TUMBANG

Posted in Uncategorized on Februari 26, 2010 by cyntaa

Setiap orangtua tentu berkeinginan agar anaknya dapat tumbuh kembang optimal, yaitu agar anaknya dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang terbaik sesuai dengan potensi genetik yang ada pada anak tersebut. Hal ini dapat tercapai apabila kebutuhan dasar anak ( asah, asih, dan asuh ) terpenuhi. Kebutuhan dasar anak harus dipenuhi yang mencakup imtaq, perhatian, kasih sayang, gizi, kesehatan, penghargaan, pengasuhan, rasa aman / perlindungan, partisipasi, stimulasi dan pendidikan ( asah, asih dan asuh ). Kebutuhan dasar tersebut harus dipenuhi sejak dini, bahkan sejak bayi berada dalam kandungan.(5) Untuk itulah dalam perkuliahan ini akan dibahas mengenai pemantauan tumbuh kembang neonatus terutama pada pertumbuhan fisik pada neonatus baik BB dan TB dengan menggunakan Denver Development Stress Test (DDST)

Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan

Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan.(2,4)

Menurut Soetjiningsih, pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm,meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh); sedangkan perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.(4)

Menurut Depkes RI, pertumbuhan adalah bertambah banyak dan besarnya sel seluruh bagian tubuh yang bersifat kuantitatif dan dapat diukur; sedangkan perkembangan adalah bertambah sempurnanya fungsi dari alat tubuh.(1)

Menurut Markum dkk, pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu; perkembangan lebih menitikberatkan aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ atau individu, termasuk perubahan aspek sosial atau emosional akibat pengaruh lingkungan.(2)
B. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang (1,2,3,4,5,6)

Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, yaitu :

1. Faktor Genetik

Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Faktor ini juga merupakan faktor bawaan anak, yaitu potensi anak yang menjadi ciri khasnya. Melalui genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang.

2. Faktor Lingkungan

Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Faktor ini disebut juga milieu merupakan tempat anak tersebut hidup, dan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Lingkungan merupakan lingkungan ”bio-fisiko-psiko-sosial” yang memepengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.

Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi :

a. Faktor yang memepengaruhi anak pada waktu masih di dalam kandungan (faktor pranatal)

b. Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir (faktor postnatal)
Ad.a. Faktor Lingkungan Pranatal

Faktor lingkungan pranatal yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin mulai dari konsepsi sampai lahir, antara lain :

1. Gizi ibu pada waktu hamil

Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi BBLR/lahir mati, menyebabkan cacat bawaan, hambatan pertumbuhan otak, anemia pada bayi baru lahir,bayi baru lahir mudah terkena infeksi, abortus dan sebagainya.

2. Mekanis

Trauma dan cairan ketuban yang kurang, posisi janin dalam uterus dapat kelainan bawaan, talipes, dislokasi panggul, tortikolis kongenital, palsi fasialis, atau kranio tabes.

3. Toksin/zat kimia

Zat-zat kimia yang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi antara lain obat anti kanker, rokok, alkohol beserta logam berat lainnya.

4. Endokrin

Hormon-hormon yang mungkin berperan pada pertumbuhan janin, adalah somatotropin, tiroid, insulin, hormon plasenta, peptida-peptida lainnya dengan aktivitas mirip insulin. Apabila salah satu dari hormon tersebut mengalami defisiensi maka dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada pertumbuhan susunan saraf pusat sehingga terjadi retardasi mental, cacat bawaan dan lain-lain.

5. Radiasi

Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali, atau cacat bawaan lainnya, sedangkan efek radiasi pada orang laki-laki dapat menyebabkan cacat bawaan pada anaknya.

6. Infeksi

Setiap hiperpirexia pada ibu hamil dapat merusak janin. Infeksi intrauterin yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah TORCH, sedangkan infeksi lainnya yang juga dapat menyebabkan penyakit pada janin adalah varisela, malaria, polio, influenza dan lain-lain.

7. Stres

Stres yang dialami oleh ibu pada waktu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat bawaan, kelainan kejiwaan dan lain-lain.

8. Imunitas

Rhesus atau ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus, hidrops fetalis, kern ikterus, atau lahir mati.

9. Anoksia embrio

Menurunnya oksigenisasi janin melalui gangguan pada plasenta atau tali pusat, menyebabkan BBLR.
Ad.b. Faktor Lingkungan Postnatal

Bayi baru lahir harus berhasil melewati masa transisi, dari suatu sistem yang teratur yang sebagian besar tergantung pada organ-organ ibunya,ke suatu sistem yang tergantung pada kemempuan genetik dan mekanisme homeostatik bayi itu sendiri.

Lingkungan postnatal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak secara umum dapat digolongkan menjadi :

a. Lingkungan biologis

Lingkungan biologis yang dimaksud adalah ras/suku bangsa, jenis kelamin, umur, gizi,, perawatan kesehatan, kepekaan terhadap penyakit, penyakit kronis, fungsi metabolisme, dan hormon.

b. Faktor fisik

Yang termasuk dalam faktor fisik itu antara lain yaitu cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah, sanitasi, keadaan rumah baik dari struktur bangunan, ventilasi, cahaya dan kepadatan hunian, serta radiasi.

c. Faktor psikososial

Stimulasi merupakan hal penting dalam tumbuh kembang anak, selain itu motivasi belajar dapat ditimbulkan sejak dini, dengan memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar, ganjaran atau hukuman yang wajar merupakan hal yang dapat menimbulkan motivasi yang kuat dalam perkembangan kepribadian anak kelak di kemudian hari, Dalam proses sosialisasi dengan lingkungannya anak memerlukan teman sebaya, stres juga sangat berpengaruh terhadap anak, selain sekolah, cinta dan kasih sayang, kualitas interaksi anak orangtua dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak.

d. Faktor keluarga dan adat istiadat

Faktor keluarga yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak yaitu pekerjaan/pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun sekunder, pendidikan ayah/ibu yang baik dapat menerima informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, menjaga kesehatan, dan pendidikan yang baik pula, jumlah saudara yang banyak pada keluarga yang keadaan sosial ekonominya cukup akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima anak, jenis kelamin dalam keluarga seperti apad masyarakat tradisonal masih banyak wanita yang mengalami malnutrisi sehingga dapat menyebabkan angka kematian bayi meningkat, stabilitas rumah tangga, kepribadian ayah/ibu, adat-istiadat, norma-norma, tabu-tabu, agama, urbanisasi yang banyak menyebabkan kemiskinan dengan segala permasalahannya, serta kehidupan politik dalam masyarakat yang mempengaruhi prioritas kepentingan anak, anggaran dan lain-lain.

C. Ciri-ciri Tumbuh Kembang Anak

Tumbuh kembang anak yang sudah dimulai sejak konsepsi sampai dewasa itu mempunyai ciri-ciri tersendiri, yaitu :

1. Tumbuh kembang adalah proses yang kontinu sejak dari konsepsi sampai maturitas/dewasa, yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan.

2. Terdapat masa percepatan dan masa perlambatan, serta laju tumbuh kembang yang berlainan organ-organ.

3. Pola perkembangan anak adalah sama pada semua anak,tetapi kecepatannya berbeda antara anak satu dengan lainnya.

4. Perkembangan erat hubungannya dengan maturasi sistem susunan saraf.

5. Aktifitas seluruh tubuh diganti respon individu yang khas.

6. Arah perkembangan anak adalah sefalokaudal.

7. Refleks primitif seperti refleks memegang dan berjalan akan menghilang sebelum gerakan volunter tercapai.
Setiap anak adalah individu yang unik, karena faktor bawaan dan lingkungan yang berbeda, maka pertumbuhan dan pencapaian kemampuan perkembangnnya juga berbeda, tetapi tetap akan menuruti patokan umum.

D. Tahap-tahap Tumbuh Kembang Anak dan Remaja

Tumbuh kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan dan berkesinambungan dimulai sejak konsepsi sampai dewasa. Walaupun terdapat variasi akan tetapi setiap anak akan melewati suatu pola tertentu yang merupakan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan sebagai berikut :

1. Masa prenatal atau masa intrauterin ( masa janin dalam kandungan )

a. masa mudigah/embrio ialah sejak konsepsi sampai umur kehamilan 8 minggu. Ovum yang telah dibuahi dengan cepat menjadi suatu organisme, terjadi diferensiasi yang berlangsung cepat, terbentuk suatu sistem oragan dalam tubuh.

b. masa janin/fetus ialah sejak umur 9 minggu sampai kelahiran. Masa ini terdiri dari 2 periode yaitu :

a. masa fetus dini, sejak usia 9 minggu sampai dengan TM II kehidupan intrauterin, terjadi percepatan pertumbuhan, pembentukan jasad manusia sempurna dan alat tubuh telah terbentuk dan mulai berfungsi.

b. Masa fetus lanjut, pada akhir TM pertumbuhan berlangsung pesat dan adanya perkembangan fungsi. Pada masa ini terjadi transferimunoglobin G(IgG) dari ibu melalui plasenta. Akumulasi asam lemak esesnsial seri omega 3(Docosa Hexanicc Acid) omega 6(Arachidonic Acid) pada otak dari retina.

2. Masa bayi : usia 0 – 1 tahun

a. masa neonatal (0-28 hari), terjadi adaptasi lingkungan dan terjadi perubahan sirkulasi darah, serta mulainya berfungsi orgaan-oragan tubuh lainnya.

1. masa neonatal dini : 0-7 hari

2. masa neonatal lanjut : 8-28 hari

b. masa pasca neonatal , proses yang pesat dan proses pematangan berlangsung secara kontinu terutama meningkatnya fungsi sistem saraf (29 hari – 1 tahun).

3. masa prasekolah

Pada saat ini pertumbuhan berlangsung dengan stabil, terjadi perkembangaan dengan aktifitas jasmani yang bertambah dan meningkaatnya keterampilan dan proses berpikir.

4. masa sekolah, pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan masa prasekolah, keterampilan, dan intelektual makin berkembang, senang bermain berkelompok dengan jenis kelamin yang sama ( usia 6 – 18/20 tahun).

a. masa pra remaja : usia 6-10 tahun

b. masa remaja :

1. masa remaja dini

a. wanita : usia 8-13 tahun

b. pria : usia 10-15 tahun

2. masa remaja lanjut

a. wanita : usia 13 –18 tahun

b. pria : usia 15-20 tahun

Masa-masa tersebut diatas ternyata memiliki ciri-ciri khas yang masing-masing masa mempunyai perbedaan dalam annatomi, fisiologi, biokimia dan karakternya.

E. Tumbuh Kembang Neonatus

1. Penampilan Fisis

Perbandingan berbagai bagian tubuh bayi baru lahir sangat berlainan dengan proporsi janin, balita, anak besar atau dewasa; ukuran kepalanya relatif besar, muka berbentuk bundar, mandibula kecil, dada lebih bundar, dan batas antrieor posterior kurang mendatar, abdomen lebih membuncit, ekstrimitas relatif lebih pendek.

Berat badan bayi baru lahir adalah kira-kira 3000 g, biasanya anak laki-laki lebih berat dari anak perempuan. Lebih kurang 95% bayi cukup bulan mempunyai berat badan antara 2500 – 4500 g.

Panjang badan rata-rata waaktu lahir adalah 50 cm, lebih kurang 95% diantaranya menunjukkan panjang badan sekitar 45 –55 cm.

Pertumbuhan fisik adalah hasil dari perubahan bentuk dan fungsi dari organisme.

1. Pertumbuhan janin intrauterin

Pertumbuhan pada masa janin merupakan pertumbuhan yang paling pesat yang dialami seseorang dalam hidupnya. Dinamika pertumbuhan antenatal ini sangat menakjubkan yaitu sejak konsepsi sampai lahir. Pada masa embrio yaitu 8 minggu pertama kehamilan, sel telur yang telah dibuahi berdiferensiasi secara tepat menjadi organisme yang mempunyai bentuk anatomis seperti manusia. Pada sistem-sistem tertentu organogenesis diteruskan sampai lebih dari 8 minggu.

2. Pertumbuhan setelah lahir

a. Berat badan

Pada bayi yang lahir cukup bulan, berat badan waktu lahir akan kembali pada hari ke 10. Berat badan menjadi 2 kali berat badan waktu lahir pada bayi umur 5 bulan, mejadi 3 kali berat badan lahir pada umur 1 tahun, dan menjadi 4 kali berat badan lahir pada umur 2 tahun. Pada masa prasekolah kenaikan berat badan rata-rata 2 kg/tahun. Kemudian pertumbuhan konstan mulai berakhir dan dimulai

“ pre adolescent growth spurt” ( pacu tumbuh pra adolesen ) dengan rata-rata kenaikan berat nadan adalah 3-3,5 kg/tahun, yang kemudian dilanjutkan dengan “ adolescent growth spurt” ( pacu tumbuh adolesen ). Dibandingkan dengan anak laki-laki , “growth spurt” ( pacu tumbuh ) anak perempuan dimulai lebih cepat yaitu sekitar umur 8 tahun, sedangkan anak laki-laki baru pada umur sekitar 10 tahun. Tetapi pertumbuhan anak perempuan lebih cepat berhenti adripada anak laki-laki. Anak perempuan umur 18 tahun sudah tidak tumbuh lagi, sedsangkan anak laki-laki baru berhenti tumbuh pada umur 20 tahun. Kenaikan berat badan anak pada tahun pertama kehidupan, kalau anak mendapat gizi yang baik, adalah berkisar anatara :

700 – 1000 gram/bulan pada triwulan I

500 – 600 gram/bulan pada triwulan II

350 – 450 gram/bulan pada triwulan III

250 – 350 gram/bulan pada triwulan IV

Dapat pula digunakan rumus yang dikutip dari Behrman,1992 untuk memperkirakan berat badan adalah sebagai berikut :

Perkiraan Berat badan dalam kilogram :

1. Lahir : 3,25 kg

2. 3-12 bulan : umur(bulan) + 9

2

3.1-6 tahun : umur(bulan) x 2 + 8

4. 6-12 tahun : umur(bulan) x 7 – 5

2

Contohnya : Ny. Nia melahirkan bayi pada tanggal 30 November 2004 dengan berat badan waktu lahir 3,5 kg. Maka hitunglah berapa umur dan berat badan By. Nia saat ini !

2004 – 11 – 30 ( Lahir )

2005 – 03 – 31 ( Saat penimbangan )

Jadi umur BY Nia adalah 4 bulan 1 hari, maka BB By. Nia adalah :

Umur ( bulan ) + 9 / 2 = 13 / 2 = 6,5 Kg.

b. Tinggi badan

Tinggi badan rata-rata pada waktu lahir adalah 50 cm. Secara garis besar, tinggi badan anak dapat diperkirakan, sebagai berikut :

1 tahun 1,5 x TB lahir

4 tahun 2 x TB lahir

6 tahun 1,5 x TB setahun

13 tahun 3 x TB lahir

Dewasa 3,5 x TB lahir ( 2 x TB 2 tahun )

Menurut Berhman,1992 adalah sebagai berikut :

a. Lahir : 50 cm

b. Umur 1 tahun : 75 cm

c. 2-12 tahun : umur (tahun) x 6 + 77

Rumus prediksi tinggi akhir anak sesuai dengan potensi genetik berdasarkan data tinggi badan orangtua dengan asumsi bahwa semuanya tumbuh optimal sesuai dengan potensinya, adalah sebagai berikut (dikutip dari Titi,1993) :

TB anak perempuan = ( TB ayah – 13 cm) + TB ibu ± 8,5 cm

2

TB anak laki-laki = ( TB ibu + 13 cm ) + TB ayah ± 8,5 cm

2

Contohnya adalah sebagai berikut : Sepasang suami istri datang ke poliklinik Tumbang untuk dipantau tumbuh kembang anaknya. Setelah dianamnesis didapatkan data senagai berikut TB suami 165 cm, sedangakan TB istri 160 cm, maka hitunglah TB optimal anak perempuannya ?

TB anak perempuan : ( TB ayah – 13 cm) + TB ibu ± 8,5 cm

2

( 165 cm – 13 cm ) + 160 cm ± 8,5 cm

312 cm / 2 ± 8,5 cm

156 cm ± 8,5 cm

Dilihat dari proporsi antara kepala, badan, serta anggota gerak maka akan tampak perbedaan yang jelas antara janin, anak-anak dan dewasa, yaitu sebagai berikut :

- pada waktu janin umur 2 bulan, kepala tampak besar dan memanjang, dimana ukuran panjang kepala hampir sama panjang badan ditambah tungkai bawah. Anggota gerak sangat pendek.

