diafragma</p>
<p>6.   Pada pemeriksaan dalam, adanya nyeri ayun pada persio dan perviks ibu</p>
<p>7.   Pervagmam keluar desidual cast</p>
<p>8.   Pemeriksaan laboratorium, HB menurun, adanya lekositosis</p>
<p>9.   Kuldosentesis</p>
<p>Untuk mengetahui adakah darah daram kavumdouglasi bila keluar darah tuba berwarna coklat sampai hitam yang tidak membeku</p>
<p>10.  Diagnistik laparoskopik</p>
<p>11.  Dengan USG</p>
<p>Diagnosa banding</p>
<p>-          Abortus biasa</p>
<p>-          Salpingitis akut</p>
<p>-          Apendiksitis akut</p>
<p>-          Ruptur korpus luteum</p>
<p>-          Torsi kista ovarium</p>
<p>-          Mioma submokosa yang terpelintir</p>
<p>-          Retrofleksi uteri grafida inkarserata</p>
<p>-          Ruptur pembuluh darah mesenterium</p>
<p>G.  Penanganan</p>
<p>1.   Penderita KET harus dirawat inap dirumah sakit untuk penanggulanganya</p>
<p>2.   Bila wanita dalam keadaan syok, perbaiki keadaan umumnya dengan pemberian cairan yang cukup ( dextrose 5 %, glukosa 5%, garam fisiologis ) dan transfuse darah</p>
<p>3.   Setelah diagnosa jelas atau sangat disangka KET dan keadaan umum baik segera lakukan laparatomi untuk menghilangkan sumber perdarahan dicari diklam dan dieksisi sebersih mungkin kemudian diikat</p>
<p>4.   Sisa – sisa darah dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin supaya penyembuhan lebih cepat</p>
<p>5.   Berikan anti bodi yang cukup dan obat anti inflamasi</p>
<p>H.  Komplikasi</p>
<p>1.   Ruptur tuba, perdarahan</p>
<p>2.   Infeksi</p>
<p>3.   Sub ileus karena masa pelvil</p>
<p>4.   Sterilitas</p>
<p>I.    Proknosis</p>
<p>Kematian karena KET cenderung menurun dengan diagnosis dini dan fasilitas daerah yang cukup. Di Rs Primadi Medan selama 1979 – 1981 dari 78 kasus KET angka kematian ibu adalah nihil. Hanya 60 % dari wanita yang pernah dapat KET menjadi hamil lagi selebihnya mandul. Angka kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0 – 14,6 %. Kemungkinan melahirkan bayi cukup bulan adalah lebih kurang 50 %</p>
<p><strong>DAFTAR  PUSTAKA</strong></p>
<p>1.   Muhtar Rustam, Sinopsis Opstetriu ED II, Jakarta : EGC 1998</p>
<p>2.   Varney Halen, Buku saku Bidan, Jakarta : EGC 2001</p>
<p>3.   Varer Helen. Perawatan maternitas. ED II, Jakarta : EGC</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cyntaa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cyntaa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cyntaa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cyntaa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cyntaa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cyntaa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cyntaa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cyntaa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cyntaa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cyntaa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cyntaa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cyntaa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cyntaa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cyntaa.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=12&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/23/kehamilan-ektopik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/08999b7e3f25d95ad4491be39111db92?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cyntaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ABSES PAYUD?ARA</title>
		<link>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/23/abses-payudara/</link>
		<comments>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/23/abses-payudara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 06:47:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cyntaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cyntaa.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[rABSES PAYUDARA Benjolan Pada Payudara Benjolan pada payudara dapat bersifat jinak atau ganas. Benjolan payudara jinak relatif tidak berbahaya, sedangkan yang ganas dapat menimbulkan kerusakan jaringan, menyebar ke bagian tubuh lainnya, bahkan menyebabkan kematian. Oleh karena itu, jika menemukan benjolan pada payudara, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan benjolan yang Anda derita termasuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=7&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"><em>rABSES PAYUDARA</em></h1>
<p style="text-align:center;">
<div id="page">
<div id="wrapper">
<div id="content">
<h4 id="post-175"><strong>Benjolan Pada Payudara</strong></p>
<p>Benjolan pada payudara dapat bersifat jinak atau ganas.<br />
Benjolan payudara jinak relatif tidak berbahaya, sedangkan yang ganas dapat menimbulkan kerusakan jaringan, menyebar ke bagian tubuh lainnya, bahkan menyebabkan kematian.<br />