- Pada waktu lahir, kepala relatif masih besar, muka bulat, ukuran antero-posterior dada masih lebih besar, perut membuncit dan anggota gerak relatif lebih pendek. Sebagai titik tengah tinggi badannya adalah setinggiumbilikus.

- Pada dewasa anggota gerak lebih panjang dan kepala secara proporsional kecil, sehingga sebagai titik tengah adalah setinggi simfisis pubis.

F. Perkembangan Anak Balita

Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Dalam perkembangan anak terdapat masa kritis, dimana diperlukan rangsangan/stimulasi yang berguna agar potensi berkembang, sehingga perlu mendapat perhatian.Frankenburg dkk.(1981) melalui Denver Development Stress Test (DDST) mengemukakan 4 parameter perkembangan yang dipakai dalam menilai perkembangan anak balita yaitu :

1. Personal Social ( kepribadian/tingkah laku sosial ).

2. Fine Motor Adaptive ( gerakan motorik halus )

3. Langauge ( bahasa )

4. Gross Motor ( perkembangan motorik kasar )

Ada juga yang membagi perkembangan balita ini menjadi 7 aspek perkembangan, seperti pada buku petunjuk program BKB ( Bina Keluarga dan Balita ) yaitu perkembangan :

1. Tingkah laku sosial

2. Menolong diri sendiri

3. Intelektual

4. Gerakan motorik halus

5. Komunikasi pasif

6. Komunikasi aktif

7. Gerakan motorik kasar

Menurut Milestone perkembangan adalah tingkat perkembangan yang harus dicapai anak pada umur tertentu, misalnya :

4-6 minggu : tersenyum spontan, dapat mengeluarkan suara 1-2 minggu kemudian

12-16 minggu : – menegakkan kepala, tengkurap sendiri

- menoleh kearah suara

- memegang beneda yang ditaruh ditangannya

20 minggu : meraih benda yang didekatkan padanya

26 minggu : – dapat memeindahkan benda dari astu tangan ke tangan lainnya

- duduk, dengan bantuan kedua tangan ke depan

- makan biskuit sendiri

9-10 bulan : – menunjuk dengan jari telunjuk

- memegang benda dengan ibu jari dan telunjuk

- merangkak

- bersuara da.. da…

13 bulan : – berjalan tanpa bantuan

- mengucapkan kata-kata tunggal

Dengan milestone ini kita dapat mengetahui apakah anak mengalami perkembangan anak dalam batas normal atau mengalami keterlambatan. Sehingga kita dapat melakukan deteksi dini dan intervensi dini, agar tumbuh kembang anak dapat lebih optimal.

G. Denver Development Stress Test (DDST)

DDST adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak, tes ini bukanlah tes diagnostik atau tes IQ. DDST memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode skrining yang baik. Tes ini mudah dan cepat (15-20 menit), dapat diandalkan dan menunjukkkan validitas yang tinggi. Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan ternyata DDST secara efektif dapat mengidentifikasikan antara 85-100% bayi dan anak-anak prasekolah yang mengalami keterlambatan perkembangan, dan pada “follow up” selanjutnya ternyta 89% dari kelompok DDST abnormal mengalami kegagalan di sekolah 5-6 tahun kemudian.

Tetapi dari penelitian Borowitz (1986) menunjukkan bahwa DDST tidak dapat mengidentifikasikan lebih separoh anak dengan kelainan bicara. Frankerburg melakukan revisi dan restandarisasi kembali DDST dan juga tugas perkembangan pada sektor bahassa ditambah, yang kemudian hasil revisi dari DDST tersebut dinamakan Denver II.

a. Aspek perkembangan yang dinilai

Semua tugas perkembangan itu disusun berdasarkan urutan perkembangan dan diatur dalam 4 kelompok besar yang disebut sektor perkembangan, yag meliputi :

- Personal Social ( perilaku sosial )

Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.

- Fine Motor Adaptive ( gerakan motorik halus )

Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.

- Language ( bahasa )

Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah ddan berbicara spontan.

- Gross Motor ( gerakan motorik kasar )

Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.

Setiap tugas ( kemampuan ) digambarkan dalam bentuk kotak persegi panjang horisontal yang berurutan menurut umur, dalam lembar DDST. Pada umumnya pada waktu tes, tugas yang perlu diperiksa pada setiap kali skrining hanya berkisar antara 25-30 tugas saja, sehingga tidak memakan waktu lama hanya sekitar 15-20 menit saja.

b. Alat yang digunakan

- Alat peraga : benang wol merah, kismis/manik-manik, kubus warna merah-kuning, hijau-biru, permainan anak, botol kecil, bola tenis, bel kecil,kertas dan pensil.

- Lembar formulir DDST.

- Buku petunjuk sebagai refensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya.

c. Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap, yaitu :

Tahap I : secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia :

- 3-6 bulan

- 9-12 bulan

- 18-24 bulan

- 3 tahun

- 4 tahun

- 5 tahun

Tahap II : dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap I. Kemudian dilanjutkan pad eveluasi diagnostik yang lengkap.

d. Penilaian

Dari buku petunjuk terdapat penjelasan tentang bagaimana melakukan penilaian apakah lulus (Passed = P), gagal (Fail = F), ataukah anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No.Opportunity = N.O). Kemudian digaris berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST. Setelah dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P dan berapa yang F, elanjutnya berdassarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam : Normal, Abnormal, Meragukan (Questionable) dan tidak dapat dites ( Untestable ).

- Abnormal

- Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih.

- Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan PLUS 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan apad 1 sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.

- Meragukan

- Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih.

- Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis verikal usia.

- Tidak dapat dites

Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan.

- Normal

Semua yang tidak tercantum dalam kriteria tersebut diatas.

Dalam pelaksanaan skrining degan DDST ini, umur anak perlu ditetapkan terlebih dahulu, dengan menggunakan patokan 30 hari untuk 1 bulan dan 12 bulan untuk 1 tahun. Bila dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan kebawah dan sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan keatas.

Perhitungan umur adalah sebagai berikut ;

Misalnya Budi lahir pada tanggal 23 Mei 1992 dari kehamilan yang cukup bulan dan tes dilakukan pada tanggal 5 Oktober 1994, maka perhitungannya sebagai berikut ;

1994 – 10 – 5 ( saat tes dilakukan )

1992 – 5 – 23 ( tangga lahir Budi )

Umur Budi 2 – 4 – 12 = 2 tahun 4 bukan 12 hari, karena 12 hari lebih kecil dari 15 hari, maka dibulatkan kebawah, sehingga umur Budi adalah 2 tahun 4 bulan.

Kemudian garis umur ditarik vertikal pada formulir DDST yang memotong kotak-kotak tugas perkembangan pada ke-4 sektor. Tugas-tugasyang terletak di sebelah kiri garis itu, pada umumnya telah dapat dikerjakan oleh anak-anak seusia Budi(2 tahun 4 bulan). Apabila Budi gagal mengerjakan beberapa tugas-tugas tersebut.(F), maka berarti suatu keterlambatan poda tugas tersebut. Bila tugas-tugas yang gagal dikerjakan berada pada kotak yang terpotong oleh garis vertikal umur, maka ini bukanlah suatu keterlambatan, karena pada kontrol lebih lanjut masih mungkin terdapat perkembangan lagi. Begitu pula pada kotak-kotak sebelah kanan garis umur.

Pada ujung kotak sebelah kiri terdapat kode-kode R dan nomor. Kalau terdapat kode R maka tugas perkembangan cukup ditanyakan pada orang tuanya, sedangkan bila terdapat kode nomor maka tugas perkembangan doites sesuai petunujuk dibaliknya formulir.

Agar lebih cepat dalamelaksanakan skrining, maka dapat digunakan thp praskrining dengan menggunakan :

- DDST Short Form, yang masing-masing sektor hanya diambil 3 tugas 8 hingga seluruhnya ada 12 tugas ) yang ditanyakan pada ibunya. Bila didapatkan salah satu gagal atau ditolak, maka dianggap “suspect” dan perlu dilanjutkan dengan DDST lengkap. Dari penelitian Frankenburg didapatkan 25% anak pada pemeriksaan DDST Short Form ternyata memerlukan pemeriksaan DDST lengkap.

- PDQ ( Pra-Screening Development Questionnaire )

Bentuk kuesioner ini digunakan orang tua yang berpendidikan SLTA keatas. Dapat diisi orang tua di rumah atau pada saat menunggu di klinik. Dipilih 10 pertanyaan pada kuesioner yang sesuai dengan umur anak. Kemungkinan dinilai berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan, dan pada kasus yang dicurigai dilakukan tes DDST lengkap.

DASPUS<<<<

Depkes RI. Asuhan Kesehatan Anak Dalam Konteks Keluarga . Depkes RI. Jakarta. 192 : 6 – 18.

Markum. A.H. dkk. Ilmu Kesehatan Anak. FKUI. Jakarta. 1991 : 9 -

Mirriamstoppard. Complete Baby and Child Care. 1997.

Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta. 1998 : 1 – 63.

Behrman. Kliegman. Arvin. Ilmu Kesehatan Anak ( Nelson Textbook of Pediatrics ). EGC. Jakarta. 2000 : 37 – 45.

Dhamayanti. Meita. Stimulasi Tumbuh Kembang Anak Untuk Meningkatkan Emotional Spiritual Quotient (ESQ). FK Unpad Subbagian Tumbuh Kembang – Pediatri Sosial Bagian Ilmu Kesehatan Anak Perjan RSHS Bandung. Bandung. 2005.

Posted in Uncategorized on Februari 26, 2010 by cyntaa

Untuk melakukan asuhan persalinan normal dirumuskan 58 langkah asuhan persalinan normal sebagai berikut (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, 2003):
1 Mendengar & Melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua.
2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul oksitosin & memasukan alat suntik sekali pakai 2½ ml ke dalam wadah partus set.
3. Memakai celemek plastik.
4. Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dgn sabun & air mengalir.
5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yg akan digunakan untuk pemeriksaan dalam.
6. Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan letakan kembali kedalam wadah partus set.
7. Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah dengan gerakan vulva ke perineum.
8. Melakukan pemeriksaan dalam – pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah pecah.
9. Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%.
10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai – pastikan DJJ dalam batas normal (120 – 160 x/menit).
11. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa ingin meneran.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman.
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran.
14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.
15. Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm.
16. Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu
17. Membuka Baca lebih lanjut

ASKEB TETANUS NEONATORUM

Posted in Uncategorized on Februari 26, 2010 by cyntaa

TETANUS NEONATORUM

PENGERTIAN
TETANUS NEONATORUM adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh Clastridium Tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun yang menyerang sistem saraf pusat).

PENYEBAB
Tetanus Neonatorum merupakan penyebab radang yang sering dijumpai pada BBLR bukan karena trauma kelahiran atau afiksia tetapi disebabkan oleh infeksi mana neonatal antara lain:
1. Infeksi melalui tali pusat
2. Akibat pemotongan tali pusat yang kurang steril
3. Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada ibu hamil tidak dilakukan, atau tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan ketentuan program
4. Pertolongan persalinan tidak memenuhi persyaratan kesehatan
Clostridium tetani terdapat di tanah, dan traktus digestivus manusia dan hewan. Kuman ini dapat membuat spora yang tahan lama dan dapat berkembang biak dalam luka yang kotor atau jaringan nekrotik yang mempunyai suasana anaerob.

INSIDEN
Angka kematian kasus (Case Fatality Rate atau CFR) sangat tinggi pada kasus Tetanus Neonatorum yang tidak dirawat, angka mendekati 100%. Angka kematian kasus Tetanus Neonatorum yang dirawat di rumah sakit di Indonesia bervariasi dengan kisaran 10,8 – 55%.

MASA INKUBASI
Tetanus Neonatorum ini terjadi selama 5-14 hari. Pada umumnya Tetanus Neonatorum ini lebih cepat dan penyakit berlangsung lebih berat daripada Tetanus pada anak.
PATOFISIOLOGI
Kelainan patologik biasanya terdapat pada otak, sumsum tulang belakang, dan terutama pada nukleus motorik kematian disebabkan oleh Asfiksia akibat spasmus laring pada kejang yang lama. Selain itu, dapat disebabkan oleh pengaruh langsung pada pusat pernapasan dan peredaran darah. Sebab kematian yang lain ialah Pnemunia Aspirasi dan Sepsis. Kedua sebab yang terakhir ini mungkin sekali merupakan sebab utama kematian Tetanus Neonatorum di Indonesia.
Pada bayi, penyakit ini ditularkan biasanya melalui tali pusat, yaitu karena pemotongan tali pusat dengan alat tidak steril. Selain itu infeksi dapat juga melalui pemakaian obat (dermatol), bubuk daun-daunan yang digunakan dalam perawatan tali pusat.

PENANGANAN
Penanganan secara umum pada Tetanus Neonatorum:
1. Mengatasi kejang
a) Kejang dapat diatasi dengan mengurangi rangsangan, penderita/bayi ditempatkan di kamar yang tenang dengan sedikit sinar mengingat penderita sangat peka akan suara dan cahaya.
b) Memberikan suntikan anti kejang, obat yang dipakai ialah kombinasi fenobarbital dan largaktil. Fenobarbital dapat diberikan mula-mula 30-60 mg parenteral, kemudian dilanjutkan per os dengan dosis maksimum 10 mg per hari. Largaktil dapat diberikan bersama luminal, mula-mula 7,5 mg parenteral, kemudian diteruskan dengan dosis 6 x 2,5 mg setiap hari. Kombinasi yang lain ialah Kloralhidrat yang diberikan lewat anus.
2. Menjaga jalan nafas tetap bebas dengan membersihkan jalan nafas. Pemasangan spatel bila lidah tergigit
3. Mencari tempat masuknya spora tetanus, umumnya di tali pusat atau di telinga
4. Pemberian antitoksin
Untuk mengikat toksin yang masih bebas dapat diberi ATS dengan dosis 10.000 satuan setiap hari selama 2 hari berturut-turut dengan IM, kalau per infuse diberikan ATS 20.000 UI sekaligus.
5. Pemberian antibiotic
Untuk mengatasi infeksi dapat digunakan penisilin 200.000 UI setiap hari dan diteruskan sampai 3 hari sesudah panas turun atau ampisilin 100 mg/kgBB per hari dibagi dalam 4 dosis secara intravena selama 10 hari.
6. Perawatan yang adekuat, meliputi:
a) Kebutuhan oksigen
b) Makanan (harus hati-hati dengan memakai pipa yang dibuat dari polietilen atau karet)
c) Keseimbangan cairan dan elektrolit, kalau pemberian makanan peros tidak mungkin maka diberikan makanan dan cairan intravena. Cairan intravena berupa larutan glukosa 5% : NaCI fisiologik 4:1 selama 48-70 jam sesuai dengan kebutuhan, sedangkan untuk selanjutnya untuk memasukkan obat.
Bila sakit penderita lebih dari 24 jam atau sering terjadi kejang atau apnue, berikan larutan glukosa 10% : natrium bikarbonat 4:1 (sebaiknya jenis cairan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan analisa gas darah) bila setelah 72 jam belum mungkin diberikan minuman per oral, maka melalui cairan infus perlu ditambahkan protein dan kalium.
d) Tali pusat dirawat dengan kasa bersih dan kering

DIAGNOSA/MASALAH DAN PENANGANAN
Diagnosa atau masalah terjadinya Tetanus Neonatorum:
1. Terjadinya Gangguan Fungsi Pernapasan
Pada masalah ini dapat disebabkan kuman yang menyerang otot-otot pernapasan sehingga otot pernapasan tidak berfungsi. Adanya spasme mulut dan tenggorokan sehingga mengganggu jalan nafas.
 Intervensinya yang dapat dilakukan:
a) Atur posisi bayi dengan kepala ekstensi
b) Berikan oksigan 1-2 liter/menit. Jika sedang terjadi kejang karena sianosis bertambah berat O2 diberikan lebih tinggi dapat sampai 4 liter/menit (jika kejang berhenti turunkan lagi)
c) Bila terjadi kejang, pasang sudip lidah untuk mencegah lidah jatuh ke belakang dan juga memudahkan penghisapan lendir bila ada, lebih baik dipasang guedel (selama masih banyak kejang guedel atau sudip lidah dipasang terus)
d) Sering isap lendir yakni pada saat kejang, jika akan melakukan nafas buatan pada saat apnea dan sewaktu-waktu terlihat lendir pada mulut bayi
e) Observasi tanda vital secara kontinu setiap ½ jam dan catat secara cermat, pasien Tetanus Neonatorum karena mendapatkan anti Konvulsan terus kemungkinan sewaktu-waktu dapat terjadi apnea
f) Usahakan agar tempat tidur bayi dalam keadaan hangat (pasang selubung tempat tidur/kain di sekeliling tempat tidur karena selama payah bayi sering dalam keadaan telanjang, maksudnya agar memudahkan pengawasan pernapasannya). Bila bayi kedinginan juga dapat menyebabkan apnea
2. Pemenuhan Nutrisi atau Cairan
Akibat bayi tidak mau menetek dan untuk memenuhi kebutuhan makanannya perlu diberi infus dengan cairan glukosa 10%. Tetapi karena bayi juga sering sianosis maka cairan ditambahkan natrikus 11/2% dengan perbandingan 4:1.
3. Kurangnya Pengetahuan Orang Tua
Pada orang tua pasien yang bayinya menderita Tetanus perlu diberikan penjelasan bahwa bayinya menderita sakit berat atau bahaya maka memerlukan tindakan dan pengobatan khusus. Selain itu, yang perlu dijelaskan ialah bila ibunya hamil lagi agar minta suntikan pencegahan tetanus.