Oleh karena itu, jika menemukan benjolan pada payudara, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan benjolan yang Anda derita termasuk tumor jinak (benign) atau tumor ganas.</p>
<p><strong>Berikut beberapa jenis benjolan yang dapat ditemukan pada payudara.</strong></p>
<p><strong>Fibroadenoma</strong></p>
<p><em>Fibroadenoma</em> adalah massa berbentuk bulat, berbatas tegas, kenyal, yang timbul akibat pertumbuhan berlebihan jaringan kelenjar dan jaringan penyambung.<br />
Benjolan ini bersifat jinak dan biasanya tidak nyeri. Benjolan fibroadenoma dapat digerakkan atau akan bergeser jika daerah payudara ditekan.<br />
Fibroadenoma berespon terhadap perubahan hormonal dan cenderung membesar selama kehamilan dan mengecil setelah menopause.<br />
Setiap wanita dapat menderita fibroadenoma, tetapi biasanya paling sering ditemukan pada usia 20 sampai 30 tahun.<br />
Fibroadenoma tidak dapat didiagnosis pasti hanya dengan pemeriksaan fisik saja.<br />
Mammografi dan USG payudara dapat membantu menegakkan diagnosis, tetapi satu-satunya cara untuk memastikan suatu fibroadenoma adalah dengan pemeriksaan biopsi, yaitu pengambilan sedikit jaringan dengan jarum kemudian diperiksa di bawah mikroskop.<br />
Fibroadenoma dapat menghilang secara spontan.<br />
Tetapi jika menetap, atau semakin membesar, atau penderita sangat khawatir terhadap benjolan tersebut, dapat dilakukan operasi pengangkatan.</p>
<p><img title="fibroadenomas" src="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/fibroadenomas.jpg?w=245&#038;h=231&#038;h=231" alt="fibroadenomas" width="245" height="231" /></p>
<p><img title="fibroadenoma" src="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/fibroadenoma.jpg?w=400&#038;h=320&#038;h=320" alt="fibroadenoma" width="400" height="320" /></h4>
<h2><strong>Abses Payudara</strong></h2>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#0b27f3;"><strong>Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat suatu infeksi bakteri. Jika bakteri menyusup ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi. Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan bakteri, sel darah putih akan mati. Sel darah putih inilah yang mengisi rongga tersebut.</strong></span></h2>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#0b27f3;"><strong>Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan disekitarnya akan terdorong. Jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan menjadi dinding pembatas abses. Hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Jika suatu abses pecah didalam, maka infeksi bisa menyabar di dalam tubuh maupun dibawah permukaan kulit, tergantung pada lokasi abses.</strong></span></h2>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#0b27f3;"><strong> </strong></span></h2>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#0b27f3;"><strong>Suatu Infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui beberapa cara :</strong></span></h2>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#0b27f3;"><strong>Bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka dari tusukan jarum tidak steril.</strong></span></h2>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#0b27f3;"><strong>Bakteri menyebar dari suatu infeksi dibagian tubuh yang lain.</strong></span></h2>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#0b27f3;"><strong>Bakteri yang dalam keadaan normal, hidup di dalam tubuh manusia dan tidak menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.</strong></span></h2>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#0b27f3;"><strong> </strong></span></h2>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#0b27f3;"><strong>Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika :</strong></span></h2>
<h5 style="text-align:justify;"><span style="color:#0b27f3;"><strong>Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi.</strong></span></h5>
<h5 style="text-align:justify;"><span style="color:#0b27f3;"><strong>Daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang.</strong></span></h5>
<h5 style="text-align:justify;"><span style="color:#0b27f3;"><strong>Terdapat gangguan system kekebalan.</strong></span></h5>
<h5 style="text-align:justify;"><span style="color:#0b27f3;"><strong> </strong></span></h5>
<h5 style="text-align:justify;"><span style="color:#0b27f3;"><strong> </strong></span></h5>
<h5 style="text-align:justify;"><span style="color:#0b27f3;"><strong>Abses Payudara merupakan komplikasi yang terjadi akibat adanya infeksi payudara(mastitis).  Infeksi ini paling sering terjadi selama menyusui, akibat masuknya bakteri ke jaringan payudara. Peradangan atau infeksi payudara atau yang disebut mastitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, perembesan sekresi melalui fisura di putting, dan dermatitis yang mengenai putting. Bakteri seringkali berasal dari mulut bayi dan masuk ke dalam saluran air susu melalui sobekan atau retakan dikulit (biasanya pada putting susu). Abses payudara bisa terjadi disekitar putting, bisa juga diseluruh payudara.</strong></span></h5>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Gejala dari abses tergantung pada lokasi dan pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ atau syaraf. Gejala dan tanda yang sering ditimbulkan oleh abses payudara diantaranya :</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Tanda-tanda inflamasi pada payudara (merah, panas jika disentuh, membengkak dan adanya nyeri tekan).</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Teraba massa, suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak sebagai suatu benjolan. Jika abses akan pecah, maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya menipis.</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Gejala sistematik berupa demam tinggi, menggigil, malaise.</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Nipple discharge (keluar cairan dari putting susu, bisa mengandung nanah)</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Gatal-gatal</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada sisi yang sama dengan payudara yang terkena.</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Adapun patogenesis dari abses paudara ini adalah luka atau lesi pada putting terjadi à peradangan à masuk (organisme ini biasanya dari mulut bayi) à pengeluaran susu terhambat à produksi susu normal à penyumbatan duktus à terbentuk abses.</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Abses dikulit atau dibawah kulit sangat mudah dikenali, sedangkan abses dalam seringkali sulit ditemukan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Jika tidak sedang menyusui, bisa ditemukan mammografi atau biopsy payudara.</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Pada penderita abses biasanya pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih. Untuk menentukan ukuran dari lokasi bses dalam, bisa dilakukan pemeriksaan roentgen, USG atau CT scan.</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Suatu abses seringkali membaik tanpa pengobatan, abses pecah dengan sendirinya san mengeluarkan isinya. Kadang abses menghilang secara perlahan karena tubuh menghancurkan infeksi yang terjadi dan menyerap sisa-sisa infeksi. Abses tidak pecah dan bisa meninggalkan benjolan yang keras.</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Adapun penanganan untuk absees diantaranya adalah :</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Untuk meringankan neri dan mempercepat penyembuhan, suatu abses bisa ditusuk dan dikelaurkan isinya dengan insisi. Insisi bisa dilakukan radial dari tengah dekat pinggir areola, ke pinggir supaya tidak memotong saluran ASI.</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Suatu abses tidak memliki aliran darah, sehingga pemberian antibiotic biasanya sia-sia. Antibiotic bisa diberikan setelah suatu abses mongering dan hal ini dilakukan untuk mencegah kekambuhan. Antibiotic juga diberikan jika abses menyebarkan infeksi ke bagian tubuh lainnya.</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Dapat diberikan parasetamol 500mg tiap 4 jam sekali bila diperlukan.</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Dilakukan pengompresan hangat pada payudara selama 15 – 20 menit, 4 kali/hari.</strong></span></p>
<p><span style="color:#0b27f3;"><strong>Sebaiknya dilakukan pemijatan dan p emompaan air susu pada payudara yang terkena untuk mencegah pembengkakan payudara.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><img title="abscess1" src="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/abscess1.gif?w=380&#038;h=156&#038;h=156" alt="abscess1" width="380" height="156" /></span></p>
<p><img title="abscess2" src="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/abscess2.gif?w=377&#038;h=149&#038;h=148" alt="abscess2" width="377" height="148" /></p>
<p><img title="w7_mastitis" src="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/w7_mastitis.jpg?w=380&#038;h=300&#038;h=300" alt="w7_mastitis" width="380" height="300" /> <strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Cedera Payudara</strong></p>
<p><em>Cedera payudara</em> misalnya akibat pembedahan atau kecelakaan, dapat menimbulkan gangguan yang disebut nekrosis lemak.<br />
Nekrosis lemak selanjutnya dapat menyebabkan terbentuknya benjolan berupa jaringan ikat yang berbatas tegas, bulat, dan dapat digerakkan. Jika cedera telah lama terjadi, benjolan tersebut biasanya tidak nyeri.<br />