DAFTAR PUSTAKA

Wiknyosastro, Gulardi Hanifa. 2002. PELAYANAN KESEHATAN MATERIAL DAN NEONATAL. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.

Ngastiyah. 1997. PERAWATAN ANAK SAKIT. Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

Hidayat, Azis Alimul. 2005. PENGANTAR ILMU KEPERAWATAN ANAK I. Salemba Medika : Jakarta.

Wiknyosastro, Gulandi Hanifa. 2005. ILMU KEBIDANAN. Yayasan Bina Pustaka Sarwino Prawirohardjo : Jakarta.

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY. SANTI
DENGAN TETANUS NEONATORUM
DI BKIA KASIH BUNDA KARANGTALUN TULUNGAGUNG

I. PENGUMPULAN DATA BESAR
Pengkajian dilakukan pada hari Selasa, 16 September 2008 pukul 10.00 WIB di BKIA Kasih Bunda Karangtalun Tulungagung.
1.1. Biodata
1.1.1. Klien
Tempat : By. Ny. Santi
Tempat tanggal lahir : Tulungagung, 11 September 2008
Jenis kelamin : Laki-laki
Anak ke : I
1.1.2. Orang Tua
Nama : Tn. Rudi / Ny. Santi
Umur : 27 tahun / 24 tahun
Agama : Islam / Islam
Ibu Pendidikan : SMA / SMP
Pekerjaan : Wiraswasta / Ibu rumah tangga
Alamat : Ds. Sambijajar

1.2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan bahwa sejak 2 hari yang lalu bayinya rewel sulit untuk minum ASI dan mulutnya digerak-gerakkan sampai mulutnya mecucu dan sering kejang-kejang.

1.3. Riwayat Kesehatan yang Lalu
1.3.1. Riwayat Antenatal
 Ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya/ANC kebidan 2x dan ke polindes 2x jadi sleama kehamilan ibu melakukan ANC sebanyak 4x.
 Mendapatkan imunisasi TT lengkap
 Obat-obatan yang pernah diminum Fe, Kalk, Vit C, Vit B6, Vit B1
 Keluhan selama kehamilan
– TM I  Mual muntah pada pagi hari
– TM II  Tidak ada keluhan
– TM III  Sering kencing
 Ibu tidak ada riwayat alergi terhadap makanan, minuman maupun obat-obatan
 Ibu mengatakan tidak ada penyakit menular
Example : Hepatitis, AIDS, PMS
 Ibu mengatakan tidak mempunyai penyakit menurun
Example : DM, Hipertensi
 Ibu mengatakan tidak mempunyai penyakit menahun
Example : TBC, Asma
 UK : 40 Minggu
 Selama hamil ibu tidak ada pantangan terhadap makanan, minuman maupun obat-obatan serta tidak pernah minum jamu-jamuan
1.3.2. Riwayat Intranatal
 Ibu merasa kenceng-kenceng mulai tanggal 11 September 2008 pukul 01.00 WIB. Sifat adekuat, kontraksi 5x dalam 10 menit, sudah mengeluarkan lendir yang bercampur darah, ketuban sudah pecah, bayi lahir tanggal 11 September 2008 pada pukul 08.00 ditolong oleh bidan. Persalinan berlangsung secara spontan pervaginan. Jenis kelamin laki-laki, berat badan 3500 gram, panjang badan 50 cm, lingkar dada 34 cm. Selama persalinan tidak ada kesulitan, tidak ada kelainan, tidak ada cacat bawaan pada bayi, placenta lahir pada pukul 08.20 WIB dengan cara spontan pada saat lahir bayi menangis kuat, urine keluar secara spontan pada saat persalinan.
 Lama persalinan
– Kala I = 8 jam
– Kala II = 1 jam
– Kala III = 20 menit
– Kala IV = 2 jam
Obat yang diberikan adalah aksitosin 10 unit.
Untuk bayi: hepatitis B 1 mg.
1.3.3. Riwayat Neonatal
– Bayi lahir secara : Spontan pervaginan
– Apgar score : 7-8
– Berat badan : 3500 gram
– Panjang badan : 50 cm
– Lingkar dada : 34 cm
– Lingkar kepala : 34 cm
– Makanan : ASI saja
– Perawatan selama bayi : Ibu dan keluarga
1.3.4. Riwayat Nifas
Ibu tidak pernah minum jamu-jamuan, tidak ada pantangan makanan/minuman tertentu.
1.3.5. Riwayat Tumbuh Kembang
Bayi lahir dengan berat badan 3500 gram, panjang badan 50 cm, lingkar dada 34 cm, lingkar kepala 34 cm, reflek suching bertambah, reflek rooting bertambah, reflek muro bertambah, reflek grip bertambah, reflek planter bertambah.
1.3.6. Riwayat Imunisasi/Status Kesehatan Terakhir
Imunisasi bayi baru lahir :  Hepatitis B
 Polio I

1.4. Pola Kegiatan Sehari-hari
1.4.1. Pola Nutrisi
– Sebelum sakit : Sesering mungkin minimal 2 jam sekali
– Selama sakit : Minum ASI tiap 5 jam sekali dikarenakan bayi rewel dan sering menangis
1.4.2. Pola Eliminasi
– Sebelum sakit
BAB  3-4x sehari berwarna kuning kecoklatan, konsistensi lunak, bau khas, tidak ada pus/darah
BAK  6-8x sehari warna jernih, tidak ada darah atau pus
– Selama sakit
BAB  2-3x sehari berwarna kuning kecoklatan, konsistensi lunak, bau khas, tidak ada pus/darah
BAK  4-6x sehari warna kuning keruh, tidak ada pus atau darah
1.4.3. Pola Istirahat
– Sebelum sakit  siang dan malam ± 10 jam
– Selama sakit  siang dan malam ± 12 jam
1.4.4. Personal Hygiene
– Sebelum sakit  Mandi = 2x sehari
Ganti baju = 2x sehari
Ganti popok = 12-15x sehari
Perawatan tali pusat dilakukan oleh nenek bayi
Sebelum sakit = belum pernah diganti
– Selama sakit  Mandi = 2x sehari
Ganti baju = 2x sehari
Ganti popok = 12-15x sehari
Perawatan tali pusat selama sakit diganti 1x sehari
1.4.5. Data Psikososial
Hubungan ibu dengan suami, keluarga dan petugas kesehatan terjalin dengan baik.

1.5. Tanda-tanda Vital
Nadi = 154x/menit
Respirasi = 40x/menit
Suhu = 37,5oC

1.6. Pemeriksaan Fisik
1.6.1. Kepala
Simetris, kulit kepala bersih, tidak ada lesi/luka, tidak ada benjolan.
1.6.2. Mata
Simetris, konjungtiva merah muda, palpebra tidak oedema, sklera putih.
1.6.3. Hidung
Simetris, bersih, tidak ada sebret, terdapat pernafasan cuping hidung.
1.6.4. Mulut
Bibir  Simetris, tidak ada sumbing, tidak sariawan, warna pucat, tidak ada luka, tidak cellosis, sering mecucu
Lidah  Bersih, warna merah jambu, tidak glositis
Gusi  Warna merah jambu, sehat, tidak gingiuitis
1.6.5. Telinga
Simetris, tidak orap, bersih, tidak ada serumen.
1.6.6. Leher
Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, vena jugularis dan kelenjar limfe, leher kaku.

1.6.7. Dada
Simetris, bunyi jantung normal, teratur dan terdengar jelas, tidak ada Ronchi/Weezhing dan juga tidak ada bunyi mur-mur.
1.6.8. Abdomen
Simetris, tali pusat basah dan berbau, ada tanda-tanda infeksi (merah), dinding abdomen terasa keras.
1.6.9. Anogenetalia
Testis sudah turun diskrotum, bersih, tidak ada kelainan pada genetika dan teraba lubang anus.
1.6.10. Ekstrimitas Atas dan Bawah
Kanan dan kiri simetris, tidak adema, tidak ada lesi/luka, tidak ada gangguan pergerakan, kadang kejang-kejang.
1.6.11. Punggung
Simetris, tidak ada lesi/luka, bersih.

1.7. Pemeriksaan Reflek
a. Suching : +
b. Routing : +
c. Moro : +
d. Plantar : +
e. Graps : +

1.8. Status Gizi
a. Sebelum sakit
PB = 3500 gr
PB = 50 cm
LD = 34 cm
LK = 34 cm
b. Selama sakit
PB = 3500 gr
PB = 50 cm
LD = 34 cm
LK = 34 cm

Kesimpulan:
– Bayi anak Ny. Anjar dengan tetanus neonatorum dengan ciri-ciri : rewel, sulit untuk minum ASI, mulutnya digerak-gerakkan sampai mulutnya mecucu dan kejang-kejang.

II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH
DATA DASAR DIAGNOSA/MASALAH
S : Ibu mengatakan bahwa sejak 2 hari yang lalu bayinya rewel, sulit untuk minum ASI dan mulutnya digerak-gerakkan sampai mulutnya mecucu dan sering kejang-kejang Diagnosa:
Tetanus Neonatorum
O : TTV
N : 154x/menit
S : 40x/menit
R : 37oC
Pemeriksaan Fisik:
– Bibir sering mecucu
– Abdomen terasa keras
– Bayi rewel dan tidak mau menetek
– Ektermitas atas dan ektermitas bawah kadang kejang-kejang
– Abdomen pada tali pusat basah dan baru, merah

S : Ibu mengatakan bayinya sejak 2 hari yang lalu rewel dan tidak mau menetek. Ibu mengatakan selama sakit anaknya minum ASI tiap 5 jam sekali Masalah:
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
O : Status gizi
Selama sakit : Berat badan turun 3500 gram menjadi 3300 gram

S : Ibu mengatakan tidak mengganti balutan tali pusat bayinya setiap hari meskipun balutannya basah dan diganti satu kali ketika tali pusat mengeluarkan bau Gangguan pemenuhan kebutuhan personal hygiene
O : Tali pusat basah dan berbau, terdapat tanda-tanda infeksi yaitu merah pada tali pusat dan daerah di sekitarnya

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH POTENSIAL
Tetanus Neonatorum

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YANG MEMBUTUHKAN TINDAKAN SEGERA
– Kolaborasi dengan dokter spesialis anak
– Merujuk

Diagnosa/Masalah Tujuan/Kriteria Keberhasilan Intervensi
Diagnosa:
Tetanus Neonatorum Tujuan:
Tetanus yang dialami oleh klien sembuh

Kriteria Hasil:
 Tand-tanda infeksi (merah) hilang
 Tali pusat bersih dan kering
 Kejang yang dialami oleh klien berkurang
 Terpenuhinya kebutuhan nutrisi oleh klien 1. Bina hubungan saling percaya antara keluarga dan petugas kesehatan.
Rasional:
Dengan hal ini dapat menumbuhkan rasa saling percaya sehingga memudahkan untuk melakukan tindakan medis.
2. Anjurkan kepada ibu untuk merawat bayinya di tempat yang tenang dengan pencahayaan yang kurang.
Rasional:
Dengan merawat bayi di tempat yang tenang dengan pencahayaan yang kurang dapat mengurangi kejang pada bayi karena rangsangan suara dan cahaya dan menimbulkan kejang.
3. Anjurkan kepada ibu untuk merawat tali pusatnya setiap hari sehabis mandi.
Rasional:
Tali pusat yang basah menjadi tempat masuknya mikroorganisme sehingga menimbulkan infeksi.
4. Anjurkan kepada ibu untuk tetap memberikan ASI setiap hari secara rutin.
Rasional:
Bayi memerlukan nutrisi untuk memenuhi kebutuhannya dan dengan terpenuhinya nutrisi dapat membantu daya tahan tubuh bayi menghadapi penyakitnya.

Implementasi Evaluasi
Dilakukan pada tanggal Dilakukan pada tanggal
1. Membina hubungan saling percaya antara klien dan anggota keluarga
2. Menganjurkan kepada ibu untuk merawat bayinya di tempat/ruangan yang terang dengan pencahayaan yang kurang untuk mengurangi kejang pada bayi
3. Menganjurkan kepada ibu untuk merawat tali pusatnya setiap hari sehabis mandi untuk mempercepat proses penyembuhan
4. Menganjurkan kepada ibu untuk tetap memberikan ASI agar tercukupinya kebutuhan nutrisi bayi 1. S : Ibu mengatakan ia mengerti tentang kondisi bayinya sekarang dan ibu mau melaksanakan semua nasihat-nasihat yang diberikan oleh bidan
O :  Bayi kelihatan lebih tenang
 Kejang yang terjadi sudah berkurang 1x dalam sehari
 Tanda infeksi sudah mulai menghilang
A : Masalah teratasi sebagian
P : 1. Anjurkan kepada ibu untuk selalu menjaga personal hygiene bayinya terutama perawatan tali pusat
2. Anjurkan kepada ibu untuk datang 2 hari lagi atau sewaktu-waktu bila bayinya bertambah parah

Diagnosa/Masalah Tujuan/Kriteria Keberhasilan Intervensi
Masalah:
Gangguan personal hygiene Tujuan:
Personal hygiene pada bayi terpenuhi

Kriteria Keberhasilan:
 Tali pusat tidak bau, dan merah
 Tali pusat tidak mengalami infeksi
 Tali pusat kering dan bersih 1. Anjurkan pada ibu untuk melakukan perawatan tali pusat dengan baik dan benar.
Rasional:
Hal ini dapat mencegah terjadinya infeksi tali pusat.
2. Anjurkan pada ibu untuk tidak memberikan/membubuhi tali pusat dengan apapun.
Rasional:TETANUS NEONATORUM

PENGERTIAN
TETANUS NEONATORUM adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh Clastridium Tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun yang menyerang sistem saraf pusat).

PENYEBAB
Tetanus Neonatorum merupakan penyebab radang yang sering dijumpai pada BBLR bukan karena trauma kelahiran atau afiksia tetapi disebabkan oleh infeksi mana neonatal antara lain:
1. Infeksi melalui tali pusat
2. Akibat pemotongan tali pusat yang kurang steril
3. Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada ibu hamil tidak dilakukan, atau tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan ketentuan program
4. Pertolongan persalinan tidak memenuhi persyaratan kesehatan
Clostridium tetani terdapat di tanah, dan traktus digestivus manusia dan hewan. Kuman ini dapat membuat spora yang tahan lama dan dapat berkembang biak dalam luka yang kotor atau jaringan nekrotik yang mempunyai suasana anaerob.

INSIDEN
Angka kematian kasus (Case Fatality Rate atau CFR) sangat tinggi pada kasus Tetanus Neonatorum yang tidak dirawat, angka mendekati 100%. Angka kematian kasus Tetanus Neonatorum yang dirawat di rumah sakit di Indonesia bervariasi dengan kisaran 10,8 – 55%.