Tetapi jika cedera baru saja terjadi, dapat timbul nyeri dan bengkak pada kulit di atas benjolan.<br />
Benjolan payudara akibat nekrosis lemak biasanya menghilang dengan sendirinya. Tetapi jika benjolan tersebut menetap, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.</p>
<p><img title="g99se24g1a" src="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/g99se24g1a.jpeg?w=243&#038;h=300&#038;h=300" alt="g99se24g1a" width="243" height="300" /></p>
<p><img title="336139-346529-8841" src="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/336139-346529-8841.jpg?w=300&#038;h=283&#038;h=283" alt="336139-346529-8841" width="300" height="283" /><br />
<strong>Tumor Fillodes</strong></p>
<p><em>Tumor fillodes </em>adalah benjolan payudara yang tidak nyeri akibat pertumbuhan berlebihan jaringan penyambung.<br />
Umumnya tumor fillodes bersifat jinak, walaupun beberapa diantaranya dapat bersifat ganas.<br />
Seringkali, praktisi medis sulit membedakan antara tumor fillodes dan fibroadenoma – bahkan setelah pemeriksaan pencitraan (mammografi atau USG payudara) dan biopsi aspirasi jarum halus.<br />
Salah satu pertanda bahwa benjolan tersebut adalah tumor fillodes adalah pertumbuhannya sangat cepat dan ukurannya yang besar.<br />
Pengobatan tumor fillodes antara lain adalah pengangkatan benjolan melalui operasi. Setelah operasi, kemungkinan kambuh masih ada.</p>
<p><img title="giantfamgc" src="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/giantfamgc.jpg?w=668&#038;h=204&#038;h=269" alt="giantfamgc" width="668" height="269" /></p>
<p><strong>Papilloma Intraductal</strong></p>
<p><em>Papilloma intraductal</em> adalah pertumbuhan bukan kanker, berukuran kecil, pada saluran air susu.<br />
Benjolan kecil ini biasanya ditemukan di belakang atau di pinggir puting susu (areola).<br />
Papilloma intraductal dapat menyebabkan keluarnya cairan dari puting susu, baik secara spontan maupun jika benjolan ditekan.<br />
Cairan tersebut seringkali bercampur darah.<br />
Pengobatan biasanya berupa pengangkatan saluran yang terganggu dan pemeriksaan jaringan untuk menyingkirkan kemungkinan kanker.</p>
<p><img title="17077" src="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/17077.jpg?w=451&#038;h=240&#038;h=360" alt="17077" width="451" height="360" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kanker Payudara</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kanker payudara </em>adalah benjolan yang bersifat ganas yang seringkali tidak nyeri, teraba keras dan berbentuk tidak beraturan.<br />
Pada perabaan, benjolan ini terasa berbeda dengan jaringan payudara di sekitarnya. Jika benjolan tersebut melekat pada otot dada, maka benjolan tidak dapat digerakkan.<br />
Kulit di atas benjolan mungkin akan tertarik dan berwarna kemerahan.<br />
Ciri lain kanker payudara antara lain adalah keluarnya cairan jernih atau bercampur darah secara spontan dari puting susu, puting susu tampak tertarik, perubahan ukuran dan bentuk payudara, dan kulit payudara seperti kulit jeruk.<br />
Pengobatan kanker payudara tergantung pada jenis kanker, stadium kanker, dan gambaran sel kanker yang terlihat di bawah mikroskop.<br />
Pilihan terapi dapat berupa pembedahan, radiasi, kemoterapi, atau terapi hormon.<br />
Perlu diingat bahwa kanker payudara yang ditemukan pada stadium dini, kemungkinannya untuk berhasil diobati lebih besar ketimbang kanker payudara yang ditemukan pada stadium yang lanjut.</p>
<p style="text-align:justify;"><img title="breast_cancer" src="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/breast_cancer.jpg?w=367&#038;h=242&#038;h=296" alt="breast_cancer" width="367" height="296" /></p>
<p><strong>Kista Payudara</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kista payudara, biasa dalam istilah medis disebut cystic disease of the breast.<br />
Penyakit ini sering timbul di kedua payudara, terasa nyeri, kadang-kadang hebat sekali.<br />
Kista payudara lazim terjadi pada wanita yang masih memperoleh haid.<br />
Nyeri menghebat sebelum atau waktu haid karena tarikan kelenjar payudara yang membesar atau hypertropis.<br />
Kista payudara adalah kantung berisi cairan di dalam payudara, sampai saat ini penyebab utama dari kista belum diketahui secara pasti, tapi untuk sementara penyebab kista diperkirakan karena adanya cedera ringan pada payudara.<br />
Kista paling banyak ditemukan pada wanita yang menjelang menopause, tatapi tidak menutup kemungkinan dapat ditemukan juga pada wanita pasca menopause terutama wanita yang menjalani terapi sulih hormon.<br />
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.<br />
Kista teraba licin, bisa digerakkan, berbatas tegas dan kadang nyeri bila ditekan.<br />
Bila dilihat dari tingkat agresifitas pertumbuhannya, kista ada dua jenis yaitu: <em>N<span style="color:#800000;">on-neoplastik dan Neoplastik</span></em><span style="color:#800000;">.</span><br />
Bedanya, <em>non-neoplastik</em> bersifat jinak dan biasanya akan mengempis dengan sendirinya kendati jumlahnya banyak.<br />
Sedangkan <em>neoplastik</em> sifatnya ganas. Untuk mengatasinya jalan terbaik adalah operasi bila dinilai membahayakan kesehatan.<br />
Tapi, bila tidak, masih bisa diatasi dengan jalan terapi biasa.<br />
Pemeriksaan yang biasa dilakukan untuk memastikan adanya kista payudara adalah:<br />
1.Mammografi<br />
2.USG Payudara.<br />
Untuk mengurangi nyeri, cairan dari dalam kista bisa diambil dengan menggunakan jarum.<br />
Jika cairan tersebut mengandung darah, berwarna coklat atau keruh, atau kembali terkumpul dalam waktu 12 minggu setelah cairan diambil, maka seluruh kista harus dibuang melalui pembedahan karena kemungkinan bisa terjadi keganasan pada dinding kista.</p>
<p><a title="View all posts in Kanker Payudara" rel="category tag" href="http://en.wordpress.com/tag/kanker-payudara/"></a></p>
<p><!-- You can start editing here. --></p>
<div id="respond">
<h3>by: cyntaa**22/02/2010</h3>
<div><a id="cancel-comment-reply-link" rel="nofollow" href="http://angga6688.wordpress.com/2009/08/04/benjolan-pada-payudara/#respond">Click here to cancel reply.</a></div>
<p>  Logged in as <a href="http://angga6688.wordpress.com/wp-admin/profile.php">cyntaa</a>.	<a title="Log out of this account" href="http://angga6688.wordpress.com/wp-login.php?action=logout">Logout »</a></p>
<p>&lt;!&#8211;<b>XHTML:</b> You can use these tags: &lt;a href=&quot;&quot; title=&quot;&quot;&gt; &lt;abbr title=&quot;&quot;&gt; &lt;acronym title=&quot;&quot;&gt; &lt;b&gt; &lt;blockquote cite=&quot;&quot;&gt; &lt;cite&gt; &lt;code&gt; &lt;pre&gt; &lt;del datetime=&quot;&quot;&gt; &lt;em&gt; &lt;i&gt; &lt;q cite=&quot;&quot;&gt; &lt;strike&gt; &lt;strong&gt; </p>
<p>&#8211;&gt; </p>
<p> Notify me of follow-up comments via email.</p>
<p> Notify me of new posts via email.</p>
</div>
</div>
<div id="sidebar">
<div> &lt;!&#8211;  &#8211;&gt;</div>
<h3>About This Post</h3>
<p> This entry was posted on August 4, 2009 at 9:41 am and is filed under <a title="View all posts in Artikel Kesehatan" rel="category tag" href="http://en.wordpress.com/tag/artikel-kesehatan/">Artikel Kesehatan</a>,  <a title="View all posts in Kanker Payudara" rel="category tag" href="http://en.wordpress.com/tag/kanker-payudara/">Kanker Payudara</a>.You can follow any responses to this entry through the <a href="http://angga6688.wordpress.com/2009/08/04/benjolan-pada-payudara/feed/">RSS 2.0</a> feed.You can <a href="http://angga6688.wordpress.com/2009/08/04/benjolan-pada-payudara/#respond">leave a response</a>, or <a rel="trackback" href="http://angga6688.wordpress.com/2009/08/04/benjolan-pada-payudara/trackback/">trackback</a> from your own site. </p>
<h3>Navigate</h3>
<ul>
<li>Previous: <strong><a rel="prev" href="http://angga6688.wordpress.com/2009/08/02/when-god-created-heaven/">When God created heaven</a></strong></li>
<li>Next: <strong><a rel="next" href="http://angga6688.wordpress.com/2009/08/04/everything-i-have/">Everything I Have</a></strong></li>
</ul>
</div>
</div>
<div id="footer">
<p>Get a free blog at <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. Theme: ChaoticSoul by <a rel="designer" href="http://avalonstar.com/">Bryan Veloso</a>.</p>
</div>
</div>
<p> // <img src="//secure.quantserve.com/pixel/p-18-mFEk4J448M.gif?labels=adt.0%2Clanguage.en%2Cwp.loggedin" style="display:none;" height="1" width="1" alt="" /></p>
<p> // <img src="http://stats.wordpress.com/g.gif?host=angga6688.wordpress.com&amp;rand=0.5577241405805194&amp;blog=8243763&amp;v=wpcom&amp;user_id=12543422&amp;post=175&amp;subd=angga6688&amp;ref=http%3A//images.google.com/imgres%3Fimgurl%3Dhttp%3A//angga6688.files.wordpress.com/2009/08/fibroadenoma.jpg%26imgrefurl%3Dhttp%3A//angga6688.wordpress.com/2009/08/04/benjolan-pada-payudara/%26usg%3D__DzbO-jaGodcYf_BxB-7jzG9U8FM%3D%26h%3D320%26w%3D400%26sz%3D23%26hl%3Den%26start%3D3%26um%3D1%26itbs%3D1%26tbnid%3DOBfY0W8mogIs4M%3A%26tbnh%3D99%26tbnw%3D124%26prev%3D/images%253Fq%253Dabses%252Bpayudara%2526um%253D1%2526hl%253Den%2526sa%253DN%2526tbs%253Disch%3A1" alt="" /><img src="http://stats.wordpress.com/g.gif?v=wpcom2&amp;rand=0.17602639963532518&amp;crypt=RDZ8LFkxbXFDbHBmaV1fMFo/N1dTTkxfTT1HZ2xpS2xWP1F+WFsvME1YMmldfmlKOHF6TEEyPTZ5bS41OG9JLW9LdkQ9by04NExfbmh3MiVMcFBsK25UUT00TGxGd21RLW1oJld2cF93N01FUEw0Wlo/cEY/Z2tWYzN6Rkg0XWVkeF0/W1VydSU2VnB1M1s3eX5tJjVrYT18a1I5b1p3VjZ5eDMtbVUsWjksLklMb0Y1d1Q1PUZ1cXhaYjEuJUptSzR2JWhxLDNsRV80Wn5IdHpkNWUlVWdr" alt="" /></p>