MASA INKUBASI
Tetanus Neonatorum ini terjadi selama 5-14 hari. Pada umumnya Tetanus Neonatorum ini lebih cepat dan penyakit berlangsung lebih berat daripada Tetanus pada anak.
PATOFISIOLOGI
Kelainan patologik biasanya terdapat pada otak, sumsum tulang belakang, dan terutama pada nukleus motorik kematian disebabkan oleh Asfiksia akibat spasmus laring pada kejang yang lama. Selain itu, dapat disebabkan oleh pengaruh langsung pada pusat pernapasan dan peredaran darah. Sebab kematian yang lain ialah Pnemunia Aspirasi dan Sepsis. Kedua sebab yang terakhir ini mungkin sekali merupakan sebab utama kematian Tetanus Neonatorum di Indonesia.
Pada bayi, penyakit ini ditularkan biasanya melalui tali pusat, yaitu karena pemotongan tali pusat dengan alat tidak steril. Selain itu infeksi dapat juga melalui pemakaian obat (dermatol), bubuk daun-daunan yang digunakan dalam perawatan tali pusat.

PENANGANAN
Penanganan secara umum pada Tetanus Neonatorum:
1. Mengatasi kejang
a) Kejang dapat diatasi dengan mengurangi rangsangan, penderita/bayi ditempatkan di kamar yang tenang dengan sedikit sinar mengingat penderita sangat peka akan suara dan cahaya.
b) Memberikan suntikan anti kejang, obat yang dipakai ialah kombinasi fenobarbital dan largaktil. Fenobarbital dapat diberikan mula-mula 30-60 mg parenteral, kemudian dilanjutkan per os dengan dosis maksimum 10 mg per hari. Largaktil dapat diberikan bersama luminal, mula-mula 7,5 mg parenteral, kemudian diteruskan dengan dosis 6 x 2,5 mg setiap hari. Kombinasi yang lain ialah Kloralhidrat yang diberikan lewat anus.
2. Menjaga jalan nafas tetap bebas dengan membersihkan jalan nafas. Pemasangan spatel bila lidah tergigit
3. Mencari tempat masuknya spora tetanus, umumnya di tali pusat atau di telinga
4. Pemberian antitoksin
Untuk mengikat toksin yang masih bebas dapat diberi ATS dengan dosis 10.000 satuan setiap hari selama 2 hari berturut-turut dengan IM, kalau per infuse diberikan ATS 20.000 UI sekaligus.
5. Pemberian antibiotic
Untuk mengatasi infeksi dapat digunakan penisilin 200.000 UI setiap hari dan diteruskan sampai 3 hari sesudah panas turun atau ampisilin 100 mg/kgBB per hari dibagi dalam 4 dosis secara intravena selama 10 hari.
6. Perawatan yang adekuat, meliputi:
a) Kebutuhan oksigen
b) Makanan (harus hati-hati dengan memakai pipa yang dibuat dari polietilen atau karet)
c) Keseimbangan cairan dan elektrolit, kalau pemberian makanan peros tidak mungkin maka diberikan makanan dan cairan intravena. Cairan intravena berupa larutan glukosa 5% : NaCI fisiologik 4:1 selama 48-70 jam sesuai dengan kebutuhan, sedangkan untuk selanjutnya untuk memasukkan obat.
Bila sakit penderita lebih dari 24 jam atau sering terjadi kejang atau apnue, berikan larutan glukosa 10% : natrium bikarbonat 4:1 (sebaiknya jenis cairan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan analisa gas darah) bila setelah 72 jam belum mungkin diberikan minuman per oral, maka melalui cairan infus perlu ditambahkan protein dan kalium.
d) Tali pusat dirawat dengan kasa bersih dan kering

DIAGNOSA/MASALAH DAN PENANGANAN
Diagnosa atau masalah terjadinya Tetanus Neonatorum:
1. Terjadinya Gangguan Fungsi Pernapasan
Pada masalah ini dapat disebabkan kuman yang menyerang otot-otot pernapasan sehingga otot pernapasan tidak berfungsi. Adanya spasme mulut dan tenggorokan sehingga mengganggu jalan nafas.
 Intervensinya yang dapat dilakukan:
a) Atur posisi bayi dengan kepala ekstensi
b) Berikan oksigan 1-2 liter/menit. Jika sedang terjadi kejang karena sianosis bertambah berat O2 diberikan lebih tinggi dapat sampai 4 liter/menit (jika kejang berhenti turunkan lagi)
c) Bila terjadi kejang, pasang sudip lidah untuk mencegah lidah jatuh ke belakang dan juga memudahkan penghisapan lendir bila ada, lebih baik dipasang guedel (selama masih banyak kejang guedel atau sudip lidah dipasang terus)
d) Sering isap lendir yakni pada saat kejang, jika akan melakukan nafas buatan pada saat apnea dan sewaktu-waktu terlihat lendir pada mulut bayi
e) Observasi tanda vital secara kontinu setiap ½ jam dan catat secara cermat, pasien Tetanus Neonatorum karena mendapatkan anti Konvulsan terus kemungkinan sewaktu-waktu dapat terjadi apnea
f) Usahakan agar tempat tidur bayi dalam keadaan hangat (pasang selubung tempat tidur/kain di sekeliling tempat tidur karena selama payah bayi sering dalam keadaan telanjang, maksudnya agar memudahkan pengawasan pernapasannya). Bila bayi kedinginan juga dapat menyebabkan apnea
2. Pemenuhan Nutrisi atau Cairan
Akibat bayi tidak mau menetek dan untuk memenuhi kebutuhan makanannya perlu diberi infus dengan cairan glukosa 10%. Tetapi karena bayi juga sering sianosis maka cairan ditambahkan natrikus 11/2% dengan perbandingan 4:1.
3. Kurangnya Pengetahuan Orang Tua
Pada orang tua pasien yang bayinya menderita Tetanus perlu diberikan penjelasan bahwa bayinya menderita sakit berat atau bahaya maka memerlukan tindakan dan pengobatan khusus. Selain itu, yang perlu dijelaskan ialah bila ibunya hamil lagi agar minta suntikan pencegahan tetanus.

DAFTAR PUSTAKA

Wiknyosastro, Gulardi Hanifa. 2002. PELAYANAN KESEHATAN MATERIAL DAN NEONATAL. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.

Ngastiyah. 1997. PERAWATAN ANAK SAKIT. Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

Hidayat, Azis Alimul. 2005. PENGANTAR ILMU KEPERAWATAN ANAK I. Salemba Medika : Jakarta.

Wiknyosastro, Gulandi Hanifa. 2005. ILMU KEBIDANAN. Yayasan Bina Pustaka Sarwino Prawirohardjo : Jakarta.

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY. SANTI
DENGAN TETANUS NEONATORUM
DI BKIA KASIH BUNDA KARANGTALUN TULUNGAGUNG

I. PENGUMPULAN DATA BESAR
Pengkajian dilakukan pada hari Selasa, 16 September 2008 pukul 10.00 WIB di BKIA Kasih Bunda Karangtalun Tulungagung.
1.1. Biodata
1.1.1. Klien
Tempat : By. Ny. Santi
Tempat tanggal lahir : Tulungagung, 11 September 2008
Jenis kelamin : Laki-laki
Anak ke : I
1.1.2. Orang Tua
Nama : Tn. Rudi / Ny. Santi
Umur : 27 tahun / 24 tahun
Agama : Islam / Islam
Ibu Pendidikan : SMA / SMP
Pekerjaan : Wiraswasta / Ibu rumah tangga
Alamat : Ds. Sambijajar

1.2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan bahwa sejak 2 hari yang lalu bayinya rewel sulit untuk minum ASI dan mulutnya digerak-gerakkan sampai mulutnya mecucu dan sering kejang-kejang.

1.3. Riwayat Kesehatan yang Lalu
1.3.1. Riwayat Antenatal
 Ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya/ANC kebidan 2x dan ke polindes 2x jadi sleama kehamilan ibu melakukan ANC sebanyak 4x.
 Mendapatkan imunisasi TT lengkap
 Obat-obatan yang pernah diminum Fe, Kalk, Vit C, Vit B6, Vit B1
 Keluhan selama kehamilan
– TM I  Mual muntah pada pagi hari
– TM II  Tidak ada keluhan
– TM III  Sering kencing
 Ibu tidak ada riwayat alergi terhadap makanan, minuman maupun obat-obatan
 Ibu mengatakan tidak ada penyakit menular
Example : Hepatitis, AIDS, PMS
 Ibu mengatakan tidak mempunyai penyakit menurun
Example : DM, Hipertensi
 Ibu mengatakan tidak mempunyai penyakit menahun
Example : TBC, Asma
 UK : 40 Minggu
 Selama hamil ibu tidak ada pantangan terhadap makanan, minuman maupun obat-obatan serta tidak pernah minum jamu-jamuan
1.3.2. Riwayat Intranatal
 Ibu merasa kenceng-kenceng mulai tanggal 11 September 2008 pukul 01.00 WIB. Sifat adekuat, kontraksi 5x dalam 10 menit, sudah mengeluarkan lendir yang bercampur darah, ketuban sudah pecah, bayi lahir tanggal 11 September 2008 pada pukul 08.00 ditolong oleh bidan. Persalinan berlangsung secara spontan pervaginan. Jenis kelamin laki-laki, berat badan 3500 gram, panjang badan 50 cm, lingkar dada 34 cm. Selama persalinan tidak ada kesulitan, tidak ada kelainan, tidak ada cacat bawaan pada bayi, placenta lahir pada pukul 08.20 WIB dengan cara spontan pada saat lahir bayi menangis kuat, urine keluar secara spontan pada saat persalinan.
 Lama persalinan
– Kala I = 8 jam
– Kala II = 1 jam
– Kala III = 20 menit
– Kala IV = 2 jam
Obat yang diberikan adalah aksitosin 10 unit.
Untuk bayi: hepatitis B 1 mg.
1.3.3. Riwayat Neonatal
– Bayi lahir secara : Spontan pervaginan
– Apgar score : 7-8
– Berat badan : 3500 gram
– Panjang badan : 50 cm
– Lingkar dada : 34 cm
– Lingkar kepala : 34 cm
– Makanan : ASI saja
– Perawatan selama bayi : Ibu dan keluarga
1.3.4. Riwayat Nifas
Ibu tidak pernah minum jamu-jamuan, tidak ada pantangan makanan/minuman tertentu.
1.3.5. Riwayat Tumbuh Kembang
Bayi lahir dengan berat badan 3500 gram, panjang badan 50 cm, lingkar dada 34 cm, lingkar kepala 34 cm, reflek suching bertambah, reflek rooting bertambah, reflek muro bertambah, reflek grip bertambah, reflek planter bertambah.
1.3.6. Riwayat Imunisasi/Status Kesehatan Terakhir
Imunisasi bayi baru lahir :  Hepatitis B
 Polio I

1.4. Pola Kegiatan Sehari-hari
1.4.1. Pola Nutrisi
– Sebelum sakit : Sesering mungkin minimal 2 jam sekali
– Selama sakit : Minum ASI tiap 5 jam sekali dikarenakan bayi rewel dan sering menangis
1.4.2. Pola Eliminasi
– Sebelum sakit
BAB  3-4x sehari berwarna kuning kecoklatan, konsistensi lunak, bau khas, tidak ada pus/darah
BAK  6-8x sehari warna jernih, tidak ada darah atau pus
– Selama sakit
BAB  2-3x sehari berwarna kuning kecoklatan, konsistensi lunak, bau khas, tidak ada pus/darah
BAK  4-6x sehari warna kuning keruh, tidak ada pus atau darah
1.4.3. Pola Istirahat
– Sebelum sakit  siang dan malam ± 10 jam
– Selama sakit  siang dan malam ± 12 jam
1.4.4. Personal Hygiene
– Sebelum sakit  Mandi = 2x sehari
Ganti baju = 2x sehari
Ganti popok = 12-15x sehari
Perawatan tali pusat dilakukan oleh nenek bayi
Sebelum sakit = belum pernah diganti
– Selama sakit  Mandi = 2x sehari
Ganti baju = 2x sehari
Ganti popok = 12-15x sehari
Perawatan tali pusat selama sakit diganti 1x sehari
1.4.5. Data Psikososial
Hubungan ibu dengan suami, keluarga dan petugas kesehatan terjalin dengan baik.

1.5. Tanda-tanda Vital
Nadi = 154x/menit
Respirasi = 40x/menit
Suhu = 37,5oC

1.6. Pemeriksaan Fisik
1.6.1. Kepala
Simetris, kulit kepala bersih, tidak ada lesi/luka, tidak ada benjolan.
1.6.2. Mata
Simetris, konjungtiva merah muda, palpebra tidak oedema, sklera putih.
1.6.3. Hidung
Simetris, bersih, tidak ada sebret, terdapat pernafasan cuping hidung.
1.6.4. Mulut
Bibir  Simetris, tidak ada sumbing, tidak sariawan, warna pucat, tidak ada luka, tidak cellosis, sering mecucu
Lidah  Bersih, warna merah jambu, tidak glositis
Gusi  Warna merah jambu, sehat, tidak gingiuitis
1.6.5. Telinga
Simetris, tidak orap, bersih, tidak ada serumen.
1.6.6. Leher
Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, vena jugularis dan kelenjar limfe, leher kaku.

1.6.7. Dada
Simetris, bunyi jantung normal, teratur dan terdengar jelas, tidak ada Ronchi/Weezhing dan juga tidak ada bunyi mur-mur.
1.6.8. Abdomen
Simetris, tali pusat basah dan berbau, ada tanda-tanda infeksi (merah), dinding abdomen terasa keras.
1.6.9. Anogenetalia
Testis sudah turun diskrotum, bersih, tidak ada kelainan pada genetika dan teraba lubang anus.
1.6.10. Ekstrimitas Atas dan Bawah
Kanan dan kiri simetris, tidak adema, tidak ada lesi/luka, tidak ada gangguan pergerakan, kadang kejang-kejang.
1.6.11. Punggung
Simetris, tidak ada lesi/luka, bersih.

1.7. Pemeriksaan Reflek
a. Suching : +
b. Routing : +
c. Moro : +
d. Plantar : +
e. Graps : +

1.8. Status Gizi
a. Sebelum sakit
PB = 3500 gr
PB = 50 cm
LD = 34 cm
LK = 34 cm
b. Selama sakit
PB = 3500 gr
PB = 50 cm
LD = 34 cm
LK = 34 cm

Kesimpulan:
– Bayi anak Ny. Anjar dengan tetanus neonatorum dengan ciri-ciri : rewel, sulit untuk minum ASI, mulutnya digerak-gerakkan sampai mulutnya mecucu dan kejang-kejang.

II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH
DATA DASAR DIAGNOSA/MASALAH
S : Ibu mengatakan bahwa sejak 2 hari yang lalu bayinya rewel, sulit untuk minum ASI dan mulutnya digerak-gerakkan sampai mulutnya mecucu dan sering kejang-kejang Diagnosa:
Tetanus Neonatorum
O : TTV
N : 154x/menit
S : 40x/menit
R : 37oC
Pemeriksaan Fisik:
– Bibir sering mecucu
– Abdomen terasa keras
– Bayi rewel dan tidak mau menetek
– Ektermitas atas dan ektermitas bawah kadang kejang-kejang
– Abdomen pada tali pusat basah dan baru, merah

S : Ibu mengatakan bayinya sejak 2 hari yang lalu rewel dan tidak mau menetek. Ibu mengatakan selama sakit anaknya minum ASI tiap 5 jam sekali Masalah:
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
O : Status gizi
Selama sakit : Berat badan turun 3500 gram menjadi 3300 gram

S : Ibu mengatakan tidak mengganti balutan tali pusat bayinya setiap hari meskipun balutannya basah dan diganti satu kali ketika tali pusat mengeluarkan bau Gangguan pemenuhan kebutuhan personal hygiene
O : Tali pusat basah dan berbau, terdapat tanda-tanda infeksi yaitu merah pada tali pusat dan daerah di sekitarnya

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH POTENSIAL
Tetanus Neonatorum

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YANG MEMBUTUHKAN TINDAKAN SEGERA
– Kolaborasi dengan dokter spesialis anak
– Merujuk

Diagnosa/Masalah Tujuan/Kriteria Keberhasilan Intervensi
Diagnosa:
Tetanus Neonatorum Tujuan:
Tetanus yang dialami oleh klien sembuh

Kriteria Hasil:
 Tand-tanda infeksi (merah) hilang
 Tali pusat bersih dan kering
 Kejang yang dialami oleh klien berkurang
 Terpenuhinya kebutuhan nutrisi oleh klien 1. Bina hubungan saling percaya antara keluarga dan petugas kesehatan.
Rasional:
Dengan hal ini dapat menumbuhkan rasa saling percaya sehingga memudahkan untuk melakukan tindakan medis.
2. Anjurkan kepada ibu untuk merawat bayinya di tempat yang tenang dengan pencahayaan yang kurang.
Rasional:
Dengan merawat bayi di tempat yang tenang dengan pencahayaan yang kurang dapat mengurangi kejang pada bayi karena rangsangan suara dan cahaya dan menimbulkan kejang.
3. Anjurkan kepada ibu untuk merawat tali pusatnya setiap hari sehabis mandi.
Rasional:
Tali pusat yang basah menjadi tempat masuknya mikroorganisme sehingga menimbulkan infeksi.
4. Anjurkan kepada ibu untuk tetap memberikan ASI setiap hari secara rutin.
Rasional:
Bayi memerlukan nutrisi untuk memenuhi kebutuhannya dan dengan terpenuhinya nutrisi dapat membantu daya tahan tubuh bayi menghadapi penyakitnya.