<p> // &lt;![CDATA[<br />
	/* &lt;![CDATA[ */<br />
		adminbar=adminbar.replace(/%%BLOGID%%/g, &#39;8243763&#39;);<br />
		adminbar=adminbar.replace(/%%POSTID%%/g, &#39;175&#39;);</p>
<p>			adminbar=adminbar.replace(/%%FAVORITELINK%%/, &#39;&#39;);</p>
<p>	adminbar=adminbar.replace(/%%SEARCHACTION%%/, &#39;http://id.search.wordpress.com/&#39;);<br />
	adminbar=adminbar.replace(/%%BLOGHOST%%/g, &#39;angga6688.wordpress.com&#39;);<br />
	adminbar=adminbar.replace(/%%BLOGHOME%%/g, &#39;http://angga6688.wordpress.com&#39;);<br />
	adminbar=adminbar.replace(/%%BLOGTITLE%%/g, &#39;Life in my dreams&#39;);<br />
			adminbar=adminbar.replace(/%%EDITLINK%%/, &#39;</p>
<li></li>
<p>');<br />
	adminbar=adminbar.replace(/%%URL%%/, 'angga6688.wordpress.com/2009/08/04/benjolan-pada-payudara/', 'mg');<br />
	document.write(adminbar);<br />
	if ( document.createElement ) {<br />
		var q = document.getElementById('wpcombar');<br />
		var r = document.createElement('div');<br />
		r.innerHTML = q.innerHTML;<br />
		q.parentNode.removeChild(q);<br />
		r.setAttribute('id', 'wpcombar');<br />
		r.style.zIndex = '1001';<br />
		document.body.insertBefore(r, document.body.childNodes[0]);<br />
	}<br />
	/*  */<br />
// ]]&gt;</p>
<div id="cluetip">
<div id="cluetip-footer">
<p><a href="http://angga6688.wordpress.com/2009/08/04/benjolan-pada-payudara/#">Turn Site Previews Off</a></p>
</div>
</div>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="color:#ff0000;"> </span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cyntaa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cyntaa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cyntaa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cyntaa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cyntaa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cyntaa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cyntaa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cyntaa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cyntaa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cyntaa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cyntaa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cyntaa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cyntaa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cyntaa.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=7&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/23/abses-payudara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/08999b7e3f25d95ad4491be39111db92?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cyntaa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/fibroadenomas.jpg?w=245&#038;h=231" medium="image">
			<media:title type="html">fibroadenomas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/fibroadenoma.jpg?w=400&#038;h=320" medium="image">
			<media:title type="html">fibroadenoma</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/abscess1.gif?w=250&#038;h=156" medium="image">
			<media:title type="html">abscess1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/abscess2.gif?w=250&#038;h=149" medium="image">
			<media:title type="html">abscess2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/w7_mastitis.jpg?w=300&#038;h=300" medium="image">
			<media:title type="html">w7_mastitis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/g99se24g1a.jpeg?w=243&#038;h=300" medium="image">
			<media:title type="html">g99se24g1a</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/336139-346529-8841.jpg?w=300&#038;h=283" medium="image">
			<media:title type="html">336139-346529-8841</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/giantfamgc.jpg?w=300&#038;h=204" medium="image">
			<media:title type="html">giantfamgc</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/17077.jpg?w=300&#038;h=240" medium="image">
			<media:title type="html">17077</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://angga6688.files.wordpress.com/2009/08/breast_cancer.jpg?w=300&#038;h=242" medium="image">
			<media:title type="html">breast_cancer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://stats.wordpress.com/g.gif?host=angga6688.wordpress.com&#038;rand=0.5577241405805194&#038;blog=8243763&#038;v=wpcom&#038;user_id=12543422&#038;post=175&#038;subd=angga6688&#038;ref=http%3A//images.google.com/imgres%3Fimgurl%3Dhttp%3A//angga6688.files.wordpress.com/2009/08/fibroadenoma.jpg%26imgrefurl%3Dhttp%3A//angga6688.wordpress.com/2009/08/04/benjolan-pada-payudara/%26usg%3D__DzbO-jaGodcYf_BxB-7jzG9U8FM%3D%26h%3D320%26w%3D400%26sz%3D23%26hl%3Den%26start%3D3%26um%3D1%26itbs%3D1%26tbnid%3DOBfY0W8mogIs4M%3A%26tbnh%3D99%26tbnw%3D124%26prev%3D/images%253Fq%253Dabses%252Bpayudara%2526um%253D1%2526hl%253Den%2526sa%253DN%2526tbs%253Disch%3A1" medium="image" />