Implementasi Evaluasi
Dilakukan pada tanggal Dilakukan pada tanggal
1. Membina hubungan saling percaya antara klien dan anggota keluarga
2. Menganjurkan kepada ibu untuk merawat bayinya di tempat/ruangan yang terang dengan pencahayaan yang kurang untuk mengurangi kejang pada bayi
3. Menganjurkan kepada ibu untuk merawat tali pusatnya setiap hari sehabis mandi untuk mempercepat proses penyembuhan
4. Menganjurkan kepada ibu untuk tetap memberikan ASI agar tercukupinya kebutuhan nutrisi bayi 1. S : Ibu mengatakan ia mengerti tentang kondisi bayinya sekarang dan ibu mau melaksanakan semua nasihat-nasihat yang diberikan oleh bidan
O :  Bayi kelihatan lebih tenang
 Kejang yang terjadi sudah berkurang 1x dalam sehari
 Tanda infeksi sudah mulai menghilang
A : Masalah teratasi sebagian
P : 1. Anjurkan kepada ibu untuk selalu menjaga personal hygiene bayinya terutama perawatan tali pusat
2. Anjurkan kepada ibu untuk datang 2 hari lagi atau sewaktu-waktu bila bayinya bertambah parah

Diagnosa/Masalah Tujuan/Kriteria Keberhasilan Intervensi
Masalah:
Gangguan personal hygiene Tujuan:
Personal hygiene pada bayi terpenuhi

Kriteria Keberhasilan:
 Tali pusat tidak bau, dan merah
 Tali pusat tidak mengalami infeksi
 Tali pusat kering dan bersih 1. Anjurkan pada ibu untuk melakukan perawatan tali pusat dengan baik dan benar.
Rasional:
Hal ini dapat mencegah terjadinya infeksi tali pusat.
2. Anjurkan pada ibu untuk tidak memberikan/membubuhi tali pusat dengan apapun.
Rasional:
Hal ini dapat membuat tali pusat bayi berbau.
3. Anjurkan pada ibu untuk mengganti balutan tali pusat apabila kotor dan basah.
Rasional:
Hal ini dapat membantu mempercepat proses pengeringan tali pusat.

Implementasi Evaluasi
Dilakukan pada hari Dilakukan pada hari
1. Menganjurkan pada ibu untuk melakukan perawatan tali pusat dengan baik dan benar yaitu untuk mencegah terjadinya infeksi
2. Menganjurkan pada ibu untuk tidak memberikan/membubuhi tali pusat dengan apapun yaitu dapat memebuat tali pusat bau dan basah
3. Menganjurkan pada ibu untuk mengganti balutan tali pusat jika kotor dan basah yaitu untuk mempercepat proses pengeringan tali pusat S : Ibu mengatakan bahwa ia mengerti tentang penjelasan yang diberikan oleh bidan dan mau untuk melaksanakannya
O :  Ibu nampak mengerti
 Ibu bisa mengulangi penjelasan yang diberikan oleh bidan
A : Masalah teratasi sebagian
P : Anjurkan pada ibu untuk datang 3 hari lagi/bila sewaktu-waktu ada komplikasi/kelainan

Hal ini dapat membuat tali pusat bayi berbau.
3. Anjurkan pada ibu untuk mengganti balutan tali pusat apabila kotor dan basah.
Rasional:
Hal ini dapat membantu mempercepat proses pengeringan tali pusat.

Implementasi Evaluasi
Dilakukan pada hari Dilakukan pada hari
1. Menganjurkan pada ibu untuk melakukan perawatan tali pusat dengan baik dan benar yaitu untuk mencegah terjadinya infeksi
2. Menganjurkan pada ibu untuk tidak memberikan/membubuhi tali pusat dengan apapun yaitu dapat memebuat tali pusat bau dan basah
3. Menganjurkan pada ibu untuk mengganti balutan tali pusat jika kotor dan basah yaitu untuk mempercepat proses pengeringan tali pusat S : Ibu mengatakan bahwa ia mengerti tentang penjelasan yang diberikan oleh bidan dan mau untuk melaksanakannya
O :  Ibu nampak mengerti
 Ibu bisa mengulangi penjelasan yang diberikan oleh bidan
A : Masalah teratasi sebagian
P : Anjurkan pada ibu untuk datang 3 hari lagi/bila sewaktu-waktu ada komplikasi/kelainan

ASUHAN BALITA dengan PeTusis

Posted in Uncategorized on Februari 26, 2010 by cyntaa

PERTUSIS

  1. Pengertian

Pertusis disebut juga tussis quinta,whooping caugh.batuk rejan,batuk seratus hari.

  1. Penyebab

Penyebab pertusis adalah Bordetella pertussis atau Haemophilus pertussis yaitu suatu kuman tidak bergerak gram negatif dan didapatan dengan pengambilan usapan pada daerah nasofaring pasien pertusis kemudian ditanam pada agar media Bordet-Gangou.

  1. Penularan

Cara penularannya adalah melalui kontak langsung dengan pasien. Penusis dapat mengenai semua golongan urnur dan terbanyak mengnai anak umur 1-5 tahun.

  1. Patolog

Lesi biasanya terdapat pada bronkus dan bronkiolus tetapi terdapat perubahan-perubahan pada selaput lendir trakea, laring dan nasofaring. Lesi berupa nekrosis bagian basal dan tengah sel epitel thorak, disebut infiltrat neutrofil dan makrofag. Lendir yang terbentuk dapat menyumbat bronkus kecil hingga dapat menimbulkan emfisema dan atelektasis.

  1. Komplikasi
    1. AIat pernafasan

Dapat terjadi otitis media, bronikitis, bronkupneumonia, atelektasis yang disebabkan sumbatan mukus, emfisem & bronkiektasis, sedangkan TBC yang sudah ada dapat bertambah berat

  1. AIat pencernaan

Muntah-muntah yang berat dapat menimbulkan emasiasi anak menjadi kurus sekali, prolaps rektum atau hernia yang mungkin timbul karena tingginya tekanan intraabdominal, ulkus pada ujung lidah karena tergosok pada gigi atau tergigit pada waktu serangan batuk juga stomatitis

  1. Susunansaraf

kejang aapt timbul karena gangg’ian keseimbangan elektrolit akibat mt’ntah-muntah.J(adang-kadang terdaa kongesti dan edema pada otak,mungkin pula terjadi perdarahan padaotak.

  1. Lain – lain

Dapat juga terjadi perdarahan lain seperti epitaksis hemoptisis dan perdarahan subkoijungtiva.

  1. Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan secara aktif dan pasif. Secara aktif dengan memberikan vaksin pertusis dalam jumlah 12 unit di bagi dalam dosis dengan interval 8 minggu.

Bila dalam anamnesis terdapat riwayat kejang, iritasi serebral sehma masa neonaius epilepsi daIam keluarga atau penyakit susunan saraf pusat, adanya efek neurologis atau anak sedang menderita sakit khususnya penyakit traktus respiratorius yang disertai demam, reaksi lokal atau umum yang gawat setelah mendapat vaksinasi pertusis.

Pemberian vaksinasi hanya sampai anak berumur 6 tahun dengan pertimbangan morbiditas pertusis yang menurun dengan bertambahnya umur sedangkan kemungkinan koplikasi neurologis pasca vaksinasi bertambah.

  1. Gambaran Klinik

Masa tunas 7-14 hari, penyakit dapat berlangsung 6 minggu atau lebih dan terbagi dalam 3 stadium yaitu:

  1. Stadium kataralis

Lamanya  1-2 minggu. Pada permulaan hanya batuk-batuk ringan terutama malam hari semakin lama semakin berambah berat terjadi siang dan malam.Gejala lain adalah pilek, serak, dan anoreksia Stadium ini menyerupai influenza biasa

  1. Stadium spasmodik

Lamanya 2-4 minggu. Pada akhir minggu batuk semakin bertambah berapasien tampak berkeringat pembuluh darah leher dan muka melebar. Batuk sedemikian beratnya hingga pasien tampak gelisah dengan muka sianotik. Serangan batuk panjang tidak ada inspirum diantaranya dan diakhiri dengar whoop tarikan nafas panjang dan dalam berbunnyi melengking. Sering disertai muntah dan banyak sputuri yang kental. Anak dapat terberak-berak dan terkencing-kencing. Pada penyakit yang bertambah dapat terjadi perdarahan subkonjungtiva dan epitaksis karena meningkatnya tekanan pada waktu serangan batuk.

  1. Stadium konvalesensi

Lamanya kira-kira 2 minggu sampai sembuh. Pada minggu ke empat jumlah dan beratnya serangam batuk berkurang, juga muntah berkurang, nafsu makan timbul Kemoali, roIki difus yang terdapat pada stadium spasmodik mulai menghilang. Bila menjumpai pasien dengan batuk sudah  lama dan telah diberi obat tidak ada perbaikan apalagi keluhan batuk makin panjang disertai muntah pada akhir batuk dan suara melngking dapat diduga pasien mendeerita pertusis

  1. Pemeriksaan Diagnostik

Pada stadium 1 dan 2 jumlah leukosit meningkat kadang sampai 15.000- 45.000 per mm3

  1. Penatalaksanaan Medik
    1. Antibiotik
      1. Eritromisin 50 mg/kg BB/hari dibagi 4 dosis
      2. Imunoglobulin: belum ada persesuaian paham
      3. Ekspektoransia dan mukolitik
      4. Kodein bila batuk berat
      5. Luminal sebagai sedativa
  2. Keperawatan
    1. Pemenuhan kebutuhan nutrsi
      1. kalau anak anoreksia berikan susu
      2. Usahakan pada setiap keadaan tenangg memberikan makanan apa saja yang bergisi misalnya makanan kecil yang dapat dimasukkan susu.
      3. Pemberian makanan tidak boleh terlalu manis, terlalu asin atau makanan yang digoreng karena dapat merangsang batuk
      4. Bila pasien masih bayi segera setelah tenang berikan susu lagi.
    1. Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dibagi 4 dosis
    2. Lain-lain: kloramfenikol, tetrasiklin, kotrimoksazol

  1. Pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman
    1. Seteiah serangan batuk reda, seka keringatnya, dan ganti pakaiannya yang kotor
    2. Berikan minum serta usahakan agar anak mau beristirahat
    3. Hindari penyebab batuk misalnya terlalu banyak menangis, tertawa bercanda yang berlebihan.
    4. Obat harus diberikan dengan benar dan jika dimuntahkan ulangi pemberiannya setelah tenang.
    5. Jangan membuat anak takut dengan menunjukkan kekesalan misalnya bila terjadi anak sampai terberak-berak / terkencing-kencing.

  1. Mengurangi resiko terjadi komplikasi

Dengan pemberian imunisasi DPT dan folio. Bila anak sakit batuk segera bawa berobat agar dapat diagnosis dini.

  1. Kurang pengetahuan orang tua mengenai penyakit

Pemberian penyuluhan tentang imunisasi sesuai program dan manfaat dan imunisasi. Dan menghindarkan anak yang terkena pertusis dengan anak lainnya untuk sernentara waktu


DAFTAR PUSTAKA

Ngastiyah.Perawatan Anak Sakit.1997.Jakarta:EGC


BAB II

ASUHAN KEBIDANAN PADA NEONATUS, BAYI DAN ANAK BALITA

DENGAN PERTUSIS

I.PENGAKUAN

Dilakukan pada hari senin 20 Oktober 2008 pukul 10.00 WIB di BKIA Sejahtera Rejotangan.

  1. A. Biodata
  2. Klien

Nama                           :     A

Ttl/Umur                     :     20 Oktober 2005 / 3 Tahun

Jenis Kelamin              :     L

Anak ke                       :     1

  1. Orang Tua

Nama                           :     Ny. C / Tn. F

Umur                           :     20 Tahun / 27 Tahun

Agama                         :     Islam

Pendidikan                  :     SD / SMP

Pekerjaan                     :     Ibu rumah tangga / Pedagang

Alamat                        :     Ds. Tenggur, Kec. Rejotangan

  1. B. Keluhan utama

Ibu mengatakan cemas akan keadaan anaknya karena sudah 2 minggu anaknya batuk terus terutama malam hari, kadang sampai muntah dan batuknya itu suaranya melengking.

  1. C. Riwayat kesehatan yang lalu
    1. 1. Riwayat Anternatal
      1. Ibu rutin dalam memeriksakan kehamilannya (ANC) di BKIA Sejahtera, Rejotangan sebanyak 4 kali
      2. Ibu sudah mendapat imunisasi TT 2 kali, yaitu pada saat TT CPW 1 kali dan waktu hamil 1 kali
      3. Ibu sudah pernah mendapat obat-obtan yang pernah diminum adalah Fc dan Vitamin C
      4. Selama hamil muda, tidak ada keluhan (Normal)
      5. Ibu tidak mempunyai riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan
      6. Ibu tidak pernah mnderita penyakit akut/kronis seperti : DM, Asma, jantung, ginjal dan TBC
      7. Ibu tidak pernah menderita penyakit menular, seperti : Hepatitis, Malaria, PMS, Typus, Abdominalis
      8. Selama hamil tua tidak ada keluhan
      9. Ibuu tidak pernah minum jamu dan tidak ada ketergantungan terhadap obat-obatan
      10. Umur kehamilan 40 minggu

  1. 2. Riwayat Intranatal

Ibu merasa kenceag-kenceng mulai tanggal 19 Oktober 2008 jam 18.00 WIB. Sifatnya adekuat dan internitel. Setiap 10 menit terdapat 3 kali kontraksi, setiap kontraksi lamanya 60 detik. Dan vagina di keluarkan lendir bercampur darah. Ketuban pecah tanggal 20 Oktober 2008 jam 05.00 WIB. Warna ketuban jernih dan cukup banyak, ibu tidak mengalami KPD dan bayi lahir ditolong oleh bidan, persalinan berlangsung secara spontan. Jenis kalamin bayi laki-laki dengan S.b. 3.100 Gram, PB = 43 cm, LK =35 cm, LD = 34cm. selama persalinan tidak ada penyulit dan tidak ada kelainan egenial pada bayi. Plasenta lahir jam 06.15 WIB secara spontan, lama persalinan

Lama Persalianan

Kelas   I     : 13 Jam

II   :  1,5 Jam

III  :  20 Menit

IV  :  2 Jam

  1. 3. Riwayat Neonatal
    1. Bayi lahir secara    : Spontan
    2. AS    :  7-8-9
    3. BB    :  3.100 gram
    4. LD    :  34cm
    5. LK    :  35cm
    6. PB    :  43cm
    7. ULA :  12cm

  1. 4. Riwayat Nifas

Ibu tidak pernah minum jamu dan tidak ada pantangan terhadap  makanan/minuman

  1. 5. Riwayat Tumbang

Bayi lahir normal dengan 88 = 3.100 gr, PB = 43 cm, LK = 35 cm, LD = 34cm

Reflek Moro       : +

Surching reflek   : +

Roatig reflek      : +

Greepreflek        : +

Galant reflek      : +

  1. 6. Riwayat Imunisasi / Setatus Kesehatan Terakhir
  • Imunaisasi yang telah di dapat

Hepatitis

BCG = pada usia 3 bulan di posyandu dan imunaisasi Polio pada usia 9 bulan

  1. 7. Asi Dan Mpasi

Colostrum didapat langsung setelah lahir

  1. 8. Perawatan Tali Pisat

Setelah dipotong, tali pusar ditali dengan rapat dengan menggunakan tali teril, dibersihkan dan dibungkus dengan kasa steril

  1. 9. Riwayat Keluarga

Dari keluarga tidak ada yang memiliki penyalit menular dan menurun menahun


  1. D. Pola kegiatan sehari-hari

AKTIVITAS SEBELUM SAKIT SELAMA SAKIT
  1. a. Pola tidur dan istirahat

1. Waktu tidur malam

2. Waktu tidur Siang

3. Hal hal yang mempermudah tidur

4. Hal hal yang mempermudah bangun

  1. b. Pola Nutrisi

1. Pola Minum

-           Frekuensi

-           Jumlah

-           Jenis

-           Alergi/masalah

-           Upaya mengatasi

2. Pola Makan

-           Frekuensi

-           Jenis

-           Alergi/masalah

-           Upaya mengatasi

± 10 Jam

± 2-3 Jam

Suara berisik

Sering

7 kali sehari

7 gelas / hari @200cc

Susu, the, air putih

3 x sehari (1 porsi =6 SDM)

Nasi, lauk pauk, sayur

± 5 jam

Tidak tidur

Batuk

Cukup

6 x / hari

2 gelas susu, 2 gelas

Susu, the, air putih

-

-

2 x sehari (1porsi =4 SDM)

Nasi, lauk, sayur,

Nafsu makan turun

Dubujuk untuk makan

  1. c. Pola Eliminasi

1) BAB

-           Frekuensi

-           Wana

-           Konsistensi

-           Bentuk.

-           Bau

-           Jumlah

-           Keluhan

-           Upaya mengatasi

2) BAK

-           Frekuensi

-           Warna

-           Kejernihan

-           Bau

-           Jumlah

-           Keluhan

-           Upaya Mengatasi

3) Pola Higiens

-           Mandi

-           Cuciambut

-           Ganti baju

4) Pola Aktivitas

1 x sehari

Kuni

Lunak

-

Khas

-

-

-

2-4 x sehari

Kuning

Jernih

Khas

-

-

-

2 x Sehari

3 x seminggu

3 x sehari

Bermain dengan anak

Sebayanya pada pagidan sore hari

1 x sehari

Kuning

Lunak

-

Khas

-

-

-

3 x Sehari

Kuning

Jernih

Khas

-

-

-

3 x sehari

1 x seminggu

3 x sehari

Tetap bermain dengan teman sebayanya namun sebentar


  1. E. Pemeriksaan fisik

Keadan umum                   : Lemah

Kesadaran       : Composmetis

TTV                 : Tensi        :  -

Nadi       : 130 x / menit

Respirasi : 35 x / menit

Suhu       : 37°C

Berat badan     :  Sebelum sakit           15 Kg

Selama Sakit                        12 Kg

  • Kepala

Inspeksi     : Kulit bersih, tidak ada lesi, pertumbuhan rambut merata, tidak ada luka

Palpasi       : Tidak ada Benjolan

  • Mata

Inspeksi     : Cekung, sklera putih keabuabuan, conjungtiva pucat

  • Telinga

Inspeksi     : Simetris tidak ada serumen, bersih

  • Hidung

Inspeksi     : Simetris,  ada pernafasan cuping hidung, tidak ada kelainan congonital

  • Mulut

Inspeksi     : Simetris, tidak ada cheilosis, terdapat bau mulut

  • Leher

Inspeksi     : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

Palpasi       : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe pembesaran vena jugularis

  • Thorax

Inspeksi     : Simetris, pernafasan tidak teratur, terdapat retraksi dada

Askultasi   : Terdapat ronchi

  • Jantung

Auskultasi : Tidak ada mur-mur denyut jantung terdengar jelas dan teratur

Terdengar bunyi dup dup

  • Abdomen

Inspeksi     : Simetris tidak ada luka,tidak ada benjolan ,pembesaran hepar tidak ada

Palpasi       : Tidak ada pembesaran, hepar yang abnormal

  • Genotalia

Inspeksi     : Tidak ada luka , bersih tidak ada sekret

Palpasi       : Tidaka ada nyeri tekan

  • Ekstremitas

Inspeksi     : Tidak ada luka

Palpsai       : Tidak nyeri tekan

  • Integuemen

Inspeksi     : Bersih

Pemeriksaaan penunjang         Lab Hb = 9 gr%

Leukosit          : 20000/cmm

Laboraturium : ditemukan kuman gram (-) yaitu berdotella pertuseis pada apusan tenggorokklien


II.MENGIDENTIFIKASI DIAGNOSA DN MASALAH

No Data Dasar Diagnosa/Masalah
S  : Ibu mengatakan anaknya sudah 2minggu batuk terus terutama pada malam hari

O : TTV : Tensi

Nadi : 130x/menit

Repirsi : 35x/menit

Suhu : 37°C

Tharax : Inspeksi : simetris, pernafasan tidak teratur, ada retraksi dada

Hidung

Inspeksi                 : Simetris,  ada pernafasan cuping hidung, tidak ada kelainan congonital

Aukultasi : Terdapat ronchi

Pemeriksaan laboraturium Bordetella Partusis (+)

dengan epusan tenggorok

– DL Leukosil 20.000 HB 9 gr%

Pertusis
S : Ibu mengatakan batuk anaknya kadang sampai muntah, nafsu makan anak berkurang

O : Keadaan Umum lemah

Mulut : Simetris, tidak ada cheilosis, terdapat bau mulut

Mata : Cekung, palpebra normal, tidak ada odema, sklera putih keabuabuan, konjungtiva pucat

BB sebelum sakit :15 Kg

BB sesudah sakit : 12 Kg

Gangguan pola nutrisi
S : Ibu mengatakan anaknay sering ternangun pada malam hari karena batuk

O :  Keadaan Umum : lelah

Mata : Cekung sklera putih keabuabuan conjungtiva pucat

Gangguan pola istirahat
S : Ibu mengatakan Merasa cemas akan keadaan anaknya Cemas

IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL

Terjadi emasiasi terhadap anak

III.IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YANG MEMERLUKAN TINGKATAN SEGERA

Tidak ada

V/VI/. INTERVENSI / IMPLEMENTASI / EVALUASI

No. DIAGNOSA /

MASALAH

TUJUAN / KRITERIA

HASIL

INTERVENSI IMPLEMENTASI EVALUASI
1

2

3

Pertusis

Ds : Px tidak mengeluh batuk

Do :

-        Anak batuk

-        Respirasi normal

-        Tidak ada retraksi dada

Gangguan pola Nutrisi

Gangguan pola istirahat

Tujuan :

Batuk anak berkurang

Kriteria hasil

Tujuan :

Kebutuhan nutrisi tercukupi

Kriteria hasil :

-           Anak tidak muntah lagi

-           Nafsu makan bisa kembali seperti sebelum sakit (3 x sehari 1 porro = 6 sdm)

-           Berat badan anak bertambah

Tujuan :

Kebutuhan istirahat anak tercukupi

Kriteria Hasil :

Anak bisa tidur pada malm hari

  1. Bina Hubungan saling percaya dengan orang tua klien

Dengan adanya hubungan yang baik akan dapat menciptakan hubungan kerjasama yang baik pula

  1. Jelaskan pada ibu klien tentang sakit yang di derita anaknya

Dengan ibu mengetahuipenyakit yang di derita anaknya maka diharapkan akan mempermudah menjalin kerjasama dalam proses pengobatan anaknya dan ibu tidak akan terlalu cemas.

  1. Kolaborasi dengan dokter spesialis anak dalam rangka penentuan terapi obat beserta dosisnya yaitu :

-     Entromisin 50 mg/kg BB/hari dibagi dalam 4 dosis

-     Ampisilin 100 mg/kg GG/hari dibagi 4 dosis

-      Luminal sebagai sedativa

Rasional:

Kolaborasi dengan dokter akan mempermudah dalam penentuan terapi obat

  1. Jelaskan pada orang tua klien mengenai car minum obat

Rasioal :

Agar kerja obat lebih maksimal dengan cara pemberian yang tepat

  1. Jelaskan pada ibu agar anak dijauhkan dari anak-anak yang lain untuk sementara waktu

Rasioal :

Dengan mengurani kontak dengan orang lain, maka akan mengurang penularan pertusis ke orang lain

  1. Jelaskan pada ibu mengenai cara mengendalikan batuk dengan menghindari makanan gorengan dan berminyak

R : Gorengan dan manis merangsang batuk

  1. Jelaskan pada orang tua agar diusahakan makanan yang masuk tidak terlalu kurang

Rasioial:

Memenuhi kebutuhan nutrisi

  1. Jelaskan pada orang tua anak tidak boleh makan-makanan yang terlalu nanis, terlalu asin, gorengan

Rasional :

Dapat mengurangi batuk

  1. Jelaskan pada ibu untuk memberikan rasa nyama kepada anaknya

Rasional :

Dengan rasa nyaman anak bisa istirahat dan mengurangi serangan batuk

  1. Jelaskan pada ibu cara menghindari anak dan penyebab serangan batuk

Rasional :

Serangan batuk bisa diperkecil intensitasnya

  1. Jelaskan pada orang tua untuk tidak menunjukkan kekesalannya apabi1a terjadi anak sampai terberak-berak atau terkencing-kencing

Rasional :

Anak-anak merasa ketakutan

  1. Menjelaskan pada orang tua klien untuk mengganti tidur malam anaknya yang kurang tidur di siang hari
Tanggal 20-10-2008

Pukul : 10.00 WIB

  1. Membina hubungan yang lebih baik dengan ornga tua klien
  2. Menjelaskan pada ibu klien tetang penyakit yang diderita anaknya

  1. Kolaborasi dengan dokter spesialis anak dalam rangka penentuan terapi obat beserta dosisnya yaitu : Obat beserta dosisnya

-           Eritromisin 50 mg/kg BB/hari dibagi dalam 4 dosis

-           Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dibagi 4 dosis

-           Ekspektoransia dan mukolitik

-           Luminal sebagai sedativa

  1. Menjeaskan pada orang tua klien mengenai cara minum obat yaitu apabila stetelah minum obat anak muntah ulangi pemberian obat
  2. Menjelaskan pada ibu agar anak dijauhkan atau dikurangi waktu bermainnya dengan anak-anak lain untuk mencegah penyebaran penyakit yang di derita kepada orang lain
  3. Menjelaskan pada ibu agar anak menghindari diberi makanan berminyak dan terlalu manis

  1. Menjelaskan pada orang tua klien agar  diusahakan makanan yang masuk tidak terlalu kurang yaitu dengan cara setiap hari batuk/muntah berikan anak makanan/susu dan usahakan setiap keadaan tenang agar memberikan makanan  yang bergisi misalnya biskuit yang dimasukkan susu

Menjelaskan pada orang tua klien bahwa anak tidak boleh makan makanan yang terlau manis, terlalu asin

Tanggal 20-10-2008

Pukul 11.10 WIB

Menjelaskan pada ibu apabila anaknya batuk, harus ada yang menemani dan membantu apabila anak muntah setelah serangan batuk reda usahakan agar baju dibuka, seka keringat dan ganti pakaian yang kotor terkena keringat dan muntah

-           kemudian setelah tenang

  1. Menjelaskan pada ibu apabila anaknya batuk, harus ada yang menemani dan membantu apabila anak muntah setelah serangan batuk reda usahakan agar baju dibuka, seka keringat dan ganti pakaian yang kotor terkena keringat dan muntal, kemudian setelah tenang berikan anak minum air putih biasa
  2. Menje1askan pada ibu untuk menghindarkan anak dari penyebab serangan batuk misalnya : menangis, tertawa, bercada yang berlebihan

  1. MenjeIakan pada orang tua klien untuk tidak menunjukkan kekesalanya apabila terjadi serangan batuk pada anak sampai terberak-berak atau terkencing-kencing karena anak akan sangat keakutan
  2. Menjelaskan pada orang tua klien untuk mengganti tidur malam anaknya yang kurang tidur di siang hari

Tanggal 20-10-2008

Pukul : 12.00 WIB

S : Ibu tampak mengerti dengan penjelasan bidan dan mampu menanggulanginya dengan baik

-        Ibu mengatakan batuk pada anaknya sedikit berkurang

O : Batuk anak sedikit berkurang

-        Anak tampak lebih tenang

A : Masalah teratasi sebagian

P : Rencana dilanjutkan (3,4,5)

Tanggal 20-10- 2008

Pukul 1.00 WIB

S : ibu mengatakan aengerti dengan penjelasan bidan dan mampu mengulanginya dengan baik

L: Masalah teratasi sebagian

P : Rencana dilanjutkan

Tanggal 20-10-2008 Pukul 11.20 WEB

S : Orang tua klien mengatakan mengerti tentang penjelasan bidan dan mampu mengulangi penjelasan dengan baik

O : orang tua klien tampak mengerti tentang penjelasan bidan

A : masalah teratasi sebagian

P : rencana dilanjutkan

ASKEB HYPERTERMI

Posted in Uncategorized on Februari 26, 2010 by cyntaa

BAB I

LANDASAN TEORI

HIPERTERMY

  1. I. Definisi

Hipertermy adalah peningkatan suhu inti tubuh yang dapat disebabkan oleh suhu lingkungan yang berlebihan, infeksi, dehidrasi atau perubahan mekanisme pengaturan panas sentral yang berhubungan dengan trauma lahir pada otak atau Malformasi dan obat-obatan. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal).

Hipertermy adalah suhu tubuh yang tinggi dan bukan disebabkan oleh karena mekanisme pengaturan panas hipotalamus, mungkin disebabkan oleh meningkatnya produksi panas Endogen (misalnya: saat olahraga berat, Hipertermia mallana, Neuleptik mallana, Hiperteroidisme lapis), keracunan Atropin atau terpajan lama pada lingkungan bersuhu tinggi (sangat panas). (ilmu kesehatan anak).

Infeksi Sistemik selalu dipertanyakan pada bayi dengan kenaikan suhu inti tubuhnya. Seharusnya dipertimbangkan juga pemberian lingkungan yang merubah kontrol panas, tidak jarang ditemukan kenaikan suhu inti mengikuti kenaikan pamasukan panas pada reduksi Bilirubin, juga dapat terjadi pada inkubator yang diletakkan dibawah sinar matahari.

Bayi yang bersuhu tinggi akibat lingkungan akan vasodildtasi untuk menghilangkan panas,ekstrimitas dan badan bayi akan mempunyai suhu yang hampir sama, bayi yang terkena sepsis vasokontriksinya dan ekstrimitasnya lebih dingin dari pada bagian tubuh lainnya. Kadang-kadang  disebut Gradien “Perut Jari Kaki” (Tummy Toe). Saat kaki 2-3° C lebih dingin dari perut, waktunya dilakukan fungsi spinal. Lingkungan yang terlalu panas juga cukup berbahaya bagi neonatus.

  1. II. Etiologi Hipertermi
  • Lingkungan yang panas.
  • Pajanan sinar matahari yang terlalu lama
  • Infeksi sistemik.
  • Dehidrasi
  • Sepsis

  1. III. Macam-macam Hipertermi
  • Hipertermia Maligna

Gangguan autosom dengan sifat dominan. Hal ini biasa  terjadi saat terjadi pajanan pada lingkungan yang sangat panas atau pada penderita Miopati.

  • Sindrom Neuroleptik Maligna

Terjadi pasca pajanan agen-agen mirip Fenil Azin dan dapat dibedakan dengan Hipertermia Maligna.

  • Demam  Obat

Kenaikan suhu pada demam obat antara 38-43° celcius. Agen yang sering menimbulkan demam obat  adalah Antibiotik (Penisilin, sefalosporin ), Antikovulsan (fenitoin), apabila demam obat terjadi maka tindakan pertama adalah segera hentikan pemberian obat. Demam ini biasanya akan sembuh dalam 72 jam setelah penghentian pemberian obat.

  1. IV. Tanda Gejala  Hipertermi pada BBL
  • Suhu tubuh lebih dari 37,5° Celcius
  • Frekuensi pernafsan lebih dari 60X / menit.
  • Tanda-tanda dehidrasi yaitu, Berat badan turun, turgor kulit kurang, banyaknya urine berkurang.