		<media:content url="http://stats.wordpress.com/g.gif?v=wpcom2&#038;rand=0.17602639963532518&#038;crypt=RDZ8LFkxbXFDbHBmaV1fMFo/N1dTTkxfTT1HZ2xpS2xWP1F+WFsvME1YMmldfmlKOHF6TEEyPTZ5bS41OG9JLW9LdkQ9by04NExfbmh3MiVMcFBsK25UUT00TGxGd21RLW1oJld2cF93N01FUEw0Wlo/cEY/Z2tWYzN6Rkg0XWVkeF0/W1VydSU2VnB1M1s3eX5tJjVrYT18a1I5b1p3VjZ5eDMtbVUsWjksLklMb0Y1d1Q1PUZ1cXhaYjEuJUptSzR2JWhxLDNsRV80Wn5IdHpkNWUlVWdr" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sistem Anatomi Reproduksi pria</title>
		<link>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/23/sistem-anatomi-reproduksi-pria/</link>
		<comments>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/23/sistem-anatomi-reproduksi-pria/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 06:15:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cyntaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cyntaa.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Sistem Reproduksi Pria DEFINISI Struktur luar dari sistem reproduksi pria terdiri dari penis, skrotum (kantung zakar) dan testis (buah zakar). Struktur dalamnya terdiri dari vas deferens, uretra, kelenjar prostat dan vesikula seminalis. Anatomi sistem reproduksi pria&#8221;&#62; Sperma (pembawa gen pria) dibuat di testis dan disimpan di dalam vesikula seminalis. Ketika melakukan hubungan seksual, sperma yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=3&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-left:180px;">
<h4>Sistem Reproduksi Pria</h4>
</div>
<h4></h4>
<h4>DEFINISI</h4>
<p>Struktur luar dari sistem reproduksi pria terdiri dari <em>penis</em>, <em>skrotum</em> (kantung zakar) dan <em>testis</em> (buah zakar).<br />
Struktur dalamnya terdiri dari <em>vas deferens</em>, <em>uretra</em>, <em>kelenjar prost</em><em>at</em> dan <em>vesikula seminalis</em>.<br />
Anatomi sistem reproduksi pria&#8221;&gt;</p>
<p><em>Sperma</em> (pembawa <em>gen</em> pria) dibuat di testis dan disimpan di dalam vesikula seminalis.<br />
Ketika melakukan hubungan seksual, sperma yang terdapat di dalam cairan yang disebut <em>semen</em> dikeluarkan melalui vas deferens dan penis yang mengalami <em>ereksi</em>.</p>
<p><strong>STRUKTUR</strong></p>
<p>Penis terdiri dari:</p>
<ol style="padding-left:180px;">
<li>Akar (menempel pada didnding perut)</li>
<li>Badan (merupakan bagian tengah dari penis)</li>
<li><em>Glans penis</em> (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut).</li>
</ol>
<p>Lubang uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih) terdapat di umung glans penis.<br />
Dasar glans penis disebut <em>korona</em>.<br />
Pada pria yang tidak disunat (<em>sirkumsisi</em>), kulit depan (<em>preputium</em>) membentang mulai dari korona menutupi glans penis.</p>
<p><img src="http://medicastore.com/images/sirkumsisi.jpg" alt="&lt;span" />Sirkumsisi&#8221;&gt;</p>
<p>Badan penis terdiri dari 3 rongga silindris (<em>sinus</em>) jaringan <em>erektil</em>:</p>
<ol style="padding-left:180px;">
<li>2 rongga yang berukuran lebih besar disebut <em>korpus kavernosus</em>, terletak bersebelahan</li>
<li>Rongga yang ketiga disebut <em>korpus spongiosum</em>, mengelilingi uretra.</li>
</ol>
<p>Jika rongga tersebut terisi darah, maka penis menjadi lebih besar, kaku dan tegak (mengalami ereksi).</p>
<p>Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan melindungi testis.<br />
Skrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu untuk testis, karena agar sperma terbentuk secara normal, testis harus memiliki suhu yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu tubuh.<br />
Otot <em>kremaster</em> pada dinding skrotum akan mengendur atau mengencang sehinnga testis menggantung lebih jauh dari tubuh (dan suhunya menjadi lebih dingin) atau lebih dekat ke tubuh (dan suhunya menjadi lebih hangat).</p>
<p>Testis berbentuk lonjong dengan ukuran sebesar buah zaitun dan terletak di dalam skrotum. Biasanya testis kiri agak lebih rendah dari testis kanan.<br />
Testis memiliki 2 fungsi, yaitu menghasilkan sperma dan membuat <em>testosteron</em> (hormon seks pria yang utama).</p>
<p><img src="http://medicastore.com/images/testis_anatomi.jpg" alt="&lt;span" />Anatomi sistem reproduksi pria&#8221;&gt;</p>
<p><em>Epididimis</em> terletak di atas testis dan merupakan saluran sepanjang 6 meter.<br />
Epididimis mengumpulkan sperma dari testis dan menyediakan ruang serta lingkungan untuk proses pematangan sperma.</p>
<p>Vas deferens merupakan saluran yang membawa sperma dari epididimis.<br />
Saluran ini berjalan ke bagian belakang prostat lalu masuk ke dalam uretra dan membentuk <em>duktus ejakulatorius</em>.<br />