  1. V. Intervensi
  • Pindahkan bayi pada ruangan yang sejuk / suhu kamar 26° – 28 ° Celcius
  • Kompres bayi dengan kain basah dengan suhu 4° Celsius lebih rendah dari suhu tubuhnya.
  • Berikan cairan Dektrose Nacl 1:4 sampai dehidrasi teratasi.
  • Apabila terjadi infeksi segera berikan antibiotika.
  • Apabila demam terjadi obat segera hentikan pemberian obat.

BAB II

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI  NY. ZZ Dengan Hipertermi

Di  BPS MINAWANGI Ds. SUMBERGEMPOL

  1. I. Penggumpulan Data Dasar

Pengkajian dilakukan pada hari Sabtu, 20 September 2008 pukul 09.00 Wib.

  1. Biodata

1)      Klien

Nama                                 :  Fatur

Tempat /tanggal lahir        : Tulungagung, 18 September 2008

Umur                                 : 2 hari

Jenis kelamin                     : Laki-laki

Anak ke                             : I ( pertama )

2)      Orang tua

Nama                                 : Tn. Ytr / Ny. ZZ

Umur                                 : 26 thn / 22 thn

Agama                               : Islam  / Islam

Pendidikan                                    : SMA/ SMA

Pekerjaan                           : Wiraswasta / Ibu rumah tangga

Alamat                              : Kauman, Tulungagung.

  1. Keluhan Klien

Ibu cemas karena sejak ± 2 jam yang lalu bayinya gelisah terus dan badannya  panas setelah di jemur selama 25 menit pada pagi hari tadi.

  1. Riwayat kesehatan yang lalu

1        Riwayat antenatal

  1. Ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya secara rutin / ANC rutin yaitu kebidan 3X, kepuskesmas 2X, jadi selama kehamilannya ia memeriksakan kehamilannaya sebanyak 5X.
  2. Mendapat imunisasi TT lengkap.
  3. Obat-obat yang pernah diminum : Fe,  kalk, Vit.C, Vit B6, Vit B1.
  4. Keluhan selama hamil
  • TM I          : Mual muntah di pagi hari
  • TM II        : Tidak ada
  • TM III       : Sering kencing.
  1. Ibu tidak ada riwayat alergi terhadap makanan, minuman, maupun obat-obatan.
  2. Tidak ada penyakit menular.

Contohnya: hepatitis, AIDS, Typoid, PMS

  1. Tidak ada penyakit menurun.

Contohnya: DM, Hipertensi

  1. Tidak ada penyakit menahun.

Contohnya: TBC, Ashma

  1. UK: 40 minggu.
  2. Selama hamil ibu tidak ada pantangan terhadap makanan, minuman, ibu tidak mengkonsumsi  jamu-jamuan maupun obat-obatan.

2        Riwayat Intranatal

Ibu merasa kenceng-kenceng mulai tanggal  17 September 2008, pukul 22.00 WIB sudah mengeluarkan lendir bercampur darah. Ketuban pecah pada tanggal 18 September  pukul 11.00 wib dengan warna jernih, bau khas, tidak bercampur mekonium. Bayi lahir pada pukul 11.30 WIB  ditolong oleh bidan, persalinan  secara  spontan, jenis kelamin laki-laki, bayi lahir dengan letak belakang kepala selama persalinan tidak ada penyulit. Plasenta  lahir secara spontan 10 menit setelah bayi lahir.

  1. Lama persalinan :        Kala I  : 12 jam

Kala II : 30 menit

Kala III :10 menit

Kala IV : 2 jam.

  1. Obat yang diberikan : Oksitosin 10µ IM.

3        Riwayat Neonatal

  1. Bayi lahir secara          : Spontan
  2. AS                               : 7-10
  3. BB                               : 3000 gram
  4. LD                               : 34 cm
  5. LK                               : 34 cm
  6. PB                               : 50 cm
  7. Makanan                     : Asi saja.

  1. Riwayat   Nifas

Ibu tidak pernah minum jamu-jamuan,  tidak ada pantangan dalam makanan dan minuman tertentu.

  1. Riwayat Tumbuh kembang

Bayi lahir dengan BB 3000 gram, PB: 50 cm, LD: 32 cm, LK: 35 cm,  Reflek : Suching +, Rooting +,  Moro +, Grip +, Plantar +.

  1. Riwayat Imunisasi BBL :

v  Hepatitis B

v  Polio I / pertama

v  BCG

  1. Perawatan tali pusat : Perawatan tali pusat dilakukan sesaat setelah bayi lahir, ditali rapat dan dibungkus kasa kering.

  1. II. Pola Kegiatan  Sehari-hari

  1. Pola Nutrisi

v  Sebelum sakit : Sesering mungkin Min.2 jam sekali.

v  Selama sakit    :Minum ASI satu kali.

  1. Pola Eliminasi

v  Sebelum sakit

BAB : 3-4 X sekali warna kuning kecoklatan, konsistensi lunak, bau khas, tidak ada pus/ darah.

BA K : 6-8  X sehari, warna jernih, tidak ada darah / pus.

v  Selama sakit

BAB :  belum BAB

BAK : belum BAK

  1. Pola Istirahat
  • Sebelum sakit : siang + malam ±18 jam
  • Selama sakit   : belum tidur.
  1. Pola hygiene
  • Sebelum sakit :
  1. Mandi                                       :2X sehari
  2. Ganti baju                               : 2X sehari
  3. Ganti popok                            :10-12X sehari
  • Selama sakit :
  1. Mandi                                      : belum mandi
  2. Ganti baju                               : 1 X hari
  3. Ganti popok                            : 1 Xsehari.

  1. Data Psikososial.

Hubungan ibu  dengan suami, keluarga dan petugas kesehatan terjalin dengan baik.

  1. Pemeriksaan Fisik

1.Tanda-tanda  vital

  • Nadi          : 130 X/menit.
  • Respirasi  :  65  X/menit.
  • Suhu axila  :37,7º Celsius.

  1. Kepala

Kepala simetris, tidak ada luka/lesi, kulit kepala bersih, tidak ada benjolan/tumor, tidak ada caput succedanium, tidak ada chepal hematom.

  1. Mata

Simetris, konjungtiva merah muda, sclera putih keabu-abuan, palpebra tidak odema

  1. Hidung

Simetris, bersih, tidak ada luka, tidak ada secret, ada pernafasan cuping hidung.

  1. Mulut

Bibir : simetris, tidak ada bibir dan palatum sumbing, warna pucat, tidak ada chelosis, tidak ada luka.

Lidah : bersih, tidak glositis, warna  marah jambu.

Gusi : warna merah jambu, tidak gingivitis.

  1. Leher

Simetris,  tidak ada pembesaran tyroid / vena jugularis / kelenjar limfe, tidak ada webbed neck.

  1. Dada

Simetris, bunyi jantung teratur dan jelas, tidak ada ronchi/wheezing/mur-mur.

  1. Abdomen

Simetris, tidak ada luka pada umbilikal, tidak ada odema, tidak ada tanda-tanda infeksi pada tali pusat  tidak ada hepotomegali.

  1. Anogetalia

Bersih, 2 buah testis sudah turun diskrotum, tidak ada kelainan pada genetalia, dan teraba lubang anus.

10.  Ektrimitas atas dan bawah

Kanan dan kiri simetris, tidak ada odema, tidak ada lesi/ luka, tidak ada gangguan pergerakan, tidak ada polidaktil / sindaktil.

11.  Punggung

Simetris, bersih tidak ada luka/lesi, tidak ada spina bifida.

12.  Pemeriksaan Reflek

  1. Suching +
  2. Rooting +
  3. Moro +
  4. Grip +
  5. Plantar +

13.  Status Gizi

  1. Sebelum sakit
    1. BB :3000 gram
    2. PB: 50 cm
    3. LD: 34 cm
    4. LK: 34 cm
    5. Selama sakit
      1. BB :2980 gram
      2. PB: 50 cm
      3. LD: 34 cm
      4. LK: 34 cm

  1. Pemeriksaan penunjang

v  Tidak dilakukan

  1. Kesimpulan

Bayi Fatur dengan hypertermi dengan ciri-ciri, sbb :

  • Suhu axila         : 37,7º celcius
  • Pernafasan bayi : 65 X /menit
  • Selama sakit belum berkemih.
  • Ada pernafasan cuping hidung

II   IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH

DATA DASAR DIAGNOSA

v  DS :  Ibu cemas karena sejak ± 2 jam yang lalu bayinya gelisah terus dan badannya  panas setelah di jemur selama 25 menit pada pagi hari tadi.

v   DO  :

TTV :

  1. Nadi            : 130 X/menit.
  2. Respirasi     : 60 X/menit.
  3. Suhu axsila  :37,7º C

Pemeriksaan Fisik :

  1. Suhu axila         : 37,7º C
  2. Pernafasan bayi : 65 X /menit.
  3. Ada pernafasan cuping hidung.

Diagnosa: Hypertermi

DATA DASAR

v  DS: Ibu mengatakan bahwa sejak kemarin siang bayinya gelisah terus dan badannya panas setelah di jemur pada pagi hari, klien tampak gelisah dengan keadaan bayinya.

v  DO:

  • Klien tampak gelisah dengan  keadaan bayinya.
  • Ibu sering bertanya-tanya dengan keadaan bayinya.
MASALAH

Masalah : cemas

III.    IDENTIFIKASI DIAGOSA DAN MASALAH POTENSIAL

v  Dehidrasi, hypoksia

  1. IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YG MEMERLUKAN TINDAKAN SEGERA

v  Tidak ada

  1. V. VI. VII. INTERVENSI, IMPLEMENTASI, DAN EVALUASI
DX / Masalah Tujuan / Kriteria keberhasilan Intervensi
Diagnosa

Hypertermi

Tujuan:

  1. Hypertermi  yang diderita klien hilang.

Kriteria keberhasilan

  1. Suhu tubuh menjadi normal yaitu 36,5-37,3º celcius  ( suhu axsila ).
  2. Pernafasan kembali normal yaitu 40-60 X/menit.
  3. Frekuensi urine kembali normal yaitu   5-6X / sehari warna kuning jernih.

  1. BHSP

Rasional : Hal ini dapat menumbuhkan rasa saling percaya sehingga mempermudah tindakan medis.

  1. Pindahkan bayi dalam ruangan dengan suhu ruangan Yang lebih sejuk.

Rasional : Dengan  berada dalam ruangan dengan suhu yang lebih sejuk dapat  mempercepat respon hipotalamus dalam menurunkan panas tubuh.

  1. Kompres hangat bayi.

Rasional :  Dengan  memberikan kompres panas akan membantu mempercepat respon hipotalamus untuk menghentikan produksi panas.

  1. Beri HE tentang cara menjemur bayi yang baik.

Rasional : Dengan mengerti cara menjemur yang baik maka bayi akan  terhindar pajanan sinar matahari yang terlalu lama.

  1. Anjurkan untuk memberikan ASI.

Rasional : Agar bayi mendapat asupan gizi yang baik.

  1. Cegah terjadinya dehidrasi.

Rasional : Dengan mencegah terjadinya dehidrasi dapat mengurangi resiko terjadi komplikasi yang lebih lanjut.

Implementasi


Dilakukan pada Sabtu 20 September 2008 pukul  10.00 Wib

  1. Membina hubungan saling percaya antara klien / keluarga dengan petugas kesehatan.

  1. Memindahakan bayi pada ruangan yang lebih sejuk yaitu pada suhu antara 26º – 28º Celcius hingga suhu bayi kembali normal.

  1. Mengkompres bayi dengan kain basah  hangat hingga  panas menurun dan suhu menjadi normal.

  1. Memberikan informasi dan  edukasi tentang cara menjemur bati yang efektif yaitu :
    1. Jemur bayi  pada waktu yang paling efektif yaitu pada pukul 07.00- 08.00 Wib dan pada pukul 15.00 -16.00 Wib selama ± 15 menit.
    2. Ingat jaga agar mata bayi terhindar dari pancaran langsung sinar matahari karena hal ini dapat merusak  lensa mata bayi.
    3. Usahakan agar seluruh tubuh bayi mendapat  pancaran sinar. Dengan cara  membolak – balik tubuh  terutama pada bagian punggungnya.
    4. Jaga agar bayi tidak kediginan.
    5. Menganjurkan ibu untuk sesering mungkin memberikan ASI  kepada bayinya .
    6. Mencegah terjadinya dehidarsi dengan sesegera mungkin memberikan ASI pada bayinya.

Evaluasi

Dilakukan pada hari Sabtu 20 September 2008 pukul 11.00 Wib.

S :  Ibu mengatakan bahwa ia telah mengerti tentang keadaan anaknya. Ibu mau untuk melaksanakan semua nasihat- nasihat  dan anjuran yang telah diberikan oleh bidan.

O :

v  Suhu tubuh bayi sudah menurun menjadi 37,3º celcius

v  Ibu dapat mengulangi semua penjelasan yang telah diberikan dengan baik dan lancar

A : Masalah teratasi sebagian

P:  Rencana di lanjutkan di rumah

1)      Anjurkan pada ibu untuk selalu menjemur bayinya dengan cara-cara yang efektif.

2)      Anjurkan pada ibu untuk datang 3 hari atau sewaktu-waktu bila suhu tubuh bayinya meningkat lagi.






DX/Masalah Tujuan/ Kreteria keberhasilan Intervensi
Masalah: Cemas Tujuan :

  1. Cemas teratasi

Kriteria beberhasilan :

  1. Klien tampak tenang
  2. Ibu  paham dan mengerti tentang penjelasan yang telah diberikan.
  3. BHSP
Rasional : Hal ini dapat menumbuhkan rasa saling percaya sehingga mempermudah tindakan medis.

  1. Segera lakukan pemeriksaan dan tindakan untuk mengatasi peningkatan suhu tubuh pada bayi

Rasional : Dengan segera melalukan pemeriksaan dapat segera  diketahui penyebab dari peningkatan suhu bayi dan terapinya.

  1. Jelaskan penyebab dari peningkatan suhu

Rasional: dengan mengerti penyebab dari peningkatan suhu tubuh bayinya ibu akan merasa lebih tenang.

Implementasi Evaluasi

Dilakukan pada hari Sabtu 20 September 2008 pukul 10.25 wib

  1. Membina hubungan saling percaya antara klien/keluarga dengan petugas kesehatan

  1. Melakukan anamesa dan pemeriksaan fisik pada bayi serta segera melakukan tindakan yaitu dengan cara memindahkan bayi pada ruangan yang lebih dingin suhunya (26º-28C) serta memberikan kompres hangat.

  1. Menjelaskan penyebab dari peningkatan suhu bayi yaitu karena proses penjemuran yang terlalau lama.

Dilakukan pada hari Sabtu 20 September 2008 pukul 11.05

S : Ibu mengatakan bahwa ia telah mengerti penyebab peningkatan suhu bayinya. Ia juga telah merasa tenang dengan keadaan bayinya.

O :

v  Ibu dapat mengulangi semua penjelasan yang telah diberikan dengan baik dan lancar.

v  Ibu tampak lebih tenang dan tidak bertanya-tanya lagi.

A : Masalah teratasi

P :

v  Anjurkan pada ibu untuk datang 3 hari atau sewaktu-waktu bila suhu tubuh bayinya meningkat lagi.

GIZI Balita

Posted in Uncategorized on Februari 25, 2010 by cyntaa

GIZI  BALITA dan ANAK

Usia balita dikatakan sebagai periode laten, karena pertumbuhan fisik sudah tidak sedramatis ketika masih berstatus bayi tetapi aktifitasnya lebih banyak. Karakteristik pertumbuhan dan perkembangan selama masa kanak-kanak adalah laju pertumbuhan yang menurun drastis pada usia satu tahun dan berlanjut secara tidak teratur selama masa kanak-kanak.

Berat badan baku pada anak dapat mengacu pada baku BB dan TB dari WHO/NCHS, atau rumus perkiraan BB anak :

BB anak usia 1-6 tahun = [usia x 2 + 8]

USIA (th) BB (kg)
1 10
2 12
3 14

Masa balita merupakan masa pertumbuhan sehingga memerlukan gizi yang baik. Apabila gizinya buruk maka akan mengganggu kesehatan, perkembangan otaknyapun kurang dan itu akan berpengaruh pada kehidupannya di usia prasekolah maupun sekolah. Bahkan ada yang mengatakan bahwa ”the child is the father of the man”. Sehingga setiap kelainan atau penyimpangan sekecil apapun apabila tidak terdeteksi apalagi tidak ditangani dengan baik, akan mengurangi kualitas sumber daya manusia kelak kemudian hari. Namun pada kenyataannya justru balita merupakan kelompok umur yang paling sering menderita akibat kekurangan gizi.

PRINSIP PEMBERIAN MAKANAN PADA BAYI DAN ANAK

  1. Tinggi energi, protein, vitamin dan mineral
  2. Dapat diterima oleh bayi dan anak dengan baik
  3. Diproduksi setempat dan menggunakan bahan-bahan setempat
  4. Mudah didapat dalam bentuk kering dengan demikian mudah disimpan dan praktis penggunaannya
  5. Ringkas tetapi mempunyai nilai gizi maksimum

Kecukupan gizi balita

Sebagaimana kelompok usia lain yang lebih tua, pemberian makanan pada balita harus memenuhi kebutuhan balita itu yang meliputi kebutuhan kalori serta kebutuhan zat-zat gizi utama yang meliputi 5 komponen dasar, yakni hidrat arang, protein, lemak, vitamin dan mineral. Kesemua zat gizi ini memiliki fungsi masing-masing, serta harus terdapat bersamaan pada suatu waktu.

Energi

Zat gizi yang mengandung energi terdiri dari protein, lemak dan karbohidrat. Dianjurkan supaya jumlah energi yang diperlukan didapatkan dari 50-60% karbohidrat, 25-35% lemak, selebihnya 10-15% protein.

Protein

Disarankan untuk memberi 2,5-3 gr/kg BB. Protein yang diberikan dianggap adekuat jika mengandung semua asam amino esensial dalam jumlah yang cukup, mudah dicerna dan diserap tubuh, serta harus yang berkualitas tinggi seperti protein hewani.

Mineral dan Vitamin

Susu sapi merupakan sumber yang baik bagi beberapa vitamin dan mineral seperti kalsium dan fosfor. Tiap 500-600 ml susu mengandung kurang lebih 0,7-0,8 gram kalsium dan cukup fosfor bagi pembentukan tulang dan gigi. Menu yang setiap harinya mengandung susu, daging, ayam, ikan, telur, sayur, buah dan serealia (nasi, roti, kentang, mi) akan mengandung cukup vitamin dan mineral.

Cairan

Pada umumnya anak sehat memerlukan 1000 – 1500 ml air setiap harinya. Pada keadaan sakit seperti infeksi dengan suhu tubuh tinggi, diare atau muntah masukan cairan harus ditingkatkan untuk menghindari kekurangan cairan (dehidrasi).

MAKANAN SEHAT BAGI BALITA DAN ANAK

Bahan makanan

Beberapa jenis bahan makanan dapat langsung dimakan, misalnya buah-buahan, susu. Namun banyak bahan makanan yang memerlukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dapat dimakan, seperti beras, tepung, minyak, dll

Hidangan makanan

Hidangan merupakan jenis makanan yang disajikan untuk dimakan. Disini peran orang tua harus memutuskan apa yang anaknya harus makan, khususnya pada usia 1-3 tahun karena pada usia ini anak bersifat konsumen pasif dan rentan terhadap penyakit gizi (KKP dan anemia) . Anak harus memutuskan seberapa banyak. Jadi tidak boleh memberlakukan ”habiskan makanan dipiringmu” tetapi ”cobalah sedikit segala makanan”. Sebaliknya pada usia 4-6 tahun anak bersifat konsumen aktif (dapat memilih sendiri makanannya) sehingga pada usia ini orang tua mulai dapat memberikan pendidikan gizi.

Untuk mencukupi kebutuhan zat gizi pada anak yang kurang dapat makan banyak saat jam makan, dapat diberikan kudapan guna memberi tambahan protein, kalori dan nutrisi esensial. Kudapan sebaiknya diberikan minimal 90 menit sebelum makan untuk menghindari pengaruhnya terhadap nafsu makan.

Sedangkan pada anak sekolah, mereka cenderung lebih aktif memilih makanan yang ia sukai. Kebutuhan energinapun lebih besar karena aktifitas fisik lebih banyak dan pertumbuhan lebih cepat terutama penambahan TB. Karena aktifitasnya diluar rumah banyak à lupa waktu makan, sehingga sarapan penting untuk mencegah hipoglikemi.  Dan mulai usia 10-12 tahun:

-       anak laki-laki lebih banyak aktifitas

-       anak perempuan sudah mulai haid

à Protein dan zat besi banyak

PENILAIAN PERTUMBUHAN FISIK PADA BALITA

UKURAN ANTROPOMETRI

Terdiri dari

  • Berat Badan

Merupakan hasil peningkatan atau penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh. Pemantauan BB balita dapat dilihat pada KMS. BB merupakan  yang baik untuk mengetahui status pada balita.

  • Tinggi Badan

Merupakan ukuran antropometrik kedua yang penting. Kenaikan rata-rata TB anak para sekolah adalah 6-8 cm/tahun.

  • Lingkar kepala

Dipakai untuk menafsir volume intracranial, yang dipakai untuk menaksir pertumbuhan otak.

Lingkar kepala bayi baru lahir rata-rata 34 cm. Pada umur 6 bulan rata-rata lingkar kepalanya adalah 44 cm, umur 1 tahun 47 cm, 2 tahun 49 cm, dan dewasa 54 cm.

  • Lingkar Lengan Atas (LILA)

LILA mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang terpengaruh banyak oleh keadaan cairan tubuh dibandingkan dengan BB. LILA dipakai untuk menilai keadaan gizi atau tumbuh kembang pada usia prasekolah. Rata-rata LILA BBL 11 cm, dan menjadi 16 cm pada usia 1 tahun. Selanjutnya tidak banyak berubah selama 1-3 tahun.

  • Lipatan Kulit

Tebalnya lipatan kulit pada daerah trisep dan subskapular merupakan refleksi tumbuh kembang jaringan lemak di bawah kulit yang mencerminkan kecukupan energi.

Contoh makan sehat untuk balita

  • Pagi:

Bubur beras atau roti dioles mentega telur atau ikan susu 1gelas

  • Siang:

Nasi daging ayam ikan telur tahu atau tempe sayur seperti tomat wortel bayam,buah seperti pisang jeruk pepaya apel 1 gelas susu

  • Sore atau malam

Nasi atau roti di oles mentega daging ayam ikan tahu atau tempe sayur mayur buah atau puding 1 gelas susu

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Posted in KEBIDANAN on Februari 23, 2010 by cyntaa

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala – gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi pada 60 – 80% primi gravida dan 40 – 60% multi gravida. Satu diantara seribu kehamilan, gejala – gejala ini menjadi lebih berat

Perasaan mual ini desebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG (Human Chorionic Gonadrotropin) dalam serum. Pengaruh Fisiologik kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Pekerjaan sehari – hari menjadi terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan inilah yang disebut hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologis menentukan berat ringannya penyakit. (Prawirohardjo, 2002)

Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering kita jumpai pada kehamilan muda dan dikemukakan oleh 50 – 70% wanita hamil dalam 16 minggu pertama. Kurang lebih 66% wanita hamil trimester pertama mengalami mual- mual dan 44% mengalami muntah – muntah. Wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum hingga berat badannya sangat turun, turgor kulit berkurang, diuresis berkurang dan timbul asetonuri, keadaan ini disebut hiperemesis gravidarum dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Perbandingan insidensi hiperemesis gravidarum
4 : 1000 kehamilan. (Sastrawinata, 2004)

Diduga 50% sampai 80% ibu hamil mengalami mual dan muntah dan kira – kira 5% dari ibu hamil membutuhkan penanganan untuk penggantian cairan dan koreksi ketidakseimbangan elektrolit. Mual dan muntah khas kehamilan terjadi selama trimester pertama dan paling mudah disebabkan oleh peningkatan jumlah HCG. Mual juga dihubungkan dengan perubahan dalam indra penciuman dan perasaan pada awal kehamilan. (Walsh, 2007)
Hiperemesis gravidarum didefinisikan sebagai vomitus yang berlebihan atau tidak terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atu defisiensi nutrisi, dan kehilangan berat badan. Insiden kondisi ini sekitar 3,5 per 1000 kelahiran. Walaupun kebanyakan kasus hilang dan hilang seiring perjalanan waktu, satu dari setiap 1000 wanita hamil akanmenjalani rawat inap. Hiperemesis gravidarum umumnya hilang dengan sendirinya (self-limiting), tetapi penyembuhan berjalan lambat dan relaps sering umum terjadi. Kondisi sering terjadi diantara wanita primigravida dan cenderung terjadi lagi pada kehamilan berikutnya. (Lowdermilk, 2004)

B. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui definisi hiperemesis gravidarum
2. Untuk mengetahui etiologi hiperemesis gravidarum
3. Untuk mengetahui patofisiologi hiperemesis gravidarum
4. Untuk mengetahui gejala dan tanda hiperemesis gravidarum
5. Untuk mengetahui diagnosis hiperemesis gravidarum
6. Untuk mengetahui pencegahan hiperemesis gravidarum
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan hiperemesis gravidarum

C. Manfaat Penulisan
Diharapkan kepada pembaca terutama mahasisiwi kebidanan untuk mengerti dan memahami tentang hiperemesis gravidarum sehingga dapat melakukan pencegahan dan penatalaksanaan pada ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum.

D. RUMUSAN MASALAH
Wanita hamil yang mengalami mual

E. METODE PENULISAN
Dalam penulisan makalah ini menggunakan metode pustaka.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan sehingga pekerjaan sehari – hari terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. (Arif, 1999)

Hiperemesis gravidarum adalah mual – muntah berlebihan sehingga menimbulkan gangguan aktivitas sehari – hari dan bahkan membahayakan hidupnya. (Manuaba, 2001)

Wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum hingga berat badannya sangat turun, turgor kulit berkurang, diuresis berkurang dan timbul asetonuri, keadaan ini disebut hiperemesis gravidarum. (Sastrawinata, 2004)

Hiperemesis gravidarum adalah vomitus yang berlebihan atau tidak terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atau defisiensi nutrisi, dan kehilangan berat badan. (Lowdermilk, 2004)

Hiperemesis gravidarum adalah suatu keadaan (biasanya pada hamil muda) dimana penderita mengalami mual- muntah yang berlebihan, sedemikian rupa sehingga mengganggu aktivitas dan kesehatan penderita secara keseluruhan. (Achadiat, 2004)

B. Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik, juga tidak ditemukan kelainan biokimia. Perubahan – perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf, disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat – zat lain akibat inanisi. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukan oleh beberapa penulis sebagai berikut :
1. faktor predisposisi :
a. Primigravida
b. Overdistensi rahim : hidramnion, kehamilan ganda, estrogen dan HCG tinggi, mola hidatidosa
2. Faktor organik :
a. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal
b. Perubahan metabolik akibat hamil
c. resistensi yang menurun dari pihak ibu.
d. Alergi
3. faktor psikologis :
a. Rumah tangga yang retak
b. Hamil yang tidak diinginkan
c. takut terhadap kehamilan dan persalinan
d. takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu
e. Kehilangan pekerjaan

C. Patofisiologi
Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik.
1. Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton – asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah.
2. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan karena muntah menyebabkan dehidrasi sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan khlorida darah dan khlorida air kemih turun. Selain itu juga dapat menyebabkan hemokonsentrasi sehingga aliran darah ke jaringan berkurang
3. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal menambah frekuensi muntah – muntah lebih banyak, dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan
4. Selain dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (Sindroma Mallory-Weiss) dengan akibat perdarahan gastro intestinal.

D. Gejala dan Tanda
Batas jelas antara mual yang masih fisiologik dalam kehamilan dengan hiperemesis gravidarum tidak ada, tetapi bila keadaan umum penderita terpengaruh, sebaiknya ini dianggap sebagai hiperemesis gravidarum. Hiperemesis gravidarum menurut berat ringannya gejala dapat dibagi :
1. Tingkatan I
a. Muntah terus menerus sehingga menimbulkan :
1) Dehidrasi : turgor kulit turun
2) Nafsu makan berkurang
3) Berat badan turun
4) Mata cekung dan lidah kering
b. Epigastrium nyeri
karena asam lambung meningkat dan terjadi regurgitasi ke esofagus
c. Nadi meningkat dan tekanan darah turun
d. Frekuensi nadi sekitar 100 kali/menit
e. Tampak lemah dan lemas
2. Tingkatan II
a. Dehidrasi semakin meningkat akibatnya :
1) Turgor kulit makin turun
2) Lidah kering dan kotor
3) Mata tampak cekung dan sedikit ikteris
b. Kardiovaskuler
1) Frekuensi nadi semakin cepat > 100 kali/menit
2) Nadi kecil karena volume darah turun
3) Suhu badan meningkat
4) Tekanan darah turun

c. Liver
1) Fungsi hati terganggu sehingga menimbulkan ikterus
d. Ginjal
Dehidrasi menimbulkan gangguan fungsi ginjal yang yang menyebabkan :
1) Oliguria
2) Anuria
3) Terdapat timbunan benda keton aseton
Aseton dapat tercium dalam hawa pernafasan
e. Kadang – kadang muntah bercampur darah akibat ruptur esofagus dan pecahnya mukosa lambung pada sindrom mallory weiss.
3. Tingkatan III
a. Keadaan umum lebih parah
b. Muntah berhenti
c. Sindrom mallory weiss
d. Keadaan kesadran makin menurun hingga mencapai somnollen atau koma
e. Terdapat ensefalopati werniche :
1) Nistagmus
2) Diplopia
3) Gangguan mental
f. Kardiovaskuler
1) Nadi kecil, tekanan darh menurun, dan temperatur meningkat
g. Gastrointestinal
1) Ikterus semakin berat
2) Terdapat timbunan aseton yang makin tinggi dengan bau yang makin tajam
h. Ginjal
1) Oliguria semakin parah dan menjadi anuria

E. Diagnosis
Diagnosis hiperemesis gravidarum biasanya tidak sukar. Harus ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah terus menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum. Namun demikian harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit pielonefritis, hepatitis, ulkus ventrikuli dan tumor serebri yang dapat pula memberikan gejala muntah.
Hiperemesis gravidarum yang terus menerus dapat menyebabkan kekurangan makanan yang dapat mempengaruhi perkembangan janin, sehingga pengobatan perlu segera diberikan.

E. Pencegahan
Prinsip pencegahan adalah mengobati emesis agar tidak terjadi hiperemesis gravidarum dengan cara :
1. Memberikan penerangan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik
2. Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang – kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan.
3. Menganjurkan mengubah makan sehari – hari dengan makanan dalam jumlah kecil tapi sering
4. Menganjurkan pada waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, erlebih dahulu makan roti kering atau biskuit dengan dengan teh hangat.
5. makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan
6. Makanan seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin
7. Defekasi teratur
8. Menghindari kekurangan karbohidrat merupakan faktor penting, dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.

F. Penatalaksanaan
Apabila dengan cara diatas keluhan dan gejala tidak mengurang maka diperlukan :
1. Obat – obatan
a. Sedativa : phenobarbital
b. Vitamin : Vitamin B1 dan B6 atau B – kompleks
c. Anti histamin : Dramamin, avomin
d. Anti emetik (pada keadan lebih berat) : Disiklomin hidrokhloride atau khlorpromasin
Penanganan hiperemesis gravidarum yang lebih berat perlu dikelola di rumah sakit.
2. Isolasi
a. Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan peredaran udara yang baik.
b. Catat cairan yang keluar masuk.
c. Hanya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam kamar penderita, sampai muntah berhenti dan penderita mau makan.
d. Tidak diberikan makanan/minuman dan selama 24 jam.
Kadang – kadang dengan isolasi saja gejala – gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.
3. Terapi psikologik
a. Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan
b. Hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan
c. Kurangi pekerjaan sera menghilangkan masalah dan konflik
4. Cairan parenteral
a. Cairan yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan glukose 5% dalam cairan fisiologis (2 – 3 liter/hari)
b. Dapat ditambah kalium, dan vitamin(vitamin B kompleks, Vitamin C)
c. Bila kekurangan protein dapat diberikan asam amino secara intravena
d. Bila dalam 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum membaik dapat diberikan minuman dan lambat laun makanan yang tidak cair
Dengan penanganan diatas, pada umumnya gejala – gejala akan berkurang dan keadaan akan bertambah baik
5. Menghentikan kehamilan
Bila pegobatan tidak berhasil, bahkan gejala semakin berat hingga timbul ikterus, delirium, koma, takikardia, anuria, dan perdarahan retina, pertimbangan abortus terapeutik.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.