Struktur lainnya (misalnya pembuluh darah dan saraf) berjalan bersama-sama vas deferens dan membentuk <em>korda spermatika</em>.</p>
<p><img src="http://medicastore.com/images/jalur_sperma.jpg" alt="&lt;span" />Jalur sperma&#8221;&gt;</p>
<p>Uretra berfungsi 2 fungsi:</p>
<table style="padding-left:180px;" border="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="302" valign="top"></td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="302" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ol style="padding-left:180px;">
<li> Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air kemih dari kandung kemih</li>
</ol>
<table style="padding-left:180px;" border="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="302" valign="top">
<li style="padding-left:30px;">
<ol>
<li> Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen.</li>
</ol>
<p>Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih di dalam pinggul dan mengelilingi bagian tengah dari uretra.<br />
Biasanya ukurannya sebesar <em>walnut</em> dan akan membesar sejalan dengan pertambahan usia.<br />
Prostat dan vesikula seminalis menghasilkan cairan yang merupakan sumber makanan bagi sperma. Cairan ini merupakan bagian terbesar dari semen. Cairan lainnya yang membentuk semen berasal dari vas deferens dan dari kelenjar lendir di dalam kepala penis.</p>
<p><strong>FUNGSI</strong></p>
<p>Selama melakukan hubungan seksual, penis menjadi kaku dan tegak sehingga memungkinkan terjadinya <em>penetrasi</em> (masuknya penis ke dalam vagina)<br />
Ereksi terjadi akibat interaksi yang rumit dari sitem saraf, pembuluh darah, hormon dan psikis.<br />
Rangsang yang menyenangkan menyebabkan suatu reaksi di otak, yang kemudian mengirimkan sinyalnya melalui <em>korda spinalis</em> ke penis.<br />
Arteri yang membawa darah ke korpus kavernosus dan korpus spongiosum memberikan respon, yaitu ber<em>dilatasi</em> (melebar). Arteri yang melebar menyebabkan peningkatan aliran darah ke daerah erektil ini, sehingga daerah erektil terisi darah dan melebar.<br />
Otot-otot di sekitar vena yang dalam keadaan normal mengalirkan darah dari penis, akan memperlambat aliran darahnya.<br />
Tekanan darah yang meningkat di dalam penis menyebabkan panjang dan diameter penis bertambah.</p>
<p>Ejakulasi terjadi pada saat mencapai <em>klimaks</em>, yaitu ketika gesekan pada glans penis dan rangsangan lainnya mengirimkan sinyal ke otak dan korda spinalis.<br />
Saraf merangsang kontraksi otot di sepanjang saluran epididimis dan vas deferens, vesikula seminalis dan prostat. Kontraksi ini mendorong semen ke dalam uretra.<br />
Selanjutnya kontraksi otot di sekeliling urretra akan mendorong semen keluar dari penis.<br />
Leher kandung kemih juga berkonstriksi agar semen tidak mengalir kembali ke dalam kandung kemih.</p>
<p>Setelah terjadi ejakulasi (atau setelah rangsangan berhenti), arteri mengencang dan vena mengendur.<br />
Akibatnya aliran darah yang masuk ke arteri berkurang dan aliran darah yang keluar dari vena bertambah, sehingga penis menjadi lunak.</li>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cyntaa.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cyntaa.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cyntaa.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cyntaa.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cyntaa.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cyntaa.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cyntaa.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cyntaa.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cyntaa.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cyntaa.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cyntaa.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cyntaa.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cyntaa.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cyntaa.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cyntaa.wordpress.com&amp;blog=12194647&amp;post=3&amp;subd=cyntaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cyntaa.wordpress.com/2010/02/23/sistem-anatomi-reproduksi-pria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/08999b7e3f25d95ad4491be39111db92?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cyntaa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://medicastore.com/images/sirkumsisi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">&#60;span</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://medicastore.com/images/testis_anatomi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">&#60;span</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://medicastore.com/images/jalur_sperma.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">&#60;span</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
